Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Intinya sih...

  • Beijing menolak proteksionisme dan mengkhawatirkan pasokan minyak Iran yang murah bagi China.

  • Washington memperluas sanksi perdagangan terhadap Iran dengan tarif 25 persen, termasuk bagi negara mitra dagang utama Iran.

  • Aksi demonstrasi di Iran berujung represi aparat dan sorotan internasional, dengan jumlah korban tewas sulit diverifikasi secara independen.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – China menyatakan akan mengambil langkah balasan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang tetap menjalin perdagangan dengan Iran. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menekan Teheran menyusul tindakan keras aparat terhadap gelombang protes anti-rezim terbesar dalam beberapa waktu terakhir.

Pada Selasa (13/1/2026), juru bicara Kedutaan Besar China di Washington Liu Pengyu menyampaikan Beijing siap melakukan segala upaya guna melindungi hak dan kepentingan sahnya setelah Trump mengisyaratkan perluasan perang dagang global. Sikap serupa disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning yang menegaskan tak ada pihak yang diuntungkan dari perang tarif dan China akan mempertahankan hak serta kepentingan hukumnya secara tegas, dilansir dari Economic Times.

1. Beijing menolak proteksionisme dalam pernyataan resmi

ilustrasi kapal (pexels.com/Thomas Parker)

Pengyu melalui unggahan di platform X menyoroti sikap China terhadap eskalasi kebijakan perdagangan tersebut.

“Perang tarif dan perang dagang tidak memiliki pemenang, dan pemaksaan serta tekanan tidak dapat menyelesaikan masalah. Proteksionisme merugikan kepentingan semua pihak,” katanya, dikutip dari The Guardian.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa ancaman tarif ini berpotensi mengganggu pasokan minyak Iran yang selama ini relatif murah bagi Beijing. Berdasarkan data firma analitik Kpler China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran dengan menyerap 77 persen ekspor minyak negara itu sepanjang 2024.

Pada tahun lalu, volume impor minyak Iran ke China rata-rata mencapai 1,38 juta barel per hari dan menyumbang sekitar 80 persen dari total ekspor minyak Iran. Selain perdagangan energi, investasi langsung ke luar negeri China di Iran secara kumulatif mencapai 4,5 miliar dolar AS (setara Rp75,8 triliun) pada 2024 atau meningkat 14,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

2. Washington memperluas skema sanksi perdagangan terhadap Iran

ilustrasi tarif (pexels.com/Markus Winkler)

Trump menyatakan tarif baru tersebut akan langsung diberlakukan tanpa memerinci kemungkinan pengecualian, termasuk bagi negara yang hanya memperdagangkan barang-barang kemanusiaan seperti obat-obatan.

Sebelumnya, sanksi sekunder AS hanya menargetkan perusahaan yang berbisnis dengan Iran dan menggunakan dolar AS dalam transaksi. Dalam kebijakan terbaru ini, Trump mengubah pendekatan dengan mengenakan tarif 25 persen secara langsung kepada seluruh negara yang melakukan transaksi perdagangan dengan Iran.

Sejumlah mitra dagang utama Iran lainnya mencakup India, Uni Emirat Arab, Jepang, serta Korea Selatan (Korsel). Jepang dan Korsel diketahui baru menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas dengan AS setelah sengketa tarif yang berakhir pada tarif dasar 15 persen, namun kini berpotensi menghadapi persoalan baru.

3. Protes Iran berujung represi aparat dan sorotan internasional

ilustrasi kericuhan saat demo (pexels.com/Joel Santos)

Aksi demonstrasi di Iran pada awalnya dipicu keluhan atas tekanan ekonomi berat sebelum berkembang menjadi seruan terbuka untuk menggulingkan pemerintahan ulama yang telah lama berkuasa. Aparat keamanan merespons dengan penangkapan massal, pemadaman akses internet, serta ancaman hukuman mati bagi peserta demonstrasi. Akibat pembatasan peliputan dan gangguan jaringan, jumlah korban tewas sulit diverifikasi secara independen. Lembaga pemantau Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran mencatat sedikitnya 2 ribu orang meninggal dunia, termasuk 135 korban yang berafiliasi dengan pemerintah.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan asumsi bahwa dunia tengah menyaksikan hari-hari dan pekan-pekan terakhir rezim tersebut. Ia menilai pemerintahan yang hanya bertahan melalui kekerasan pada dasarnya telah mencapai akhir karena rakyat mulai bangkit melawan kekuasaan yang ada.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team