Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bendera Arab Saudi (unsplash.com/Akhilesh Sharma)
bendera Arab Saudi (unsplash.com/Akhilesh Sharma)

Intinya sih...

  • Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menolak izinkan wilayahnya digunakan untuk serangan militer terhadap Iran

  • Iran sambut baik dukungan negara-negara Islam dan siap merespons tegas setiap serangan AS

  • AS kirimkan armada besar ke Timur Tengah, namun Iran dinilai tidak akan menyerah pada tuntutan AS

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengatakan Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun teritorinya digunakan untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran. Hal ini disampaikannya dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa (27/1/2026), menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

"Pangeran Mohammed bin Salman juga menegaskan dukungan negaranya terhadap setiap upaya yang dapat menyelesaikan perbedaan melalui dialog untuk memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan," demikian laporan Saudi Press Agency (SPA).

Beberapa hari sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) juga mengeluarkan pernyataan serupa, yang menolak mengizinkan wilayah udara atau perairannya digunakan untuk tindakan militer terhadap Iran.

1. Iran sambut baik dukungan negara-negara Islam

Dalam percakapan tersebut, Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara Islam terhadap Iran di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan AS terhadap Teheran.

“Prinsip kebijakan pemerintah Republik Islam Iran didasarkan pada menjaga persatuan dan kohesi etnis dan sekte serta memperkuat solidaritas nasional,” katanya, dikutip dari kantor kepresidenan.

Pezeshkian juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai permusuhan dari AS dan Israel, menuduh kedua negara tersebut melakukan tekanan ekonomi, berupaya memicu konflik dan secara langsung mendukung kerusuhan di Iran.

“Mereka mengira dengan tindakan-tindakan ini, mereka bisa mengubah Iran menjadi seperti Suriah atau Libya, tanpa menyadari bahwa mereka tidak mengetahui realitas, sifat, dan kebesaran rakyat Iran,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Iran siap menerima setiap proses yang mengarah pada perdamaian.

2. AS kirimkan armada besar ke Timur Tengah

Dalam beberapa pekan terakhir, AS telah menyatakan kemungkinan menyerang Iran sebagai respons atas tindakan keras Teheran terhadap para pengunjuk rasa, yang menewaskan ribuan orang. Presiden AS, Donald Trump, bahkan telah mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan tersebut.

Dalam pidatonya di Iowa pada Selasa, Trump kembali mengatakan bahwa armada besar sedang menuju Iran dan ia berharap Teheran akan membuat kesepakatan dengan Washington.

Menanggapi ancaman AS, Iran menyatakan akan merespons dengan tegas setiap serangan terhadap negaranya. Seorang jenderal Iran mengatakan bahwa angkatan udara yang tergabung dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berada pada tingkat kesiapan pertahanan tertinggi dan siap menghancurkan setiap agresi, dikutip dari The National.

3. Iran dinilai tidak akan menyerah pada tuntutan AS

Israel melancarkan gelombang serangan terhadap Iran pada Juni 2025, dengan menargetkan sejumlah pejabat militer senior, ilmuwan nuklir dan juga fasilitas nuklir. AS kemudian ikut bergabung dengan membombardir tiga situs nuklir Iran. Perang selama 12 hari ini terjadi menjelang putaran perundingan yang direncanakan antara AS dan Iran mengenai program nuklir Teheran.

Sejak konflik tersebut, Trump terus mendesak Iran untuk membongkar program nuklirnya dan menghentikan pengayaan uranium. Namun, hingga kini, pembicaraan tersebut belum dilanjutkan.

Ali Vaez, direktur Proyek Iran di International Crisis Group, menilai bahwa kemungkinan Iran menyerah pada tuntutan AS hampir nol.

"Pra pemimpin Iran meyakini bahwa kompromi di bawah tekanan bukan mengurangi masalah, tetapi justru mengundang lebih banyak masalah,” kata Vaez kepada Al Jazeera.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat berdampak pada seluruh kawasan.

“Negara-negara di kawasan sepenuhnya menyadari bahwa setiap pelanggaran keamanan di wilayah ini tidak hanya akan memengaruhi Iran. Ketidakamanan itu menular

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team