Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Khamenei Senior ke Khamenei Junior: Apa yang Akan Berubah?
Mojtaba Khamenei dan putranya pada pawai Hari Kemenangan tanggal 8 Juni 2018 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Mojtaba Khamenei resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran setelah kematian sang ayah akibat serangan udara AS-Israel pada Februari 2026.
  • Berbeda dari ayahnya yang dikenal publik luas, Mojtaba jarang tampil dan tak pernah memegang jabatan formal, namun telah lama berpengaruh di lingkar dalam kekuasaan Iran.
  • Hubungan erat dengan IRGC tetap menjadi fondasi kekuasaannya, sementara sikap politiknya diperkirakan lebih keras dan mendukung pengembangan kemampuan nuklir Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times Iran baru saja mencatat sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya: untuk pertama kalinya sejak Revolusi Islam 1979, seorang putra mewarisi jabatan pemimpin tertinggi dari ayahnya. Mojtaba Khamenei, 56 tahun, kini resmi menjadi Pemimpin Tertinggi ketiga Iran, menggantikan Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Tapi di balik simbolisme dinasti yang kuat itu, ada pertanyaan yang lebih penting: seberapa beda Iran di bawah Mojtaba dibanding era sang ayah? Dan apa yang tetap sama?

1. 1989 vs 2026: Dua suksesi yang sama-sama tak mulus perjalanannya

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran (commons.wikimedia.org/Khamenei.ir)

Dilansir Axios, ketika Ali Khamenei naik ke puncak kekuasaan pada 1989 setelah wafatnya Ayatollah Khomeini, dia bukan kandidat yang diunggulkan. Profil-profil tentang Ali Khamenei menggambarkannya sebagai figur yang "biasa-biasa saja", tidak punya karisma, dukungan rakyat, atau kredensial keagamaan sekuat pendahulunya. Yang lebih krusial, Ali Khamenei saat itu bukan seorang marja', gelar tertinggi ulama yang justru disyaratkan konstitusi Iran sebagai syarat menjadi pemimpin tertinggi. Konstitusi pun harus diubah untuk mengakomodasinya.

Tiga puluh tujuh tahun kemudian, Mojtaba menghadapi masalah yang nyaris identik. Kredensial keagamaannya menjadi perdebatan karena dia hanya seorang hojatoleslam (ulama tingkat menengah) bukan ayatollah. Tapi ayahnya pun bukan ayatollah ketika naik pada 1989, dan hukum diubah untuk mengakomodasinya. Hal serupa bisa saja terjadi untuk Mojtaba.

Bedanya ada pada konteks. Ali Khamenei naik di tengah duka nasional yang relatif damai, setelah kematian alamiah Khomeini. Mojtaba naik di tengah perang aktif, serangan udara asing yang masih berlangsung, dan ancaman langsung dari Israel bahwa dirinya adalah target militer.

2. Rekam jejak yang berbeda jauh, Mojtaba hampir tak pernah terlihat

Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (AFP / Khamenei.ir)

Al Jazeera melansir, Ali Khamenei datang ke kursi pemimpin tertinggi dengan curriculum vitae yang panjang, yaitu dua periode sebagai presiden Iran dari 1981 hingga 1989, anggota Dewan Revolusi, hingga figur kepercayaan Khomeini sejak awal revolusi. Rakyat Iran tahu siapa dia, bagaimana dia berbicara, dan ke mana arah kebijakannya.

Mojtaba adalah kebalikannya. Dia hampir tidak pernah memberi kuliah publik, khotbah Jumat, atau pidato politik, bahkan banyak warga Iran yang belum pernah mendengar suaranya, meski mereka tahu namanya sudah lama disebut-sebut sebagai kandidat penerus. Meski sudah berpuluh tahun berada di lingkar dalam kekuasaan, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal maupun posisi eksekutif atau elektoral apa pun.

Tapi "tidak terlihat" bukan berarti "tidak berpengaruh." Mojtaba menempati peran yang mirip dengan Ahmad Khomeini di era ayahnya, gabungan antara ajudan, orang kepercayaan, penjaga gerbang, dan makelar kekuasaan. Menurut CNN, di balik layar pun pengaruhnya sudah lama dirasakan: dia diduga menjadi arsitek kemenangan Ahmadinejad di pemilu 2005, dan pada 2009 dilaporkan secara langsung mengawasi bagaimana IRGC menghancurkan demonstrasi Green Movement.

3. Satu hal yang mungkin tidak berubah: Hubungan dengan IRGC

Komando Angkatan Laut Angkatan Darat IRGC dan kapal rudal dalam Great Prophet IX Maneuver di wilayah umum Selat Hormuz, Teluk Persia. Tanggal 25–27 Februari 2015 (sayyed shahab-o- din vajedi, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Baik ayah maupun anak sama-sama membangun karier mereka di atas fondasi hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Ali Khamenei mempererat hubungan itu sejak masa kepresidenannya di era Perang Iran-Irak. Mojtaba memulai jalur yang sama sejak muda, bergabung dengan Batalyon Habib IRGC dan bertempur dalam berbagai operasi di Perang Iran-Irak pada 1980-an.

Beberapa rekan seperjuangannya kemudian naik ke posisi puncak di aparat intelijen dan keamanan Iran. Artinya, institusi militer yang paling berkuasa di Iran sudah mengenal Mojtaba secara personal jauh sebelum dia resmi dilantik.

4. Yang mungkin akan berubah: Sikap lebih keras dan ambisi nuklir yang tak lagi ditahan

Mojtaba Khamenei dan putranya pada pawai Hari Kemenangan tanggal 8 Juni 2018 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Jika Ali Khamenei di awal kepemimpinannya sempat dibaca sebagai sosok yang "mungkin lebih moderat" dari Khomeini, sebelum kenyataan membuktikan sebaliknya, Mojtaba tidak punya ruang interpretasi seperti itu. Dalam ideologi politik dan yurisprudensi, Mojtaba dianggap sebagai salah satu figur paling garis keras di kalangan prinsipalis Iran. Para analis umumnya melihatnya lebih mendukung pengembangan senjata nuklir dibanding ayahnya, termasuk mendukung reinterpretasi fatwa almarhum Khamenei yang melarang senjata nuklir.

Mojtaba kini memegang kendali bukan hanya atas militer Iran yang sedang berperang, tapi juga stok uranium yang sudah diperkaya tinggi, yang bisa digunakan untuk membangun senjata nuklir, jika dia memutuskan demikian.

5. 37 tahun kemudian, Iran kembali memilih dengan caranya sendiri

Mojtaba Khamenei dan putranya pada pawai Hari Kemenangan tanggal 8 Juni 2018 (Fars Media Corporation, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Dalam banyak hal, suksesi 2026 mengulang pola 1989: kandidat yang diragukan kredensial teologisnya, konstitusi yang mungkin harus diubah lagi, dan figur yang naik bukan karena popularitas tapi karena jaringan kekuasaan yang sudah dibangun bertahun-tahun. Yang berbeda adalah skalanya. Ali Khamenei naik di masa damai dan punya 37 tahun untuk membuktikan diri. Sedangkan Mojtaba naik di tengah perang, di bawah ancaman pembunuhan, dengan dunia yang memantau setiap langkahnya, dan hampir tanpa rekam jejak publik sebagai modal awal.

Mojtaba bukan taruhan sembarangan. Dia dipilih oleh orang-orang yang sudah mengenalnya puluhan tahun, yang tahu persis jaringannya, ideologinya, dan ke mana arah kebijakannya. Justru di situ letak bahayanya. Bukan karena dia misterius, tapi karena mereka yang memilihnya tahu betul apa yang mereka pilih: pemimpin yang tidak akan mundur, tidak akan bernegosiasi, dan tidak akan memberi AS alasan untuk merasa menang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team