Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Ekuador, Daniel Noboa. (http://www.presidencia.gob.ec/, Public domain, via Wikimedia Commons)
Presiden Ekuador, Daniel Noboa. (http://www.presidencia.gob.ec/, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Ekuador khawatirkan situasi di perbatasan Kolombia

  • Ekuador dan Kolombia bersitegang soal penangkapan Jorge Glas

  • Kolombia tolak kenaikan tarif dari Ekuador

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Ekuador, Daniel Noboa mengumumkan kenaikan tarif impor barang asal Kolombia hingga 30 persen mulai 1 Februari. Penetapan tarif ini didorong oleh ketegangan kedua negara imbas masalah perlawanan kepada penyelundupan narkoba. 

“Kami sudah bekerja sama dengan Kolombia, meskipun adanya defisit perdagangan. Namun, kami mendesak dialog dan tentara kami melanjutkan perlawanan kepada kelompok penyelundup narkoba tanpa adanya kerja sama dari Kolombia,” ungkapnya, dikutip dari EFE, Kamis (22/1/2026). 

Pada Desember, Ekuador sudah menutup hampir seluruh perbatasan Kolombia dan Peru. Langkah ini disebut penting untuk membatasi arus penyelundupan narkoba dari dua negara tetangga Ekuador. 

1. Ekuador khawatirkan situasi di perbatasan Kolombia

ilustrasi bendera Ekuador (pixabay.com/David_Peterson)

Pemerintah Ekuador menyatakan kekhawatiran soal situasi keamanan di perbatasan Kolombia. Menurutnya, pecahan gerilya FARC, Commandos Frontera sudah beroperasi bebas di perbatasan tanpa perlawanan dari tentara Kolombia. 

Pada Mei 2025, terdapat insiden pembunuhan 11 tentara Ekuador di perbatasan. Belasan tentara itu tewas diduga dibunuh oleh kelompok gerilya Kolombia saat mengadakan operasi anti-penambangan ilegal di kawasan Amazon di Ekuador. 

Pada Januari ini, Ekuador juga sudah menyita 2,2 juta ton narkoba dari Kolombia. Narkoba tersebut berhasil ditemukan di beberapa provinsi, seperti Sucumbios, Narino, dan Putumayo. 

2. Ekuador dan Kolombia bersitegang soal penangkapan Jorge Glas

Ilustrasi bendera Kolombia. (Santiago Quintero, CC BY 3.0 , via Wikimedia Commons)

Tensi antara Ekuador dan Kolombia sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Sebab, kedua negara Amerika Selatan itu dipimpin oleh dua presiden dengan ideologi yang sangat bertolak belakang.

Dilansir Colombia One, salah satu penyebab ketegangan adalah dukungan Presiden Kolombia, Gustavo Petro kepada mantan Wakil Presiden Ekuador, Jorge Glas. Petro menyebut, Glas mendapatkan penyiksaan psikologis dan harus dibebaskan dengan alasan kemanusiaan. 

Tak hanya bersitegang dengan Kolombia, Ekuador juga terlibat perselisihan dengan Meksiko. Ketegangan diakibatkan operasi militer Ekuador di Kantor Kedutaan Besar Meksiko di Quito untuk menangkap Glas pada 2024.

3. Kolombia tolak kenaikan tarif dari Ekuador

ilustrasi bendera Kolombia (unsplash.com/gustavo0351)

Menteri Pertambangan dan Energi Kolombia, Edwin Palma mengatakan bahwa keputusan Ekuador adalah agresi ekonomi kepada negaranya. Menurutnya, langkah Quito merusak prinsip integrasi regional. 

Sementara, Presiden Asosiasi Pebisnis Kolombia (ANDI), Bruce Mac Master meminta Ekuador untuk berpikir ulang masalah kenaikan tarif ini. Sebab, tarif ini akan berdampak pada ketidakpastian antara produsen dan konsumen di kedua negara. 

“Kami meminta Ekuador berpikir ulang dan berdialog dengan Kolombia dalam menyelesaikan masalah perbedaan dalam keamanan nasional, sehingga diharapkan ada kerja sama keamanan gabungan,” ujarnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team