Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Curhat ke Putin, Iran Kritik Pendekatan Negosiasi AS
Menlu Iran Abbas Araghchi (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan). (AFP/POOL/DMITRY LOVETSKY)
  • Iran menyalahkan pendekatan negosiasi Amerika Serikat yang dianggap terlalu menekan dan tidak fleksibel, menyebabkan kebuntuan diplomasi meski ada kemajuan dalam perundingan sebelumnya.
  • Pertemuan Araghchi dan Putin menegaskan penguatan hubungan strategis Iran-Rusia di tengah tekanan Barat, mencerminkan munculnya aliansi geopolitik baru di kawasan Timur Tengah.
  • Iran mengajukan proposal baru melalui Pakistan untuk meredakan krisis di Selat Hormuz, namun Amerika Serikat belum memberikan respons positif karena isu nuklir belum dibahas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
8 April 2026

Gencatan senjata sementara antara pihak-pihak yang berkonflik disepakati, namun berakhir tanpa kejelasan arah diplomasi selanjutnya.

27 April 2026

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg dan menyalahkan Amerika Serikat atas kegagalan perundingan damai di Timur Tengah.

28 April 2026

Pernyataan Araghchi dikutip oleh media internasional, menegaskan bahwa tuntutan berlebihan dari Washington menjadi penyebab gagalnya putaran negosiasi sebelumnya.

kini

Iran mengajukan proposal baru melalui Pakistan untuk menyelesaikan krisis di Selat Hormuz, namun Amerika Serikat belum memberikan respons positif dan masa depan negosiasi tetap tidak pasti.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Iran mengkritik pendekatan negosiasi Amerika Serikat yang dianggap menyebabkan kegagalan perundingan damai terkait konflik di Timur Tengah, serta memperkuat hubungan strategis dengan Rusia melalui pertemuan diplomatik di Saint Petersburg.
  • Who?
    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Amerika Serikat disebut sebagai pihak yang dituding menghambat kemajuan negosiasi, sementara Pakistan dan Oman berperan sebagai mediator.
  • Where?
    Pertemuan berlangsung di Saint Petersburg, Rusia. Sebelumnya Araghchi juga melakukan kunjungan diplomatik ke Oman dan Pakistan dalam rangkaian upaya penyelesaian konflik kawasan Timur Tengah.
  • When?
    Pertemuan antara Abbas Araghchi dan Vladimir Putin terjadi pada Senin, 27 April 2026, dengan pernyataan resmi disampaikan sehari kemudian, Selasa, 28 April 2026.
  • Why?
    Iran menilai tuntutan Amerika Serikat terlalu berlebihan dan tidak fleksibel sehingga menggagalkan kesepakatan damai. Kunjungan ke Rusia dilakukan untuk memperkuat koordinasi menghadapi kebuntuan diplomasi tersebut.
  • How?
    Araghchi menyampaikan kritik langsung kepada Putin mengenai pendekatan AS dan memaparkan proposal baru melalui Pakistan untuk fokus pada stabilitas Selat Hormuz serta penghentian blokade ekonomi oleh Amerika Ser
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Menteri Iran namanya Pak Araghchi pergi ke Rusia dan bicara sama Pak Putin. Ia bilang Amerika bikin susah negosiasi damai karena minta terlalu banyak hal. Sekarang Iran dan Rusia mau kerja sama lebih kuat. Amerika belum suka usul baru dari Iran, jadi perdamaian masih belum jelas dan semua orang masih menunggu apa yang akan terjadi nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah kebuntuan diplomasi, langkah Iran melakukan kunjungan ke Rusia dan mengajukan proposal baru melalui mediator menunjukkan upaya aktif untuk menjaga jalur dialog tetap terbuka. Pertemuan dengan Presiden Putin juga menandai penguatan koordinasi antarnegara, yang dapat menciptakan ruang kerja sama strategis lebih luas dalam menghadapi dinamika konflik kawasan secara konstruktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Amerika Serikat atas kegagalan perundingan damai yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi saat bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg, Senin (27/4/2026), di tengah kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran.

Araghchi menilai pendekatan Amerika Serikat menjadi faktor utama gagalnya putaran negosiasi sebelumnya. Ia menyebut tuntutan yang diajukan Washington dinilai terlalu berlebihan, sehingga menghambat tercapainya kesepakatan yang diharapkan kedua pihak.

“Pendekatan AS, meskipun ada kemajuan, menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” kata Araghchi, dikutip dari AFP, Selasa (28/4/2026).

Kunjungan ke Rusia ini menjadi bagian dari rangkaian diplomasi Iran, setelah sebelumnya Araghchi melakukan perjalanan ke Oman dan Pakistan, dua negara yang berperan sebagai mediator dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan tersebut.

1. Iran kritik pendekatan AS

Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (AFP/Atta Kenare)

Dalam pertemuan dengan Presiden Putin, Araghchi menegaskan, kebuntuan perundingan tidak lepas dari sikap Amerika Serikat yang dinilai tidak fleksibel. Ia menyoroti meskipun terdapat kemajuan dalam proses diplomasi, tuntutan tambahan dari Washington justru memperumit proses negosiasi.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Iran yang sejak awal menolak tekanan dalam perundingan, terutama yang berkaitan dengan isu strategis seperti keamanan dan kedaulatan wilayah. Iran juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus didasarkan pada prinsip kesetaraan dan saling menghormati.

Selain itu, Araghchi menyampaikan bahwa dialog dengan Rusia menjadi momentum penting untuk mengevaluasi situasi terkini. Ia menekankan pentingnya koordinasi antarnegara dalam menghadapi dinamika konflik yang terus berkembang.

“Saya yakin bahwa konsultasi dan koordinasi antara kedua negara hal ini akan sangat penting,” ungkap Araghchi.

Sikap Iran ini muncul di tengah belum adanya kepastian kelanjutan negosiasi tahap kedua, setelah gencatan senjata sementara yang disepakati pada 8 April lalu berakhir tanpa kejelasan arah diplomasi selanjutnya.

2. Rusia-Iran perkuat hubungan strategis

Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi (AFP/Valentin Flauraud)

Pertemuan antara Araghchi dan Putin juga menegaskan kedekatan hubungan bilateral antara Iran dan Rusia di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Kedua pihak dilaporkan menyatakan komitmen untuk memperkuat kerja sama strategis mereka.

Putin bahkan memberikan apresiasi terhadap ketahanan Iran dalam menghadapi tekanan eksternal. Ia memuji rakyat Iran yang dinilai tetap berjuang mempertahankan kedaulatan di tengah situasi perang.

Penguatan hubungan ini menunjukkan bagaimana dinamika konflik turut membentuk aliansi geopolitik baru. Rusia, sebagai salah satu kekuatan global, menjadi mitra penting bagi Iran dalam menghadapi tekanan diplomatik maupun militer dari Barat.

Di sisi lain, kerja sama ini juga memperlihatkan pergeseran keseimbangan kekuatan di kawasan, di mana negara-negara non-Barat mulai memainkan peran lebih aktif dalam proses diplomasi internasional.

3. Negosiasi buntu, proposal baru jadi sorotan

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Michael Vadon)

Di tengah kebuntuan, Iran mengajukan proposal baru melalui Pakistan sebagai mediator. Proposal tersebut berfokus pada penyelesaian krisis di Selat Hormuz dan penghentian blokade yang dilakukan Amerika Serikat.

Langkah ini menunjukkan Iran berupaya mengalihkan fokus negosiasi ke isu yang berdampak langsung pada stabilitas global, terutama terkait jalur perdagangan energi dunia. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global.

Namun, respons dari pihak Amerika Serikat disebut belum sepenuhnya positif. Seorang pejabat AS menyebut Presiden Donald Trump tidak puas dengan proposal tersebut karena tidak mencakup pembahasan terkait program nuklir Iran.

Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan jika Iran ingin melanjutkan pembicaraan, dapat menghubunginya lewat telepon. Pernyataan ini mencerminkan perbedaan pendekatan antara kedua negara dalam membuka jalur komunikasi.

Dengan perbedaan posisi yang masih tajam, masa depan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran menjadi tidak pasti, sementara dinamika konflik terus berkembang dan melibatkan berbagai aktor global.

Editorial Team