Untuk diketahui pada 12 Mei lalu, Irak telah melakukan pemilhan umum dan dimenangkan oleh aliansi yang dipimpin ulama Syiah yang populis, Moqtada Sadr. Namun sayangnya, kemenangan Moqtada Sadr diwarnai dengan tuduhan kecurangan. Bahkan pada Rabu (6/6/2018), Parlemen Irak meminta penghitungan ulang secara manual pada sekitar 11 juta suara.
Sehari sebelumnya, Selasa (5/6/2018), Perdana Menteri Haider al-Abadi memperingatkan jika badan-badan keamanan memiliki bukti pelanggaran dalam pemilu itu. Dugaan pelanggaran ini muncul karena adanya potensi kesalahan dari mesin penghitungan suara elektronik yang digunakan pertama kali pada pemilu itu.
Masih belum jelas apakah penghitungan ulang akan memengaruhi hasil pemilihan. Namun yang jelas insiden kebakaran ini menjadi perhatian karena suara di distrik timur Baghdad berpotensi lenyap 'dimakan' api.
Dalam pemilihan itu, kelompok nasionalis Moqtada Sadr membentuk aliansi dengan sejumlah partai sekuler. Ia memenangkan 54 dari 328 kursi di parlemen. Sementara Aliansi yang dibentuk Perdana Menteri Irak saat ini, Haider al-Abadi hanya mengantongi 42 kursi dan menempati urutan ketiga.