TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Warga China Korban Banjir Bandang Ngeluh: Pemerintah Hilang!

Warga komplain karena pemerintah lamban kirim bantuan

bendera China (unsplash.com/Yan Ke)

Jakarta, IDN Times - Korban banjir di kota Zhuozhou, China utara, mengeluh karena pemerintah daerah dianggap tidak berbuat banyak untuk membantu mereka. Kota kecil yang terletak kurang dari 80 kilometer selatan Beijing itu mengalami kerusakan berat akibat banjir terparah yang pernah melanda wilayah tersebut.

China utara dilanda hujan ekstrem setelah Topan Doksuri mendarat di provinsi Fujian selatan pada 28 Juli. Bencana tersebut menyebabkan sejumlah kota termasuk Beijing terendam banjir, sedikitnya 60 orang tewas, dan banyak rumah, tanaman, ternak, serta infrastruktur rusak parah.

Pemerintah memprediksi kerugian ekonomi secara langsung dari banjir di daerah Baoding, yang meliputi Zhuozhou, mencapai 2,36 miliar dolar AS (sekitar Rp36 triliun).

"Di tempat lain Anda melihat para pemimpin bergegas ke garis depan dan mengoordinasikan upaya penyelamatan, tetapi di Zhuozhou mereka menghilang," kata seorang warga bermarga Wang, yang terjebak di apartemennya selama tiga hari tanpa listrik, dikutip dari Reuters.

"Kelompok penyelamat tiba dari seluruh China tetapi tidak dapat menemukan siapa pun untuk diajak bekerja sama," tambah dia. 

Baca Juga: Perdana Menteri Jepang dan China Akan Bertemu di Indonesia 

1. Warga terjun ke lapangan untuk memandu tim penyelamat

Warga lainnya bernama Wu Chunlei mengatakan, para penduduk terpaksa memandu regu penyelamat ke daerah pedesaan yang terdampak banjir, karena tidak ada pejabat pemerintah yang hadir.

"Saat itu tidak ada sinyal telepon dan kami tidak bisa menghubungi pejabat setempat. Kami hanya bisa menyelamatkan diri," kata Wu, yang rumah dua lantai dan pabriknya hancur. 

Pada Minggu (6/8/2023), pemerintah daerah Zhuozhou mengatakan, pihaknya telah meluncurkan rencana penyelamatan secepat mungkin. Pemimpin Partai Komunis kota itu berada di garis depan dalam memerangi banjir dan bantuan bencana.

Presiden China Xi Jinping mengeluarkan perintah tertulis untuk upaya penyelamatan besar-besaran pada 1 Agustus. Minggu ini, dia juga mengirim Wakil Perdana Menteri Zhang Guoqing untuk mengunjungi daerah terdampak banjir di China utara, termasuk Zhuozhou.

2. Beberapa warga mengaku tidak menerima peringatan evakuasi

Lebih dari seperenam dari 600 ribu penduduk kota tersebut telah dievakuasi. Beberapa dari mereka, yang memilih tetap tinggal, mengatakan bahwa kurangnya urgensi dari pejabat membuat mereka mengabaikan pemberitahuan evakuasi. Sementara itu, warga lainnya mengatakan mereka tidak menerima peringatan apa pun.

"Kami tidak menerima informasi apa pun," kata seorang tukang kayu bermarga Zhu.

Dia mengatakan, banjir setinggi empat meter telah menyebabkan kerugian hingga lebih dari 41.870 dolar AS (sekitar Rp638 juta).

"Seluruh kerangka baja luar rumah saya hanyut, semua perabot, perkakas, dan mesin saya di lantai bawah hilang. Fondasinya runtuh ke tanah," tambahnya.

Baca Juga: Pemerintah Korut: Warga Wajib Lindungi Foto Dinasti Kim dari Badai

Verified Writer

Fatimah

null

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya