Jakarta, IDN Times - Greenland semakin sering muncul dalam pembahasan geopolitik global. Wilayah yang selama ini identik dengan es dan populasi kecil itu kini dipandang sebagai titik strategis yang berpengaruh pada keamanan, ekonomi, dan persaingan kekuatan dunia.
Greenland dalam Peta Geopolitik Global: Kenapa Jadi Penting?

Intinya sih...
Arktik mencair, posisi Greenland makin krusialMencairnya es membuka jalur pelayaran baru antara Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
Mineral kritis dan kepentingan ekonomi globalGreenland memiliki cadangan mineral penting untuk industri modern dan rantai pasok masa depan.
Persaingan pengaruh di tengah status politik GreenlandWilayah ini menjadi ruang tarik-menarik kepentingan internasional karena otonomi luasnya di bawah Kerajaan Denmark.
1. Arktik mencair, posisi Greenland makin krusial
Mencairnya es di kawasan Arktik membuka jalur pelayaran baru yang sebelumnya tertutup hampir sepanjang tahun. Dilansir The Guardian melalui kurasi Digg, perubahan ini menjadikan Greenland berada di jalur penting antara Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
Situasi tersebut membuat wilayah ini dipandang sebagai titik strategis dalam persaingan pengaruh, terutama di tengah meningkatnya aktivitas militer dan ekonomi di Arktik. Washington Post juga mencatat bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi ikut menggeser peta geopolitik karena akses ke wilayah yang dulu sulit dijangkau kini terbuka.
2. Mineral kritis dan kepentingan ekonomi global
Greenland menyimpan cadangan mineral penting yang dibutuhkan industri modern. Melansir Anadolu Agency (AA), wilayah ini memiliki sejumlah mineral kritis yang digunakan untuk teknologi energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga industri pertahanan.
Ketergantungan global pada mineral semacam ini membuat Greenland dilihat sebagai bagian penting dari rantai pasok masa depan. Dalam laporan Financial Times, minat terhadap Greenland juga dikaitkan dengan upaya negara-negara Barat mengurangi ketergantungan pada pemasok mineral tertentu dan memperkuat posisi ekonomi strategis mereka.
3. Persaingan pengaruh di tengah status politik Greenland
Secara administratif, Greenland berada di bawah Kerajaan Denmark, namun memiliki otonomi luas. Kondisi ini membuat wilayah tersebut menjadi ruang tarik-menarik kepentingan internasional. Financial Times menyoroti bagaimana pernyataan dan langkah politik Amerika Serikat memicu respons dari Eropa, sekaligus menegaskan bahwa Greenland bukan sekadar isu bilateral.
Di sisi lain, Washington Post melansir bahwa perhatian global terhadap Greenland juga memunculkan perdebatan tentang masa depan politik dan kemandirian wilayah tersebut di tengah tekanan geopolitik.
Greenland kini berdiri di persimpangan antara perubahan iklim, kepentingan ekonomi, dan rivalitas kekuatan besar. Jelas bahwa perhatian dunia terhadap Greenland bukan fenomena sesaat, melainkan bagian dari dinamika geopolitik jangka panjang. Wilayah yang dulu dianggap terpencil ini perlahan berubah menjadi salah satu titik penting dalam perebutan pengaruh global.