Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wabah Ebola Kongo Meluas ke Perkotaan, WHO Tetapkan Darurat Global

Wabah Ebola Kongo Meluas ke Perkotaan, WHO Tetapkan Darurat Global
ilustrasi baju APD (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
  • WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo sebagai darurat kesehatan global setelah virus strain Bundibugyo menyebar cepat ke wilayah perkotaan dan melintasi perbatasan menuju Uganda.
  • Africa CDC bersama WHO membahas strategi penanganan, termasuk kemungkinan penggunaan vaksin Ervebo meski distribusinya diperkirakan butuh waktu hingga dua bulan.
  • Kelompok kemanusiaan seperti MSF dan Palang Merah membantu di lapangan, sementara lemahnya pengawasan serta konflik bersenjata memperburuk penyebaran dan krisis kemanusiaan di Ituri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumpulkan komite darurat berisi pakar internasional pada Selasa (19/5/2026) untuk membahas pilihan vaksin dalam menghadapi wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. Pertemuan itu digelar setelah penyebaran virus terus meningkat di sejumlah wilayah terdampak.

Wabah kali ini dipicu strain Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus yang disetujui secara resmi. Berdasarkan data medis, tingkat kematian strain tersebut tercatat mencapai 50 persen.

Dilansir The Globe and Mail, Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba, menyampaikan jumlah korban tewas diperkirakan telah naik menjadi 131 orang dari 513 kasus suspek. Sebelumnya, laporan resmi mencatat 91 kematian dari 350 kasus yang dicurigai, meski pemerintah masih mendalami apakah seluruh kasus tersebut benar berkaitan dengan Ebola.

1. WHO menetapkan darurat global Ebola

Kantor WHO di Jenewa
Kantor WHO di Jenewa (Yann Forget, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menetapkan wabah Ebola di Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Dalam pidatonya di Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, Swiss, Ghebreyesus menyoroti cepatnya perluasan wabah ke berbagai wilayah. WHO kemudian menegaskan kekhawatiran terhadap situasi tersebut melalui pernyataan Ghebreyesus.

Kekhawatiran itu muncul setelah virus menyebar ke kawasan perkotaan, menewaskan sejumlah tenaga kesehatan, serta melintasi perbatasan menuju Uganda. Di negara tetangga itu, satu pelancong asal Kongo dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi Ebola.

Berdasarkan pemetaan wilayah, pusat wabah berada di Provinsi Ituri yang dikenal sebagai kawasan tambang emas dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan. Tingginya mobilitas penduduk membuat penyebaran virus meluas hingga provinsi lain dalam radius sekitar 200 kilometer.

Sejumlah wilayah yang telah terdampak meliputi Bunia, Goma di North Kivu, Mongbwalu, Nyakunde, dan Butembo. Kawasan tersebut dihuni lebih dari satu juta penduduk, sementara WHO melalui kepala timnya di Kongo, Dr. Anne Ancia, menyatakan pasien pertama dalam wabah ini masih belum berhasil diidentifikasi.

2. Africa CDC mengkaji strategi penanganan wabah

Peneliti menggunakan pipet untuk memindahkan sampel cairan ke tabung kecil di laboratorium dengan peralatan kimia di sekitarnya.
ilustrasi penelitian tentang virus (pexels.com/Martin Lopez)

Bantuan internasional mulai dikirim ke wilayah terdampak melalui pengiriman enam ton perlengkapan medis, termasuk alat pelindung diri (APD), untuk mendukung perlindungan tenaga kesehatan. Direktur Pelaksana Departemen Sains di Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Dr. Mosoka Fallah, mengatakan komite darurat tengah menyiapkan pendekatan terbaik di tengah keterbatasan penanganan medis.

Fallah kemudian menjelaskan fokus pembahasan komite darurat tersebut.

“Ketika Anda memiliki wabah dengan strain yang tidak memiliki tindakan balasan, kami akan memberikan saran tentang pendekatan terbaik yang harus diambil. Kami akan melihat bukti yang kami miliki dan membuat keputusan,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.

Salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah penggunaan vaksin Ervebo produksi perusahaan farmasi Merck. Vaksin itu sebelumnya disetujui untuk strain Zaire, namun sejumlah penelitian pada hewan menunjukkan adanya potensi perlindungan terhadap strain Bundibugyo.

Ancia juga menyampaikan pasokan vaksin tak bisa langsung tersedia meski nantinya mendapat persetujuan penggunaan. Ia mengatakan distribusi vaksin ke lapangan setidaknya membutuhkan waktu hingga dua bulan.

3. Kelompok bantuan menangani krisis Ebola Kongo

ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)
ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)

Kelompok kemanusiaan seperti Dokter Tanpa Batas (MSF) bersama Palang Merah internasional ikut membantu penanganan wabah di lapangan. Di Kota Bunia, seorang dokter asal Amerika Serikat (AS), Peter Stafford, turut terinfeksi Ebola saat merawat pasien di rumah sakit.

Pemerintah Jerman kemudian bersiap menerima Stafford untuk menjalani perawatan intensif setelah adanya permintaan dari otoritas AS. Adapun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengonfirmasi Stafford dinyatakan positif Ebola setelah terpapar ketika bertugas di Kongo.

Virolog dari Institut National de Recherche Biomédicale (INRB), Jean-Jacques Muyembe, menilai lemahnya pengawasan menjadi salah satu penyebab wabah berkembang lebih luas. Ia menyebut adanya celah dalam sistem surveilans membuat penyebaran virus terlambat dikendalikan.

Muyembe juga mengingatkan bahwa 15 dari 17 wabah Ebola yang pernah terjadi di Kongo sebelumnya berhasil diatasi melalui langkah kesehatan dasar, termasuk menghindari kontak dengan cairan tubuh dan menerapkan pemakaman yang aman. Di sisi lain, situasi di Ituri turut dipersulit konflik kelompok bersenjata dan krisis kemanusiaan yang telah memaksa lebih dari 273 ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More