Melansir The Guardian, aksi protes untuk mendesak Hasina mundur dan menyelenggarakan pemilu baru yang diadakan di bawah pemerintahan sementara yang netral. Akan tetapi, tuntutan itu ditolak dan pemerintah mengumumkan pemilihan umum berikutnya akan berlangsung pada Januari 2024.
Pihak oposisi menuduh bahwa pemilu sebelumnya pada 2014 dan 2018 di Bangladesh dinodai oleh kecurangan Liga Awami dan penargetan terhadap oposisi. Pihak internsional dalam beberapa bulan terakhir telah menyarankan agar pemerintah Bangladesh mengadakan pemilihan yang bebas, adil, dan menyeluruh.
Hasina dari Liga Awami telah memimpin pemerintahan sejak 2009. Pemerintahannya dituduh melakukan berbagai pelanggaran kemanusiaan berat dan penghapusan kebebasan pers, dengan melakukan penangkapan sewenang-wenang.
Khalid Mahmud Chowdhury, seorang menteri kabinet dari Liga Awami, membantah tuduhan bahwa pemerintah telah bertindak sewenang-wenang. Dia mengklaim polisi menembaki pengunjuk rasa hanya setelah massa memicu kekerasan.
"Kader BNP mengancam stabilitas negara dengan membuat kekacauan dan melakukan kekerasan. Jadi, terhadap para aktivis partai yang nakal itu, aparat penegak hukum mengambil tindakan yang dibenarkan secara hukum. Mereka melanggar aturan hukum sehingga mereka menghadapi tindakan hukum," kata Chowdhury. Dia juga membantah bahwa pemerintah telah mencurangi pemilu atau membatasi kebebasan pers.
Yamini Mishra, direktur regional Amnesty International untuk Asia Selatan, mengecam aksi pihak berwenang pada 7 Desember.
“Sangat tidak menghargai kesucian hidup manusia dan mengirimkan pesan mengerikan bahwa mereka yang berani menggunakan hak asasi manusia mereka akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan," kata Mishra.