Makin Bahaya, Trump Buka Opsi Intervensi Militer ke Iran

- Trump membuka opsi intervensi militer ke Iran
- Opsi militer dan peringatan Trump terhadap Iran
- Iran klaim siap berdialog walaupun tetap siaga perang
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dilaporkan telah menerima paparan lengkap mengenai berbagai opsi rahasia dan militer yang dapat digunakan Washington terhadap Iran, di tengah eskalasi unjuk rasa anti-pemerintah yang terus memakan korban jiwa. Sebanyak dua pejabat Departemen Pertahanan AS mengatakan kepada CBS News, Gedung Putih kini mempertimbangkan berbagai skenario intervensi.
Menurut sumber tersebut, opsi yang dipresentasikan kepada Trump tidak hanya mencakup serangan militer konvensional jarak jauh, tetapi juga operasi siber hingga kampanye psikologis. Meski serangan rudal jarak jauh tetap menjadi salah satu kemungkinan, para perencana militer AS juga mengkaji cara-cara untuk melumpuhkan struktur komando dan komunikasi Iran tanpa pengerahan pasukan darat.
Langkah ini muncul ketika kelompok hak asasi manusia melaporkan lebih dari 600 demonstran tewas dalam tiga pekan terakhir akibat bentrokan antara massa dan aparat keamanan Iran. Gelombang protes dipicu oleh runtuhnya nilai tukar mata uang rial serta kemarahan publik terhadap pengelolaan ekonomi dan pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah situasi tersebut, Trump pada Senin (12/1/2026) mengumumkan akan mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap barang-barang dari negara mana pun yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.
1. Opsi militer dan peringatan Trump

Sumber-sumber pertahanan AS menyebutkan, Dewan Keamanan Nasional dijadwalkan menggelar pertemuan di Gedung Putih pada Selasa (13/1/2026) untuk membahas langkah selanjutnya terkait Iran. Namun, belum dapat dipastikan apakah Trump akan hadir langsung dalam pertemuan tersebut.
Sebelumnya, Trump menyatakan militer AS tengah mempertimbangkan ‘opsi yang sangat kuat’ jika jumlah korban jiwa akibat aksi unjuk rasa terus bertambah. Dia juga mengklaim para pemimpin Iran telah menghubunginya untuk bernegosiasi, meski menurutnya Washington mungkin harus bertindak sebelum pertemuan itu terjadi.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan seorang pejabat Iran juga telah menghubungi utusan khusus Trump, Steve Witkoff. Namun, dia menilai sikap publik Teheran tidak sejalan dengan pesan yang disampaikan secara tertutup.
"Posisi publik Iran sangat berbeda dengan pesan yang kami terima secara pribadi. Presiden Amerika Serikat tidak takut menggunakan opsi militer jika dan ketika menilai hal itu diperlukan," kata Leavitt, dikutip dari BBC.
2. Iran klaim siap berdialog walaupun tetap siaga perang

Menteri Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan, Tehran terbuka untuk perundingan dengan Washington, namun tetap siap menghadapi perang. Ayatollah Ali Khamenei menuduh Amerika Serikat bertindak ‘menipu’ dan bergantung pada ‘tentara bayaran yang berkhianat’
"Iran adalah bangsa yang kuat, sadar, mengetahui musuh-musuhnya, dan selalu hadir di setiap medan," ujar Khamenei, sembari memuji demonstrasi pro-pemerintah yang digelar Senin (12/1/2026).
Media pemerintah Iran, termasuk kantor berita Fars yang berafiliasi dengan negara, mengklaim Senin malam sebagai ketenangan setelah badai dengan menyebut banyak kota, termasuk Tehran, mengalami malam yang bebas dari kerusuhan. Namun, sejumlah rekaman video dari warga yang mengklaim protes masih berlangsung di berbagai wilayah.
Pemadaman internet nasional yang diterapkan sejak Kamis lalu membuat verifikasi informasi menjadi sangat sulit. Sebagian besar media internasional tidak dapat melaporkan langsung dari dalam Iran.
3. Tarif AS dan tekanan ekonomi Iran

Trump juga mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap negara-negara yang melakukan bisnis dengan Iran, tanpa merinci lebih lanjut negara mana saja yang akan terdampak.
"Perintah ini bersifat final dan mengikat," tulis Trump di platform Truth Social.
Iran yang telah lama berada di bawah sanksi berat AS kini menghadapi inflasi parah dan anjloknya nilai mata uang. Harga pangan dilaporkan melonjak hingga 70 persen, sementara makanan menyumbang sekitar sepertiga dari total impor negara tersebut.
Pembatasan tambahan akibat tarif baru AS berpotensi memperburuk kelangkaan dan kenaikan harga. China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran, disusul Irak, Uni Emirat Arab, Turki, dan India.
Sementara itu, Reza Pahlavi, putra Shah Iran terakhir yang kini hidup di pengasingan di Amerika Serikat, mendesak Trump agar bertindak lebih cepat untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.
"Saya pikir presiden harus mengambil keputusan dalam waktu yang cukup dekat," ujar Pahlavi dalam wawancara dengan CBS News.
Dia menyebut pemerintahan Iran saat ini sedang mencoba menipu dunia dengan berpura-pura siap bernegosiasi kembali.
Pahlavi menggambarkan Trump sebagai sosok yang mengatakan apa yang ia maksud dan melakukan apa yang ia katakan, serta mengerti apa yang dipertaruhkan.
Kelompok hak asasi manusia berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHRNGO), mencatat sedikitnya 648 demonstran tewas, termasuk sembilan anak di bawah usia 18 tahun. Namun, sumber-sumber di dalam Iran menyebut angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Laporan yang belum terverifikasi bahkan menyebut jumlah korban dapat melampaui 6.000 orang.


















