Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Demi Rekonstruksi Gaza, BoP Desak Negara Anggota Segera Bayar Iuran
Sejumlah bangunan di Jalur Gaza, Palestina, telah hancur akibat diserang oleh pasukan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)
  • Dewan Perdamaian Gaza mendesak negara donor segera mencairkan dana rekonstruksi karena kesenjangan antara komitmen dan realisasi masih besar.
  • Dari total kebutuhan 17 miliar dolar AS, baru 1 persen dana terkumpul karena sebagian besar negara, termasuk AS, belum menyalurkan janji sumbangannya.
  • PBB menyatakan siap bekerja sama dengan BoP dalam upaya membangun kembali Gaza, meski bentuk bantuan yang akan diberikan belum dijelaskan secara rinci.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dewan Perdamaian (BoP) Gaza mendesak negara yang sudah bersedia menyumbang untuk merekonstruksi Gaza agar segera membayar iurannya. Sebab, hingga saat ini, dana yang dibutuhkan BoP untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat serangan Israel masih jauh dari kata cukup. 

“Dewan Perdamaian menggarisbawahi bahwa kesenjangan antara komitmen dan pencairan dana harus segera ditutup. Dana yang telah dikomitmenkan, tetapi belum dicairkan mewakili perbedaan antara kerangka kerja yang hanya ada di atas kertas dan kerangka kerja yang benar-benar memberikan hasil nyata bagi rakyat Gaza,” bunyi pernyataan resmi BoP pada Jumat (15/5/2026) pekan lalu, seperti dikutip Times of Israel, Rabu (20/5/2026). 

1. Dana untuk merekonstruksi Gaza baru terkumpul 1 persen

potret reruntuhan bangunan di Jalur Gaza, Palestina (unsplash.com/Emad El Byed)

BoP menjelaskan, untuk merekonstruksi Gaza, dibutuhkan dana sebesar 17 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp300,6 triliun. Namun, hingga saat ini, realisasi dana yang terkumpul baru mencapai 1 persen dari 17 miliar dolar AS. Ini terjadi karena banyak negara belum mentransfer dana yang sudah mereka janjikan untuk membangun kembali Gaza.

Dalam peresmian BoP pada Februari lalu, ada sekitar lima negara yang bersedia menyumbang untuk merekonstruksi Gaza. Mereka adalah Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan AS sendiri. UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait masing-masing berkomitmen menyumbang sebesar 1 miliar dolar AS atau Rp17,6 triliun. Sementara itu, AS berkomitmen menyumbang lebih besar, yakni sebesar 10 miliar dolar atau Rp176,8 triliun. 

2. BoP sempat membantah mengalami kesulitan dana untuk rekonstruksi Gaza

ilustrasi uang (pexels.com/John Guccione)

Sayangnya, negara-negara tadi hingga kini belum semuanya mengirimkan dana ke BoP untuk membangun kembali Gaza. Apalagi, AS kini juga sedang sibuk dengan perang Iran. Inilah yang membuat BoP kini kesulitan mengumpulkan dana untuk merekonstruksi Gaza. 

Sebetulnya, BoP sempat membantah bahwa mereka sedang mengalami kesulitan dana. Namun, organisasi buatan Presiden Donald Trump itu akhirnya mengakui sedang mengalami paceklik pemasukan dan berpotensi gagal mewujudkan janji untuk membangun kembali Gaza. Pengakuan tersebut mereka sampaikan ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). 

3. PBB siap kerja sama dengan BoP untuk membangun kembali Gaza

potret Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres (flickr.com/U.S. Mission Photo by Eric Bridiers via commons.wikimedia.org/U.S. Mission Photo by Eric Bridiers)

Untuk membangun Gaza yang hancur akibat diserang Israel, BoP sebetulnya tidak sendirian. Sebab, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan akan bekerja sama dengan BoP untuk merekonstruksi Gaza. Namun, tidak dijelaskan bantuan apa yang akan diberikan PBB untuk mewujudkan janji tersebut. Apakah bantuan materi berupa uang atau bantuan non-materi.

“Ada tujuan yang telah ditetapkan dan disetujui oleh Dewan Keamanan. Kami secara aktif bekerja sama dengan struktur yang dibentuk oleh Dewan Perdamaian,” kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Maret lalu dilansir The Strait Times

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team