Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
AS Tembakkan Lebih dari 850 Rudal Tomahawk ke Iran dalam Empat Pekan
Rudal jelajah Tomahawk Block IV saat uji coba penerbangan (U.S. Navy derivative work: The High Fin Sperm Whale, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Militer AS menembakkan lebih dari 850 rudal Tomahawk ke Iran dalam empat pekan, memicu kekhawatiran Pentagon soal menipisnya stok dan perlunya peningkatan produksi.
  • Rudal Tomahawk dikenal berjangkauan lebih dari 1.600 km dengan akurasi tinggi, telah digunakan ribuan kali sejak era Perang Dingin hingga operasi terbaru terhadap Iran.
  • Tingginya biaya dan keterbatasan produksi membuat industri pertahanan tertekan, sementara pengeluaran perang AS mencapai puluhan miliar dolar di tengah opsi eskalasi militer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Selama empat pekan konflik berlangsung, militer Amerika Serikat (AS) tercatat telah melepaskan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk ke wilayah Iran. Data yang dikutip dari Washington Post menyebut jumlah itu setara sekitar sembilan kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian tahunan Pentagon.

Penggunaan dalam skala besar ini langsung menyorot kondisi cadangan strategis militer. Analis dari Stimson Center, Kelly Grieco, mengatakan kepada CBS News bahwa Pentagon diperkirakan masih menyimpan sekitar 3.100 unit dalam inventaris. Ia menilai bahwa stok tersebut terus menyusut seiring tingginya intensitas serangan jarak jauh.

1. Lonjakan pemakaian rudal picu kekhawatiran internal Pentagon

Markas Besar Departemen Pertahanan AS, Pentagon (Touch Of Light, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Lonjakan pemakaian rudal memicu kekhawatiran di lingkungan Pentagon terkait keberlanjutan stok. Washington Post melaporkan adanya pembahasan internal untuk segera meningkatkan produksi karena persediaan di kawasan Timur Tengah disebut telah berada di level yang mengkhawatirkan.

Selain itu, laporan TRT World menyoroti insiden pada 28 Februari 2026 ketika sebuah rudal Tomahawk dilaporkan menghantam sekolah perempuan. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 175 warga sipil, mayoritas anak-anak dan staf, sementara hasil penyelidikan resmi dari pihak AS belum diumumkan.

2. Rudal Tomahawk miliki jangkauan jauh dan akurasi tinggi

USS Missouri menembakkan BGM-109 Tomahawk pada tahun 1991. (PH3 Brad Dillon uploaded to en.wikipedia by TomStar81, Public domain, via Wikimedia Commons)

Tomahawk dikenal sebagai rudal jelajah jarak jauh yang diluncurkan dari kapal perang maupun kapal selam Angkatan Laut AS. Senjata ini mampu menjangkau lebih dari 1.600 kilometer dan memiliki tingkat presisi tinggi, termasuk terhadap sasaran yang dilindungi sistem pertahanan udara modern.

Pengembangannya telah berlangsung sejak era Perang Dingin dengan berbagai peningkatan kemampuan. Data Pentagon mencatat uji coba telah dilakukan lebih dari 550 kali, sementara Raytheon menyebut rudal ini digunakan dalam lebih dari 2.300 operasi tempur di berbagai konflik seperti Irak dan Suriah, termasuk dalam operasi terbaru terhadap Iran.

3. Biaya tinggi dan produksi terbatas tekan industri pertahanan

ilustrasi peluncuran rudal (pexels.com/SpaceX)

Dari sisi biaya, satu rudal Tomahawk diperkirakan bernilai sekitar 2,2 juta dolar AS (setara Rp37,3 miliar), dengan beberapa varian melampaui 4 juta dolar AS (setara Rp67,9 miliar). Dokumen militer yang ditinjau Washington Post juga menyebut harga per unit dapat mencapai 3,6 juta dolar AS (setara Rp61,1 miliar) dengan waktu produksi hingga dua tahun, dilansir CBS News.

Tingginya penggunaan munisi ini turut memberi tekanan pada sektor industri pertahanan. Kapasitas produksi maksimum diperkirakan mencapai 2.330 unit per tahun, namun realisasi pengadaan selama ini jauh lebih rendah karena kebutuhan Angkatan Laut hanya puluhan unit per tahun.

Untuk merespons kondisi tersebut, Raytheon atau RTX dilaporkan telah menyepakati peningkatan produksi hingga 1.000 rudal per tahun dalam beberapa tahun ke depan. Meski demikian, peningkatan tersebut disebut belum akan langsung memenuhi kebutuhan dalam konflik yang sedang berlangsung.

4. Biaya perang membengkak di tengah opsi eskalasi militer

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Serangan dalam skala besar ini berlangsung di tengah tingginya biaya perang yang harus ditanggung AS. Perkiraan menyebut pengeluaran pada bulan pertama konflik mencapai 30-40 miliar dolar AS (setara Rp509 triliun hingga Rp679 triliun), dengan lebih dari 11,3 miliar dolar AS (setara Rp191,8 triliun) dihabiskan hanya dalam enam hari awal menurut laporan Pentagon kepada Kongres.

Di sisi lain, Gedung Putih melalui Reuters menyampaikan bahwa stok persenjataan AS masih dinilai mencukupi untuk memenuhi target operasi. Pemerintah juga menegaskan tengah mempercepat produksi munisi guna menjaga kesiapan militer.

Situasi ini berkembang saat AS mempertimbangkan berbagai opsi eskalasi, termasuk kemungkinan pengiriman tambahan pasukan darat. Pada saat yang sama, Iran disebut masih mempertahankan kapasitas militernya, termasuk ancaman rudal dan drone di kawasan Teluk dan Israel, serta dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team