Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ebola Merebak, Bahrain Tutup Akses dari Kongo, Sudan Selatan, dan Uganda
Penutupan akses (unsplash.com/Joshua Hoehne)
  • Pemerintah Bahrain memberlakukan larangan masuk 30 hari bagi WNA dari Kongo, Sudan Selatan, dan Uganda sebagai langkah pencegahan penyebaran Ebola yang tengah merebak di Afrika Tengah.
  • Wabah Ebola varian Bundibugyo telah menyebabkan ratusan kasus dan puluhan kematian di DRC, Uganda, dan sekitarnya, hingga WHO menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional.
  • Berbagai negara dan organisasi internasional memperketat pengawasan perjalanan serta mengirim bantuan medis, sementara Africa CDC dan WHO memimpin koordinasi tanggap darurat untuk menekan penyebaran virus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kerajaan Bahrain resmi memberlakukan larangan masuk selama 30 hari bagi warga negara asing (WNA) yang melakukan perjalanan dari Republik Demokratik Kongo (DRC), Sudan Selatan, dan Uganda. Kebijakan yang mulai berlaku sejak Selasa (19/5/2026) ini merupakan langkah pencegahan dari otoritas setempat menyusul meluasnya wabah Ebola di kawasan Afrika Tengah.

Aturan yang diterbitkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) Bahrain tersebut mencakup seluruh rute penerbangan dari ketiga negara. Meskipun demikian, warga negara Bahrain yang kembali dari wilayah terdampak tetap diizinkan masuk dengan syarat wajib menjalani pemeriksaan kesehatan secara ketat setibanya di Bandara Internasional Bahrain.

1. Ketentuan dan batas larangan masuk

Larangan masuk ini tidak terbatas pada penumpang penerbangan langsung, tetapi juga berlaku bagi siapa saja yang tercatat pernah berada di ketiga negara tersebut dalam kurun waktu 30 hari sebelum kedatangan di Bahrain. Otoritas setempat menyatakan bahwa kebijakan ini dapat ditinjau ulang secara berkala menyesuaikan dengan perkembangan kasus di lapangan.

"Larangan masuk berlaku bagi penumpang selain warga negara Bahrain yang datang dari Republik Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, dan Republik Uganda melalui semua rute penerbangan mulai hari ini," kata perwakilan Otoritas Penerbangan Sipil Bahrain, dilansir Arab News.

Pihak CAA mengimbau agar semua penumpang mematuhi petunjuk resmi dari otoritas terkait. Pemerintah Bahrain juga menegaskan bahwa daftar negara yang dilarang bisa bertambah sewaktu-waktu apabila status krisis kesehatan di wilayah Afrika Tengah tersebut memburuk.

2. Situasi penyebaran Ebola di Afrika Tengah

Wabah Ebola saat ini disebabkan oleh virus varian Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin atau obat resmi. Hingga Rabu (20/5/2026), tercatat ada hampir 600 kasus suspek dengan 139 angka kematian di wilayah tersebut. Menteri Kesehatan DRC, Samuel Roger Kamba, melaporkan 513 kasus suspek dan 131 pasien meninggal di negaranya. Sementara itu, Uganda mencatat dua kasus penularan dengan satu pasien meninggal dunia di ibu kota Kampala setelah bepergian dari DRC.

"Saya prihatin melihat jangkauan dan kecepatan penyebaran penyakit ini," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir The National.

Penanganan wabah ini diperkirakan akan memakan waktu yang cukup lama. Perwakilan WHO di DRC, Anne Ancia, menyebut bahwa wabah ini kemungkinan tidak akan selesai dalam waktu dua bulan, mengacu pada pengalaman penanganan wabah sebelumnya yang memakan waktu hingga dua tahun.

Proses mitigasi kesehatan di lapangan juga terkendala oleh konflik bersenjata di Provinsi Ituri yang menyebabkan lebih dari 100 ribu warga sipil mengungsi. Atas dasar kondisi tersebut, WHO resmi menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC).

3. Respons internasional terhadap wabah Ebola

Penetapan status darurat oleh WHO mendorong berbagai negara dan organisasi internasional memperketat sistem pengawasan. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan agar warganya tidak bepergian ke tiga negara pusat wabah, sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menambah prosedur pemeriksaan bagi pelaku perjalanan setelah ditemukannya satu kasus positif pada tenaga kesehatan asal AS.

Langkah serupa juga diambil oleh negara-negara di kawasan Teluk, seperti Uni Emirat Arab, yang meningkatkan sistem pemantauan di setiap pintu masuk negara. Di tingkat regional, Africa CDC telah mengaktifkan sistem tanggap darurat untuk menyiapkan pendanaan dan perlengkapan laboratorium guna mencegah penularan ke negara-negara tetangga.

"Ditemukannya virus Ebola jenis Bundibugyo di negara-negara yang saling berdekatan menjadi pengingat bahwa keamanan kesehatan di Afrika adalah tanggung jawab kita bersama," kata Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya.

Ketua Komisi Uni Afrika, Mahmoud Ali Youssouf, juga menyerukan solidaritas benua dengan menyebut bahwa perlindungan nyawa warga Afrika dan keamanan kesehatan tetap menjadi tugas utama bersama. Guna mendukung penanganan medis langsung di lapangan, WHO dilaporkan telah mendistribusikan hampir 12 ton perlengkapan medis darurat dan menerjunkan 35 tenaga ahli kesehatan ke DRC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team