Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS dan Israel Pertimbangkan Operasi Khusus untuk Rebut Uranium Iran
misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)
  • Amerika Serikat dan Israel tengah membahas rencana operasi khusus untuk mengamankan cadangan uranium Iran yang diperkaya tinggi, di tengah berkurangnya pengawasan internasional terhadap fasilitas nuklir negara itu.
  • Dua opsi utama dipertimbangkan: memindahkan seluruh uranium keluar dari Iran atau mengencerkan materialnya di lokasi dengan bantuan pakar nuklir dan pasukan khusus.
  • Presiden Donald Trump membuka peluang pengerahan pasukan darat, meski laporan intelijen AS menilai operasi besar kemungkinan tidak akan menggulingkan rezim Iran sepenuhnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan tengah mendiskusikan pengerahan pasukan khusus ke Iran. Operasi darat ini bertujuan untuk mengamankan cadangan uranium Iran yang telah diperkaya hingga level tinggi. Rencananya, misi baru akan dieksekusi pada tahap akhir perang.

Presiden AS Donald Trump sendiri telah berulang kali menegaskan niatnya untuk mencegah Teheran memiliki senjata nuklir. Operasi ini dinilai semakin dibutuhkan mengingat telah putusnya akses pengawasan internasional terhadap fasilitas nuklir Iran selama hampir sembilan bulan terakhir.

1. Opsi menetralisir atau memindahkan uranium

pasukan Garda Revolusi Iran (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Berdasarkan keterangan pejabat AS, saat ini terdapat dua skenario utama yang sedang dipertimbangkan untuk mengamankan uranium Iran. Opsi pertama adalah mengangkut seluruh uranium keluar dari wilayah Iran. Sementara itu, skenario kedua melibatkan pengerahan pakar nuklir untuk mengencerkan material langsung di tempat.

Misi penuh risiko ini kemungkinan akan memadukan personel militer khusus dengan ilmuwan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Mereka nantinya harus mampu menembus fasilitas nuklir bawah tanah Iran.

Opsi pengerahan personel bersenjata disebut sudah pernah diajukan kepada Trump bahkan sebelum perang pecah. Rencana operasi yang diajukan bentuknya lebih mirip misi khusus berskala kecil, bukan invasi pasukan besar-besaran seperti di Irak.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menyinggung soal urgensi pengamanan material nuklir Iran dalam sebuah sesi pengarahan tertutup di hadapan jajaran anggota Kongres AS.

"Harus ada orang yang masuk ke Iran dan mengambilnya," ujar Rubio, dilansir Axios pada Minggu (8/3/2026).

2. Uranium Iran diperkirakan tertimbun di fasilitas bawah tanah

Direktur IAEA, Rafael Mariano Grossi dan Menlu Iran, Abbas Araghchi. (IAEA Imagebank, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Saat ini, Iran diyakini menyimpan sekitar 450 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga level 60 persen. Angka tersebut memicu kekhawatiran karena dapat dikembangkan menjadi material tingkat senjata nuklir hanya dalam hitungan minggu. Apabila seluruh cadangan itu berhasil dimurnikan hingga 90 persen, volumenya diprediksi cukup untuk memproduksi 11 bom nuklir.

Cadangan uranium Iran diperkirakan disimpan di dalam 16 silinder khusus berukuran tinggi sekitar 91 sentimeter. Setiap tabung penyimpanan ditaksir memiliki bobot mencapai 25 kilogram. Ukurannya yang ringkas justru membuatnya lebih gampang untuk dipindahkan secara sembunyi-sembunyi baik menggunakan kendaraan bermotor atau diangkut menggunakan tangan.

Pejabat intelijen meyakini sebagian besar cadangan uranium itu tersembunyi jauh di dalam terowongan fasilitas nuklir Isfahan. Sisa lainnya diperkirakan masih tersebar di dua situs pengayaan utama, yakni Fordow dan Natanz.

Rentetan serangan udara AS-Israel pada Juni lalu telah menimbun sebagian besar uranium Iran di bawah reruntuhan bangunan dan menghancurkan alat sentrifugalnya. Otoritas Iran sendiri diyakini kesulitan mengakses aset uranium mereka.

3. Trump buka peluang pengerahan pasukan darat

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Saat diwawancarai di Air Force One, Trump menyatakan skenario pengerahan personel darat akan sangat masuk akal dalam kondisi tertentu. Ia bahkan menilai pasukan Iran sudah tidak akan mampu melawan pasukan AS.

"Mungkin suatu saat kita akan melakukannya. Saat ini, kita belum akan melakukannya," kata Trump, dilansir The New Arab.

Di sisi lain, dokumen terbaru yang dirilis Dewan Intelijen Nasional AS memberikan proyeksi yang sedikit berbeda. Laporan tersebut meragukan bahwa operasi darat skala besar sekalipun akan dapat meruntuhkan rezim Iran. Sistem pertahanan militer dan intelijen Iran diyakini masih cukup mampu melakukan perlawanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team