Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AMPG Kutuk Serangan AS-Israel Terhadap Iran, Indonesia Tak Boleh Diam
Ketua Umum PP AMPG, Said Aldi Al Idrus (dok. AMPG)
  • PP AMPG mengecam keras serangan militer gabungan AS-Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan menilai tindakan itu mencederai kedaulatan serta kemanusiaan.
  • Said Aldi Al Idrus menyebut serangan tersebut melanggar hukum internasional dan Piagam PBB, memperingatkan potensi eskalasi konflik global yang mengancam stabilitas ekonomi dan energi dunia.
  • AMPG mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas di forum internasional, mendorong gencatan senjata, serta memperkuat diplomasi melalui OKI dan PBB demi menjaga perdamaian dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG) mengutuk keras serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026).

Ketua Umum PP AMPG, Said Aldi Al Idrus, menyebut serangan tersebut bukan hanya menyasar simbol kepemimpinan sebuah negara berdaulat, tetapi juga menjadi preseden berbahaya dalam tata hubungan internasional. Ia menilai, Indonesia tidak boleh tinggal diam melihat eskalasi konflik yang berpotensi meluas.

1. Cederai kemanusiaan dan Ramadan

Seorang Muslim Syiah memegang foto pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dan mantan pemimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini selama protes anti-AS dan Israel di Srinagar pada 1 Maret 2026. (HABIB NAQASH/AFP)

Said Aldi menegaskan, serangan militer itu mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal dan mengancam fondasi perdamaian dunia. Ia juga menyoroti waktu serangan yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H.

“Serangan ini bukan sekadar operasi militer. Ini tindakan yang mencederai kemanusiaan dan mengancam perdamaian dunia, apalagi dilakukan di bulan yang disucikan umat Islam,” ujar Said Aldi.

Ia turut menyinggung peran Trump dan Netanyahu dalam operasi tersebut. Menurutnya, tindakan militer terbuka yang menewaskan pemimpin negara berdaulat berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Tak hanya itu, Said Aldi menyebut laporan media internasional menunjukkan dampak serangan meluas hingga kawasan strategis di Teheran. Korban sipil dilaporkan berjatuhan dan ribuan warga terpaksa mengungsi.

“Ketika bom dijatuhkan, rakyat sipil yang paling menderita. Anak-anak, perempuan, dan orang tua menjadi korban tragedi kemanusiaan,” tegasnya.

2. Dianggap langgar kedaulatan dan hukum internasional

Kepulan asap membubung setelah serangan rudal di Teheran, Iran pada 1 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

PP AMPG juga menegaskan sikapnya sejalan dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang wajib dihormati. Menurut Said Aldi, tindakan militer sepihak merupakan bentuk pengingkaran terhadap prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Apapun dalihnya, pendekatan bersenjata yang menghilangkan nyawa dan menghancurkan infrastruktur sipil adalah kemunduran peradaban. Dunia harus bergerak ke arah dialog, bukan dominasi militer,” katanya.

Ia mengingatkan, pembunuhan terhadap pemimpin negara melalui serangan terbuka dapat menyeret kekuatan global ke pusaran konflik yang lebih besar, dengan dampak bukan hanya regional, tetapi juga global—termasuk terhadap stabilitas ekonomi dan energi dunia.

3. Serukan peran aktif Indonesia

ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam pernyataannya yang didampingi jajaran pengurus, Said Aldi mendorong pemerintah Indonesia mengambil posisi tegas di forum internasional untuk menyerukan penghentian kekerasan dan mendorong gencatan senjata.

“Indonesia, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, punya tanggung jawab moral untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. Kita tidak boleh diam,” ujarnya.

Ia meminta jalur diplomasi diintensifkan, termasuk melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan PBB, guna mencegah konflik meluas.

Namun demikian, Said Aldi menekankan bahwa kecaman tidak boleh berhenti pada pernyataan moral semata. Dunia, kata dia, harus kembali pada kesadaran bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan membangun perdamaian.

“Jika kekerasan terus dijadikan solusi, maka dunia sedang berjalan mundur,” ujarnya.

Editorial Team