Vonis terhadap Lai memicu reaksi cepat dari organisasi hak asasi manusia di seluruh dunia. Amnesty International menyebut hukuman tersebut sebagai serangan berdarah dingin terhadap kebebasan berekspresi.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan vonis ini sebagai penuntutan bermotif politik dan mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan Lai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menanggapi kecaman internasional dengan menyerukan negara lain untuk menahan diri dari membuat pernyataan tidak bertanggung jawab mengenai proses peradilan di Hong Kong dan tidak mencampuri urusan peradilannya.
Para pengamat menilai kasus Lai berpotensi menjadi isu diplomatik antara AS dan China, terutama jika Trump kembali mengangkatnya dalam pertemuan dengan Presiden Xi Jinping.
“Trump kemungkinan akan mengangkat isu ini lagi dalam tawar-menawar dengan Xi,” kata Hung Ho-fung, profesor ekonomi politik di Universitas Johns Hopkins.
Kisah hidup Jimmy Lai kerap dianggap mencerminkan perubahan drastis Hong Kong itu sendiri. Lahir di China daratan, Lai tiba di Hong Kong pada usia 12 tahun dan membangun karier dari buruh pabrik hingga menjadi pengusaha sukses, sebelum mendirikan Apple Daily pada 1995.
Surat kabar tersebut terbit terakhir kali pada Juni 2021 setelah polisi menggerebek kantornya dan membekukan asetnya. Sejak itu, banyak mantan jurnalis Apple Daily meninggalkan Hong Kong.
Menurut Reporters Without Borders, peringkat kebebasan pers Hong Kong merosot tajam dari peringkat 80 pada 2021 menjadi 140 dari 180 negara tahun lalu. Pemerintah Hong Kong menyatakan kasus Lai tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebebasan pers.
Namun Eric Lai, peneliti senior di Georgetown University mengatakan, “Dengan media kritis ditutup dan dikriminalisasi, serta pertukaran terbuka dengan pejabat asing dianggap sebagai kejahatan, akses informasi dan kebebasan bertukar gagasan sangat terancam.”