Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025
Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).

Intinya sih...

  • Tatanan dunia berubah karena distribusi kekuatan global bergeser, rules-based order rapuh, dan institusi multilateral mandek.

  • Dunia mengalami penurunan moral global, belanja militer melonjak, sementara SDGs tertinggal jauh dari target.

  • Ciri-ciri 'Next World Order' mulai terlihat dengan dominasi Barat yang tidak lagi absolut dan masa transisi panjang menuju aturan baru.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengingatkan dunia kini tengah memasuki fase baru yang ia sebut sebagai ‘next world order’. Berbeda dari tatanan global 1945 yang lahir dalam satu momentum besar, Dino mengatakan perubahan kali ini terjadi perlahan, bertahap, dan penuh ketidakpastian.

Dalam pembukaan Conference of Indonesia Foreign Policy (CIFP) 2025, Dino menjelaskan, para pendiri bangsa sudah pernah merasakan momen serupa pada 1945, ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menyerah kepada Sekutu, dan Piagam PBB ditandatangani.

“Indonesia, Pancasila, dan dunia pascaperang lahir bersama-sama dalam perubahan besar itu,” kata Dino di The Kasablanka Hall, Sabtu (29/11/2025).

Namun, menurutnya, tatanan dunia baru saat ini tidak muncul dengan big bang seperti dulu. Pergeseran kekuatan global, hadirnya pemain baru, serta munculnya arsitektur dan koalisi baru menjadikan perubahan ini berjalan seperti slow motion.

Ia menegaskan, masyarakat Indonesia wajib peduli. “Setiap kali dunia berubah, Indonesia selalu terdampak dan menjadi bagian dari perubahan itu,” ujarnya.

Dari kolonialisme abad ke-15, demokratisasi global, hingga krisis finansial 2008 yang membawa Indonesia ke Jalur G20, semuanya terjadi dalam konteks transformasi tatanan dunia. Dino menyebut, generasi muda Indonesia hari ini akan menjadi generasi pertama yang sepenuhnya ‘hidup, bekerja, berkeluarga, dan bernapas’ dalam tatanan dunia berikutnya.

1. Alasan utama tatanan dunia berubah

Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).

Dino memaparkan empat alasan utama kenapa tatanan dunia 1945 tidak lagi memadai. Pertama, distribusi kekuatan global mengalami pergeseran signifikan. Jumlah negara di PBB bertambah dari 51 menjadi 193, kelas menengah global melejit hingga 4 miliar orang, dan BRICS kini menyumbang 40 persen ekonomi dunia dalam, mengalahkan G7.

Kedua, rules-based order yang menjadi fondasi stabilitas global pascaperang semakin rapuh. Menurutnya, selektivitas hukum, standar ganda, dan penerapan aturan yang hanya sesuai kepentingan negara besar membuat kepercayaan internasional anjlok.

“Hipokrisi dan double standard menjadi normal baru,” ujar mantan Duta Besar Indonesia untuk AS tersebut.

Ketiga, banyak institusi multilateral sedang mandek. Dino menyoroti Dewan Keamanan PBB yang kerap lumpuh karena veto negara P5, WTO yang tidak efektif, hingga lembaga kemanusiaan yang kekurangan dana di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik.

2. Dunia bergerak ke arah yang salah

Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).

Selain faktor struktural, Dino mengatakan arah perkembangan dunia juga mengkhawatirkan. Ia menilai moral global sedang merosot: batas antara benar dan salah menjadi kabur, prasangka dan intoleransi meningkat, dan segala sektor kini dipersenjatai, mulai dari perdagangan, energi, teknologi, pendidikan, hingga budaya.

Belanja militer global juga melonjak menjadi 2,7 triliun dolar AS pada 2024, tertinggi sejak Perang Dingin. Eropa saja akan menghabiskan 800 miliar euro dalam empat tahun.

Ironisnya, kata Dino, hanya sebagian kecil angka itu dibutuhkan untuk menghapus kemiskinan atau membiayai adaptasi iklim di negara berkembang.

Sementara itu, target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) jauh tertinggal. “Hanya 17 persen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang on track. Padahal 4 persen belanja militer global cukup untuk menghapus kemiskinan selamanya,” katanya.

3. Ciri-ciri ‘Next World Order’ mulai terlihat

Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).

Meski perubahannya berlangsung perlahan, Dino menyebut beberapa pola baru sudah muncul, salah satunya dominasi Barat tidak lagi absolut. Bukan karena Barat sepenuhnya melemah, tetapi karena banyak negara lain bangkit cepat dalam kekuatan ekonomi, teknologi, dan geopolitik.

Menurutnya, dunia sedang berada dalam masa transisi panjang, di mana aturan lama tidak lagi sepenuhnya relevan, sementara aturan baru belum terbentuk.

“Kita sedang hidup di wilayah abu-abu,” kata Dino, mengutip Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong.

Ia menegaskan, pentingnya Indonesia memahami transisi besar ini, karena sejarah menunjukkan bahwa nasib bangsa selalu terkait dengan perubahan global. “Generasi sekaranglah yang akan menerima efek penuh dari next world order,” seru Dino.

Editorial Team