Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cegah Penyebaran Ebola, AS Perketat Pemeriksaan Bandara dan Tunda Visa
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)
  • WHO menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan global setelah kasus meningkat dan virus menyebar ke Uganda tanpa vaksin resmi yang tersedia.
  • Pemerintah AS memperketat pemeriksaan bandara, menunda layanan visa dari negara terdampak, serta menyiapkan dana bantuan 13 juta dolar AS untuk penanganan dan pelacakan kasus Ebola.
  • Satu warga AS positif terinfeksi Ebola saat bertugas di Kongo dan dipindahkan ke Jerman untuk perawatan, sementara CDC memastikan risiko penularan di AS masih rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) resmi memperketat aturan masuk bagi penumpang pesawat dari negara-negara Afrika yang terdampak wabah Ebola. Bersamaan dengan itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menunda layanan visa untuk sementara waktu mulai Senin (18/5/2026), sebagai langkah antisipasi mencegah masuknya virus ke wilayah AS.

Kebijakan pencegahan ini langsung diterapkan sehari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai status darurat kesehatan global. Keputusan WHO tersebut menjadi sinyal bahwa penanganan wabah ini membutuhkan kerja sama lintas negara agar penyebaran virus dapat segera dihentikan.

1. WHO tetapkan wabah Ebola sebagai darurat kesehatan global

WHO menetapkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada Minggu (17/5/2026) karena penyebaran Ebola di Republik Demokratik Kongo terus bertambah. Kasus serupa juga ditemukan di Uganda, yang berarti penyebaran virus sudah melewati batas negara asalnya.

Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, jenis virus Ebola yang belum memiliki vaksin resmi maupun obat khusus. Hal ini membuat proses penanganan medis menjadi lebih sulit dibandingkan wabah sebelumnya. Hingga Sabtu (16/5/2026), tercatat ada 246 orang yang diduga terinfeksi dan 80 pasien meninggal dunia di Provinsi Ituri, termasuk empat orang tenaga kesehatan.

"Wabah ini menyebar dengan cepat. Saat ini kami sedang meneliti beberapa calon vaksin yang mungkin bisa digunakan untuk keadaan darurat," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

2. AS perketat pemeriksaan di bandara dan batasi layanan visa

CDC mewajibkan seluruh penumpang pesawat dari daerah wabah untuk menjalani pemeriksaan kesehatan saat tiba di bandara AS. Warga negara asing yang pernah mengunjungi Uganda, Republik Demokratik Kongo, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir juga akan dibatasi akses masuknya ke AS.

Sebagai langkah tambahan, Kedutaan Besar AS di Kampala, Uganda, menghentikan layanan visa untuk sementara waktu guna mengurangi risiko penularan dari perjalanan antarnegara. Pemerintah AS juga menyiapkan dana bantuan sebesar 13 juta dolar AS (Rp229,38 miliar) untuk melacak riwayat kontak pasien, melakukan tes laboratorium, dan mengirim petugas medis ke daerah yang paling membutuhkan.

"Saya memperhatikan semua hal yang terjadi, termasuk masalah ini. Namun, saya memperkirakan sejauh ini wabahnya masih terbatas di wilayah Afrika," kata Presiden Trump, dilansir CTV News.

3. Satu warga AS positif Ebola dan dibawa ke Jerman

Di tengah berbagai upaya pencegahan, CDC membenarkan bahwa satu warga negara AS yang bekerja di Republik Demokratik Kongo positif tertular virus Ebola. Warga tersebut terinfeksi saat sedang menjalankan tugas di lapangan. Saat ini, otoritas terkait sedang memindahkan pasien tersebut ke Jerman untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan.

"Pasien tersebut mulai sakit pada akhir pekan lalu dan hasil tesnya menunjukkan positif Ebola pada Minggu malam," kata Manajer Insiden Respons Ebola CDC, Satish Pillai, dilansir Arab News.

CDC juga memulangkan enam staf lainnya untuk pemantauan kesehatan secara berkala. Meski ada temuan kasus pada warga negaranya, CDC menilai tingkat penularan Ebola bagi masyarakat umum di AS masih tergolong rendah.

"Saat ini, CDC menilai risiko bagi masyarakat umum AS masih rendah. Namun, kami akan terus memantau keadaan dan menyesuaikan aturan kesehatan jika ada informasi baru," kata perwakilan CDC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team