Insiden ini terjadi tepat pada 2 September 2020, di mana kala itu, Presiden Mario Abdo Benitez mengumumkan kematian dua orang yang ia sebut sebagai kesuksesan operasi militer melawan EPP. Namun beberapa jam setelahnya dikonfirmasi bahwa korban tewas bukanlah anggota gerilya, melainkan dua anak berusia 11 tahun asal Argentina.
Korban bernama Lilian dan María Carmen Villalba merupakan saudara sepupu yang tinggal dengan neneknya di Misiones, Argentina. Mereka saat itu, pergi ke menghabiskan liburan musim panas di Paraguay bersama orang tuanya yang dituding oleh pemerintah sebagai anggota gerilya EPP.
Sementara salah satu dari anak tersebut mendapat enam tembakan dan satunya mendapat dua tembakan. Bahkan lokasi kejadian itu juga tidak jauh dari Kota Yby Ya’u yang hanya berjarak 100 km dari perbatasan Brasil. Sedangkan dua anak anggota keluarga itu yang bernama Carmen Elisabeth Oviedo Villalba dan Lichita masih hilang hingga kini.
Bahkan 72 jam usai kejadian, pemerintah dan militer awalnya mengatakan dua korban merupakan orang dewasa. Lalu, mereka mengatakan korban adalah anak remaja berusia 14 dan 17 tahun. Namun jasad kedua anak itu sudah dibakar pada hari yang sama ketika mereka tewas dengan dalih untuk mencegah kemungkinan penularan COVID-19.
Hingga adanya otopsi kedua atas permintaan Menlu Argentina, Pemerintah Paraguay tetap tidak mau mengakui bahwa korban adalah anak perempuan berusia 11 tahun, dikutip dari laman Market Research Telecast.