Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Di Tengah Gencatan Senjata AS, IRGC Tembaki Kapal Tanker di Laut Oman
potret kapal tanker (pexels.com/Sóc Năng Động)
  • Pasukan IRGC menembaki kapal tanker di Laut Oman menggunakan dua kapal bersenjata, dan mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan Amerika Serikat.
  • Serangan terjadi saat AS memperpanjang gencatan senjata dua pekan dengan Iran, sementara Presiden Donald Trump menegaskan blokade Selat Hormuz tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan damai.
  • Negosiasi damai antara AS dan Iran kembali tertunda setelah tahap pertama gagal total karena Iran menolak syarat penghentian program nuklir yang diajukan oleh pihak AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pasukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah menembaki kapal tanker yang sedang berlayar di Laut Oman. Kabar tersebut dilaporkan oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Rabu (22/4/2026). Namun, mereka tidak menjelaskan dari mana kapal itu berasal.

Menurut UKMTO, pasukan IRGC mendekat ke kapal tanker menggunakan dua kapal yang dilengkapi senjata. Tidak lama kemudian, mereka lantas menembaki kapal tersebut.

IRGC sendiri sudah mengakui bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan yang dilakukan ke kapal tanker di Laut Oman. Dalam pernyataannya, mereka menjelaskan bahwa serangan yang dilakukan merupakan upaya untuk bersiap menghadapi serangan terbaru dari Amerika Serikat. 

1. Serangan dilakukan di tengah gencatan senjata AS

ilustrasi gencatan senjata (unsplash.com/Brett Wharton)

Serangan yang dilakukan IRGC terhadap kapal yang berlayar di Laut Oman tadi dilakukan di tengah gencatan senjata AS. AS sendiri resmi memperpanjang gencatan senjata dua pekan dengan Iran pada Selasa (21/4/2026). 

Presiden AS, Donald Trump, dalam sebuah unggahan di Truth Social mengatakan, perpanjangan gencatan senjata bakal dilakukan hingga Iran menyepakati perdamaian dengan negaranya. Gencatan senjata ini seharusnya sudah berakhir pada Rabu.  

Trump menambahkan, dirinya juga akan melanjutkan blokade terhadap Selat Hormuz. Jika Iran sudah sepakat damai dengan AS, baru dirinya akan bersedia untuk kembali membuka selat tersebut.  

2. Negosiasi tahap dua AS dan Iran tertunda lagi

ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Untuk berdamai dengan Iran, AS sebetulnya sudah siap untuk melakukan negosiasi tahap kedua di Islamabad, Pakistan. Wakil Presiden AS, JD Vance, dikabarkan bakal kembali menjadi perwakilan AS dalam negosiasi tersebut. 

Sayangnya, menurut laporan The New York Times, negosiasi damai dengan Iran harus kembali ditunda. AS juga tidak jadi mengirim Vance ke Pakistan. Sebab, Iran dikabarkan masih enggan merespons permintaan AS untuk bernegosiasi. 

Hambatan ini membuat konflik antara AS dan Iran kian alot sehingga perang berpotensi kembali meletus. Terlebih, Trump juga pernah mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar jika mereka tidak mau berunding untuk berdamai dengan Negeri Paman Sam.  

3. Negosiasi tahap pertama AS dan Iran gagal total

ilustrasi kegagalan (pexels.com/Ann H)

Sebelumnya, AS dan Iran sudah menghelat negosiasi damai tahap pertama di Pakistan pada 11 April lalu. Sayangnya, negosiasi yang berjalan selama 21 jam itu berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti.

Dalam pernyataannya, Vance mengatakan, gagalnya negosiasi di Pakistan disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Padahal, jika Iran menyetujui syarat tersebut, kesepakatan perdamaian kemungkinan besar bisa diraih.

Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia, khususnya di Timur Tengah. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team