Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Saja yang Dibahas di Hari Pertama Pertemuan Trump-Xi Jinping?
KTT AS-China dimulai, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping saling berjabat tangan. (AFP/Pool/KENNY HOLSTON)
  • Pertemuan Trump dan Xi di Beijing berlangsung penuh simbol diplomatik, membahas hubungan ekonomi, namun belum menghasilkan kesepakatan dagang besar selain komitmen menjaga gencatan perang dagang.
  • Kehadiran Elon Musk, Jensen Huang, dan CEO Boeing menyoroti fokus pada teknologi, AI, serta perdagangan; sementara China disebut setuju membeli 200 pesawat Boeing meski pasar bereaksi negatif.
  • Xi menegaskan isu Taiwan sebagai titik paling sensitif dalam hubungan AS-China dan memperingatkan potensi konflik jika salah ditangani, sembari membuka peluang kerja sama ekonomi lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing berlangsung penuh simbol diplomatik, jamuan megah, serta sederet pesan optimistis mengenai masa depan hubungan dua negara terbesar ekonomi dunia. Namun hingga hari pertama pertemuan berakhir, belum ada kesepakatan dagang besar yang diumumkan.

Trump dan Xi bertemu lebih dari 2 jam di Great Hall of the People pada Kamis (14/4/2026) pagi waktu setempat. Gedung Putih menyebut pembicaraan itu berlangsung sangat produktif, sementara Trump menyebut hubungan AS-China sebagai hubungan ekonomi paling penting di dunia.

Meski begitu, hasil konkret dari pembicaraan masih terbatas pada komitmen menjaga gencatan perang dagang yang sebelumnya dicapai di Korea Selatan Oktober lalu. Kedua negara belum mengumumkan perjanjian struktural baru terkait tarif, investasi, maupun akses teknologi.

Kehadiran para bos perusahaan teknologi dan industri besar Amerika justru menjadi sorotan utama dalam lawatan Trump kali ini. Elon Musk, Jensen Huang dari Nvidia, hingga CEO Boeing Kelly Ortberg ikut dalam delegasi AS, memperlihatkan perdagangan, teknologi, dan investasi menjadi inti utama pertemuan di Beijing.

Xi dalam pertemuan itu juga menegaskan pentingnya stabilitas hubungan kedua negara. “Jika salah ditangani, kedua negara bisa bertabrakan atau bahkan masuk ke dalam konflik,” kata Xi terkait isu Taiwan, dikutip dari BBC, Jumat (15/5/2026).

1. Boyong sejumlah bos teknologi jadi highlight penting lawatan Trump

Presiden AS Donald Trump disambut Presiden China Xi Jinping dan anak-anak berbendera China-AS. (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

Salah satu momen paling banyak diperbincangkan terjadi saat Air Force One mendarat di Beijing. Elon Musk turun lebih dulu dari pesawat kepresidenan, bahkan sebelum sejumlah pejabat tinggi kabinet AS seperti Marco Rubio dan Pete Hegseth.

Kehadiran Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang dianggap sangat simbolis karena keduanya berada di pusat persaingan teknologi AS dan China. Tesla memiliki ketergantungan besar pada pabrik dan pasar China, sementara Nvidia berada di tengah perebutan dominasi akal imitasi atau artificial intelligence (AI).

Nama Huang juga menarik perhatian karena sebelumnya tidak masuk daftar resmi delegasi AS. Hal itu memunculkan spekulasi isu AI dan akses chip semikonduktor menjadi pembahasan penting dalam pertemuan Trump dan Xi.

Trump kemudian mengatakan kepada Fox News, “China akan menginvestasikan ratusan miliar dolar bersama orang-orang itu”, meski tidak menjelaskan lebih rinci mengenai bentuk investasi yang dimaksud.

Selain sektor teknologi, Boeing juga menjadi bagian penting dalam lawatan ini. Trump mengklaim China setuju membeli 200 pesawat Boeing buatan AS. Namun jumlah itu dinilai lebih kecil dari ekspektasi pasar sehingga saham Boeing justru turun lebih dari 4 persen setelah pernyataan Trump disiarkan.

2. Gencatan perang dagang masih dipertahankan

Jabat tangan erat Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di depan bendera AS-China. (AFP/KENNY HOLSTON)

Alih-alih menghasilkan kesepakatan baru, Washington dan Beijing memilih mempertahankan mekanisme gencatan perang dagang yang sudah berjalan sejak Oktober tahun lalu. Dalam kesepakatan sebelumnya, AS menunda kenaikan tarif besar terhadap barang-barang China, sementara Beijing mengurangi pembatasan ekspor rare earth atau mineral tanah jarang ke Amerika.

Gedung Putih menyatakan, kedua pemimpin sepakat membentuk Dewan Perdagangan untuk mengelola hubungan ekonomi kedua negara tanpa harus terus membuka negosiasi tarif baru.

Menteri Keuangan (Menkeu) AS Scott Bessent mengatakan, pembahasan juga mencakup mekanisme baru untuk mendukung investasi di masa depan. Namun pejabat AS mengakui masih banyak pekerjaan teknis yang harus diselesaikan sebelum mekanisme itu benar-benar berjalan.

Di sisi lain, Beijing memberi sinyal akan meningkatkan pembelian produk pertanian dan energi dari AS. Xi juga mengatakan, pintu pasar China akan dibuka lebih luas bagi perusahaan-perusahaan Amerika.

“Pintu China akan terbuka lebih lebar,” kata Xi kepada para pengusaha AS menurut kantor berita Xinhua.

Ia juga menyebut, hubungan kedua negara harus menghasilkan kerja sama saling menguntungkan.

3. Taiwan kembali jadi titik paling sensitif

Bendera Taiwan. (unsplash.com/winstonchen)

Meski pembicaraan perdagangan mendominasi, isu Taiwan kembali menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Washington dan Beijing. Dalam keterangannya, Xi menyebut, Taiwan sebagai isu paling penting dalam hubungan China-AS. Ia memperingatkan, kesalahan penanganan terhadap isu tersebut bisa memicu konflik antara dua negara.

“Pertanyaan Taiwan adalah isu paling penting dalam hubungan China-AS,” ujar Xi, menurut media pemerintah China.

Beijing kini mulai mengaitkan isu Taiwan secara langsung dengan stabilitas hubungan ekonomi kedua negara. Sebelumnya, Taiwan lebih sering ditempatkan sebagai salah satu titik gesekan di luar urusan perdagangan.

Pemerintah China juga tetap menentang dukungan militer AS terhadap Taiwan, termasuk penjualan senjata dan kerja sama teknologi semikonduktor dengan Taipei.

Sementara itu, pemerintahan Trump masih mempertahankan kontrol ekspor chip canggih dan teknologi semikonduktor untuk membatasi akses China terhadap teknologi AI mutakhir.

4. AI, energi, dan Timur Tengah terus menjadi PR besar

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di depan Temple of Heaven di Beijing. (AFP/Pool/BRENDAN SMIALOWSKI)

Selain perdagangan dan Taiwan, isu AI juga menjadi perhatian penting dalam pertemuan kedua negara. Namun hingga akhir hari pertama, belum ada pengumuman besar terkait kerja sama maupun pembatasan AI.

Scott Bessent mengatakan, delegasi kedua negara sedang membahas guardrails atau pagar pengaman untuk pengembangan AI. Menurutnya, AS ingin tetap mempertahankan keunggulan teknologi atas China.

“Apa yang tidak ingin kami lakukan adalah menghambat inovasi,” kata Bessent.

Trump juga datang ke Beijing dengan harapan China dapat membantu meredakan ketegangan perang Iran dan menjaga stabilitas pasar minyak dunia, termasuk arus distribusi energi melalui Selat Hormuz. Meski pembahasan Timur Tengah disebut masuk agenda, rincian hasil diskusi belum diungkap secara detail oleh kedua pihak.

Pada jamuan kenegaraan Kamis malam, Trump bahkan mengundang Xi Jinping untuk datang ke Gedung Putih pada 24 September 2026. Pertemuan lanjutan itu diharapkan bisa menghasilkan terobosan yang belum tercapai dalam KTT Beijing kali ini.

Editorial Team