Ribuan Demonstran di Kolombia Kecam Ancaman Perluasan Operasi Militer Trump

Bogota mengajukan protes diplomatik kepada Washington
Demonstrasi terjadi di berbagai kota di Amerika Selatan
Petro siap temui Trump usai berbicara lewat telepon
Jakarta, IDN Times - Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota di Kolombia untuk mengecam ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang ingin memperluas operasi militernya ke Kolombia, setelah serangan di Venezuela pada akhir pekan lalu.
Presiden Gustavo Petro menyerukan demonstrasi pada Rabu (7/1/2026), setelah Trump mengindikasikan dukungan gagasan perluasan operasi militer tersebut. Di Cúcuta, sebuah kota yang berbatasan dengan Venezuela, ratusan demonstran mengibarkan bendera kuning, biru, dan merah seraya meneriakkan "Singkirkan orang-orang Amerika!".
"Trump adalah iblis, dia adalah orang yang paling menjijikkan di dunia," kata seorang demonstran berusia 55 tahun bernama Janet Chacón.
Pada Minggu, Trump menyebut Petro sebagai orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke AS. Pemimpin negara adidaya itu juga mengindikasikan keinginannya terhadap intervensi militer ala Venezuela di Kolombia, mengutip The Guardian.
1. Bogota mengajukan protes diplomatik kepada Washington

Kementerian Luar Negeri Kolombia secara resmi melayangkan nota protes diplomatik kepada pemerintah AS. Pihaknya mengatakan bahwa pernyataan Trump telah melanggar prinsip-prinsip dasar yang mengatur hubungan antar negara berdaulat dan merupakan bentuk campur tangan yang tidak semestinya dalam urusan internal Bogota.
"Presiden Republik Kolombia telah terpilih secara sah berdasarkan kehendak kedaulatan rakyat Kolombia. Setiap upaya untuk mendiskreditkannya tidak sesuai dengan hukum internasional dan Piagam PBB," bunyi pernyataan nota protes Kementerian, dikutip dari TCP Bogota.
Kementerian juga mengutip prinsip-prinsip kesetaraan kedaulatan, non-intervensi, dan saling menghormati. Pihaknya mengatakan ancaman atau penggunaan kekerasan antar negara tidak dapat diterima.
"Kolombia adalah negara demokrasi dan berdaulat yang menjalankan kebijakan luar negerinya secara otonom. Kedaulatan, legitimasi kelembagaan, dan kemerdekaan politiknya tidak tunduk pada kondisi eksternal," kata Kementerian.
2. Demonstrasi terjadi di berbagai kota di Amerika Selatan

Para demonstran pada pekan ini turun ke jalan di berbagai kota di Amerika Selatan, termasuk Mexico City, São Paulo, dan Buenos Aires untuk mengecam invasi AS dan kemungkinan serangan lebih lanjut. Tindakan Trump juga membuat para diplomat di kawasan khawatir akan kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap Venezuela.
"Pesan dari rakyat Amerika Latin adalah, Donald Trump, jangan ganggu Amerika Latin. Amerika Latin bukanlah halaman belakang AS," kata seorang anggota parlemen sayap kiri Brasil, Reimont Otoni.
"Ini hanyalah penegasan imperialisme Amerika Utara. Trump ingin menguasai cadangan minyak terbesar di dunia, dan mendominasi Venezuela," tambahnya.
Seorang demonstran di Kolombia bernama Marta Jiménez, mengecam kegagalan komunitas internasional untuk menghentikan Trump. Jiménez memperingatkan bahwa negara Amerika Latin mana pun bisa menjadi target pemimpin AS berikutnya.
3. Petro siap temui Trump usai berbicara lewat telepon

Di tengah aksi protes masyarakat terhadap ancaman Trump, Petro tampaknya mengambil sikap yang tidak begitu agresif setelah berbicara dengan Trump untuk pertama kalinya pada Rabu. Pemimpin Kolombia itu juga mengindikasikan kesediaannya untuk bertemu Trump dengan penjagaan yang ketat.
"Merupakan suatu kehormatan besar untuk berbicara dengan Presiden Kolombia, Gustavo Petro, yang menelepon untuk menjelaskan situasi narkoba dan perbedaan pendapat lain yang telah kita miliki. Saya menghargai telepon dan nadanya, dan berharap dapat bertemu dengannya dalam waktu dekat," tulis Trump di Truth Social, dilansir NPR.
Kepada demonstran di pusat kota Bogotá, Petro mengatakan dirinya berbicara dengan Trump selama kurang lebih satu jam untuk membahas Venezuela dan masalah perdagangan narkoba. Dirinya menjelaskan bahwa politisi Kolombia yang diduga terkait dengan perdagangan narkoba menyesatkan presiden AS tentang rekam jejak Petro yang membuat Trump menentangnya.


















