ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Sejumlah analis meminta publik berhati-hati menyikapi hasil pertemuan tersebut. Mengutip Al Jazeera, Kepala Kebijakan Perdagangan di Hinrich Foundation, Deborah Elms, menilai pengumuman sepihak perlu dicermati sampai ada konfirmasi resmi dari kedua pihak.
“Mengenai pembelian pertanian, saya skeptis terhadap pengumuman apa pun yang telah dibuat oleh satu pihak dan tidak dikonfirmasi oleh pihak lain. Ini terkadang menjadi masalah dalam banyak hubungan, tetapi ini akut di bawah Trump 2, terutama dengan China,” ujar Elms.
Elms juga menyebut tambahan 17 miliar dolar AS (setara Rp300 triliun) tergolong kecil dibandingkan ukuran ekonomi AS yang mencapai 30 triliun dolar AS (setara Rp530 kuadriliun). Dalam wawancara bersama CNBC, Mitra Strategis dan Penasihat Geopolitik di The Bespoke Group, Jacob Shapiro, bahkan menyebut hasil pertemuan itu “mengecewakan”.
Walau begitu, Shapiro memproyeksikan hubungan bilateral kedua negara akan membaik secara bertahap selama masa pemerintahan Trump. Sebagai catatan, perdagangan barang bilateral AS dan China tahun lalu berada di angka 415 miliar dolar AS (setara Rp7.335 triliun), turun tajam dari 690 miliar dolar AS (setara Rp12.196 triliun) pada 2022 akibat perang tarif berkepanjangan.
Trump dan Xi dijadwalkan kembali bertemu di AS pada September mendatang untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut.