Iran Tak Ragu Memilih Pemimpin yang Dibenci Donald Trump

- Iran resmi memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel.
- Pemilihan ini menegaskan sikap Iran untuk tidak tunduk pada tekanan eksternal, meski Donald Trump terang-terangan menolak dan ingin memengaruhi proses tersebut.
- Setelah Mojtaba terpilih, Trump meredam retorikanya, sementara analis menilai kepemimpinan baru ini berpotensi lebih keras dan memperdalam ketegangan di Timur Tengah.
Jakarta, IDN Times - Pekan ini, Iran menghadapi salah satu momen paling krusial dalam sejarahnya. Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang sudah memegang kendali selama lebih dari tiga dekade, tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel. Di tengah guncangan itu, dunia menahan napas: Siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan di Tehran?
Dan lebih penting lagi, apakah Iran akan melakukannya dengan caranya sendiri, atau di bawah tekanan dari luar? Jawabannya datang pada 8 Maret 2026, ketika Assembly of Experts, badan 88 ulama penentu pemimpin tertinggi Iran, secara resmi memilih Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin yang baru saja gugur. Tanpa kompromi. Tanpa meminta restu siapa pun.
1. Apa yang sebenarnya Trump inginkan?

Sebelum nama Mojtaba resmi naik, Trump sudah bergerak. Dalam wawancara dengan ABC News dan Axios, dia terang-terangan menyatakan ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran, membandingkannya dengan apa yang dia lakukan di Venezuela, di mana AS mendorong figur yang lebih kooperatif ke kursi kekuasaan setelah Maduro ditangkap.
Bagi Trump, ini bukan soal demokrasi. Dia sendiri bilang tidak perlu Iran jadi negara demokratis. Yang dia mau sederhana: pemimpin Teheran yang bersedia damai dengan AS dan Israel, dan berhenti mendanai kelompok bersenjata di kawasan. Tujuannya jangka panjang, supaya konflik ini tidak harus diulang sepuluh tahun lagi.
2. Iran membaca situasi dengan caranya sendiri

Tapi Iran punya logika sendiri. Dilansir Al Jazeera, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, anggota senior Assembly of Experts, secara terbuka menyatakan bahwa calon dipilih berdasarkan pesan mendiang Khamenei: bahwa pemimpin Iran harus "dibenci oleh musuh." Dia bahkan langsung menyebut pernyataan Trump yang menolak Mojtaba sebagai justifikasi: "Bahkan Setan Besar pun sudah menyebut namanya."
Pemilihan Mojtaba dibaca luas sebagai pesan pembangkangan, bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan eksternal, bahkan di tengah situasi militer yang berat sekalipun.
Setelah Mojtaba terpilih, tidak ada lagi pernyataan keras dari Trump

Yang menarik, begitu Mojtaba resmi terpilih, nada Trump berubah drastis. Tidak ada ancaman baru. Tidak ada pernyataan keras. Hanya tiga kata: "We'll see what happens." Itu sinyal penting. Trump tahu batas dari intervensi verbal, setelah keputusan diambil secara resmi, ruang untuk manuver menyempit.
Naiknya Mojtaba bukan sekadar pergantian nama di pucuk kekuasaan, ini adalah deklarasi bahwa Iran tidak berubah arah, meski dihantam dari luar. Para analis memperingatkan bahwa Mojtaba kemungkinan akan lebih keras dari ayahnya, dengan hubungan dekat ke faksi-faksi paling konservatif di dalam negeri.
Israel bahkan sudah mengisyaratkan dia masuk daftar target militer mereka. Di sisi lain, kawasan Timur Tengah kini memasuki babak yang belum pernah terjadi sebelumnya: sebuah negara besar yang baru saja kehilangan pemimpinnya dalam serangan asing, kini dipimpin oleh putra sang pemimpin itu sendiri, dan tampaknya tidak dalam suasana hati untuk bernegosiasi.



















