Pangkal permasalahan bermula pada Minggu (17/5/2026), ketika Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengomentari kondisi politik Bolivia melalui akun X miliknya. Ia menyebut unjuk rasa anti-pemerintah di negara tersebut sebagai sebuah pemberontakan dan menawarkan diri menjadi penengah.
"Bolivia sedang mengalami pemberontakan rakyat. Ini adalah tanggapan atas kesombongan geopolitik. Saya bersedia menjadi penengah jika diundang oleh pemerintah Bolivia," kata Presiden Petro, dilansir The Korea Herald.
Pemerintahan Presiden Rodrigo Paz menolak pernyataan tersebut karena dianggap memberikan pandangan yang keliru terhadap situasi di negara mereka.
"Bolivia menilai semua pendapat dari luar yang mengubah fakta kejadian saat ini sebagai tindakan yang tidak pantas," kata perwakilan pemerintah Bolivia.
Kementerian Luar Negeri Bolivia kemudian melayangkan protes resmi terkait masalah ini.
"Perbedaan politik dan sosial di dalam negeri harus diselesaikan melalui jalur hukum yang berlaku di Bolivia, dengan cara yang damai, dan tanpa campur tangan dari negara asing," kata perwakilan Kementerian Luar Negeri Bolivia.
Tiga hari berselang, Bolivia secara resmi menetapkan Duta Besar Kolombia, Elizabeth Garcia, sebagai persona non grata (orang yang tidak diinginkan) dan memberinya batas waktu untuk segera pergi.
"Keputusan ini diambil untuk menjaga kedaulatan negara, mencegah campur tangan pihak asing, dan agar saling menghargai batas antarnegara," kata perwakilan Kementerian Luar Negeri Bolivia.