Jakarta, IDN Times - Iran melancarkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Teheran selama lima hari.
Rudal-rudal Iran terlihat melintas di langit Israel dan memicu sirene peringatan di berbagai wilayah, termasuk Tel Aviv. Serangan ini menambah ketegangan di tengah situasi yang sebelumnya sempat mereda.
Sejumlah rumah di wilayah utara Israel dilaporkan mengalami kerusakan akibat puing rudal yang jatuh setelah berhasil diintersepsi sistem pertahanan udara. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa dari serangan tersebut.
Di tengah eskalasi itu, Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan intensif terkait konflik di Timur Tengah.
“Dengan senang hati saya melaporkan Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kami di Timur Tengah,” ujar Trump melalui media sosial Truth Social.
Ia menambahkan, hasil pembicaraan tersebut mendorong keputusan untuk menunda serangan militer terhadap fasilitas energi Iran. “Berdasarkan isi dan nada pembicaraan yang mendalam, rinci, dan konstruktif ini, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari,” lanjutnya.
Pengumuman itu sempat berdampak positif pada pasar global, dengan harga saham menguat dan harga minyak turun ke bawah 100 dolar AS per barel.
Namun, bagaimana sebenarnya fakta konflik ini? Apakah benar Iran dan AS akan menempuh jalur damai?
