Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo.
Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo. (Gobierno de Guatemala, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo mengumumkan berakhirnya masa siaga selama 30 hari

  • Status pencegahan akan diterapkan untuk mempertahankan operasi melawan organisasi kriminal dan membebaskan dari ketakutan

  • Plan Centinel diumumkan untuk memperluas operasi keamanan, namun sejumlah warga Guatemala pilih pindah ke El Salvador karena merasa lebih aman

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Guatemala, Bernardo Arevalo mengungkapkan akhir dari masa siaga selama 30 hari. Menurutnya, krisis keamanan imbas aktivitas geng kriminal Barrio 18 berhasil diredam oleh aparat keamanan. 

“Selama 30 hari status siaga, saya dapat mengatakan strategi ini berhasil dieksekusi dan membuahkan hasil yang bagus,” terangnya, dikutip dari The Tico Times, Selasa (17/2/2026).

Sebelumnya, Guatemala dilanda krisis keamanan usai kerusuhan antargeng dalam penjara. Geng Barrio 18 melancarkan serangan balasan yang menewaskan 11 petugas kepolisian di negara Amerika Tengah tersebut. 

1. Terapkan status pencegahan di Guatemala

Arevalo mengungkapkan bahwa setelah berakhirnya status siaga akan ditetapkan status pencegahan. Dengan ini, presiden dapat menetapkan kebijakan keamanan tanpa menunggu persetujuan dari parlemen selama 15 hari ke depan. 

“Kebijakan baru ini penting untuk mempertahankan operasi mendalam melawan organisasi kriminal. Selain itu, berfungsi mempertahankan kontrol dan membebaskan kita semua dari ketakutan adalah prioritas kami,” ungkapnya. 

Sementara itu, Arevalo menyebut, operasi dalam sebulan terakhir berhasil memutus sistem komunikasi geng di dalam dan di luar penjara. Petugas keamanan berhasil menangkap 83 anggota geng kriminal. 

2. Terapkan Plan Centinel untuk lawan geng kriminal

Pada saat yang sama, Arevalo mengumumkan Plan Centinel untuk memperluas operasi keamanan. Kebijakan ini berupa penerjunan polisi dan tentara untuk mengadakan patroli di sejumlah area metropolitan dengan tingkat kriminalitas tinggi. 

Dilansir Punch News, kasus pembunuhan di Guatemala pada 2025 mencapai 16,1 per 100 ribu penduduk. Namun, jumlah ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan rerata pembunuhan di dunia. Pada periode Januari-Februari 2026, kasus pembunuhan di Guatemala mencapai 253 yang termasuk terendah sejak 2001.

3. Sejumlah warga Guatemala pilih pindah ke El Salvador

Dilansir CNN, sejumlah warga Guatemala kurang optimis dengan bagaimana kebijakan pemerintah. Mereka meminta agar pemerintahan Arevalo dapat bertindak lebih dalam melawan kriminalitas. 

Tak jarang dari warga Guatemala yang memilih pindah ke El Salvador karena merasa jauh lebih aman. Salah seorang warga bernama Jasel Lopez menyebut pemerintah El Salvador berhasil menegakkan keamanan dan menurunkan angka kekerasan secara signifikan. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team