AS Kerahkan Armada Besar ke Timur Tengah untuk Awasi Iran

- Armada besar angkatan laut AS dikirim ke Timur Tengah untuk mengawasi Iran setelah gelombang protes dalam negeri.
- Jenderal Iran mengancam serangan terhadap aset militer AS di kawasan, sementara ribuan tewas dalam penumpasan protes di Iran.
- Presiden Trump mengklaim ancaman intervensi militernya berhasil mencegah eksekusi massal terhadap para demonstran yang ditahan di Iran.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengonfirmasi pengerahan armada besar angkatan laut AS menuju Timur Tengah pada Kamis (22/1/2026). Pernyataan itu disampaikan di atas pesawat Air Force One usai Trump menghadiri World Economic Forum di Davos, Swiss, sebagai respons atas meningkatnya ketegangan dengan Teheran.
Pengerahan ini bertujuan untuk mengawasi situasi Iran setelah gelombang protes dalam negeri. Trump menegaskan Washington mengirim banyak kapal untuk berjaga-jaga, meskipun ia berharap tidak perlu menggunakannya.
1. USS Abraham Lincoln bergerak ke kawasan Teluk

Angkatan Laut AS mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali. Dilansir The New Arab, Kapal-kapal tersebut telah meninggalkan wilayah Asia-Pasifik atau Laut China Selatan sejak pekan lalu menuju Timur Tengah.
Selain armada laut, Pentagon mempertimbangkan penempatan sistem pertahanan udara tambahan di kawasan Teluk. Pejabat AS menyebut penambahan ini penting untuk melindungi pangkalan-pangkalan Amerika dari potensi serangan balasan Iran.
"Kami memiliki armada, armada besar yang menuju ke arah sana, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya. Kita lihat saja nanti," ujar Trump kepada awak media, dilansir The Straits Times.
2. Jenderal Iran ancam serang aset militer AS di kawasan

Teheran merespons pergerakan militer Washington dengan peringatan keras. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan pasukan mereka dalam kondisi siaga tempur menghadapi segala bentuk provokasi asing. Komandan IRGC memperingatkan AS dan Israel agar tidak salah perhitungan dan belajar dari kegagalan operasi militer perang 12 hari sebelumnya.
“Korps Garda Revolusi Islam dan Iran tercinta telah siap siaga, lebih siap dari sebelumnya, siap melaksanakan perintah dan tindakan dari panglima tertinggi,” tegas Jenderal Mohammad Pakpour, komandan IRGC.
Pejabat militer senior Iran lainnya, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, menegaskan bahwa pangkalan dan aset militer AS akan menjadi target sah bagi angkatan bersenjata Iran jika Washington nekat menyerang. Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menyuarakan penolakan terhadap intervensi asing demi menjaga stabilitas regional.
3. Ribuan tewas dalam penumpasan protes

Eskalasi terjadi menyusul gelombang protes domestik yang mengguncang kepemimpinan Iran sejak akhir Desember akibat kesulitan ekonomi. Otoritas Iran pada Rabu (21/1/2026) merilis angka resmi korban tewas sebanyak 3.117 orang, di mana 2.427 di antaranya diklaim sebagai martir.
Kelompok hak asasi manusia membantah angka dari pemerintah dan menyebut angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi. Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) mendokumentasikan 4.902 kematian dan 26.541 penangkapan, sementara kelompok lain memperkirakan korban jiwa bisa menembus 20 ribu orang.
Presiden Trump mengklaim ancaman intervensi militernya berhasil mencegah eksekusi massal terhadap para demonstran yang ditahan. Ia menyebut Teheran membatalkan rencana hukuman gantung bagi hampir 840 orang sesaat sebelum eksekusi dilakukan.
Presiden Pezeshkian menuding AS dan Israel sengaja memanas-manasi demonstrasi sebagai bentuk balas dendam atas kegagalan operasi militer sebelumnya. Ia mengakui adanya keluhan publik, tetapi mengklaim adanya perusuh yang ditunggangi pihak asing.


















