Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hamas Minta Iran Hentikan Serangan ke Negara Teluk
ilustrasi pasukan bersenjata (unsplash.com/Nathan Gubler)
  • Hamas meminta Iran menghentikan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk, sambil tetap mendukung hak Iran membalas agresi dari AS dan Israel sesuai hukum internasional.
  • Serangan balasan Iran setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei menimbulkan korban di beberapa negara Teluk, meski Iran mengklaim hanya menargetkan instalasi milik AS.
  • Pernyataan Hamas muncul saat gencatan senjata Gaza masih berlaku, dengan negara-negara Teluk berperan dalam mediasi dan komitmen miliaran dolar untuk pemulihan serta perdamaian kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesHamas secara terbuka meminta Iran, sekutu utamanya, agar segera menghentikan serangan drone dan rudal yang diarahkan ke negara-negara Teluk di sekitarnya. Walau demikian, kelompok Palestina itu tetap menegaskan dukungan penuh terhadap hak Iran untuk membalas serangan yang datang dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (14/3/2026), di tengah meningkatnya konflik di kawasan. Hamas mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi perang yang meluas, sekaligus menyapa Iran sebagai saudara dan memohon agar serangan tak lagi diarahkan ke negara tetangga.

"Sambil menegaskan hak Republik Islam Iran untuk menanggapi agresi ini dengan segala cara yang tersedia sesuai dengan norma dan hukum internasional," kata Hamas, dikutip dari Al Jazeera.

1. Hamas mengajak negara kawasan menghentikan agresi

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Hamas juga menyerukan kepada negara-negara di kawasan tersebut serta berbagai organisasi internasional agar bersama-sama menghentikan agresi dan menjaga hubungan persaudaraan antarnegara.

Selama ini Iran dikenal sebagai sumber utama pendanaan, persenjataan, serta dukungan politik bagi Hamas. Kelompok Palestina itu termasuk dalam jaringan poros perlawanan yang dipimpin Iran, yang juga melibatkan Hizbullah di Lebanon dan kelompok Houthi di Yaman, meskipun kekuatan jaringan tersebut kini jauh berkurang. Selain dari Iran, Hamas turut menerima bantuan keuangan serta dukungan politik yang signifikan dari Qatar dan Turki, dua negara yang belakangan ikut terdampak serangan Iran, dilansir dari BBC.

2. Serangan balasan Iran memicu korban di negara Teluk

ilustrasi kawasan Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)

Konflik yang melibatkan Iran bermula setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran. Operasi gabungan kedua negara itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, tindakan yang langsung disebut Hamas sebagai kejahatan keji.

Pemerintah Iran menyatakan serangan balasan mereka hanya menyasar instalasi milik AS di kawasan Teluk, bukan negara-negara Teluk itu sendiri. Namun sejumlah serangan justru mengenai fasilitas milik warga sipil. Sejak konflik pecah, tercatat sedikitnya 18 korban jiwa di kawasan tersebut yang sebagian besar merupakan personel keamanan serta pekerja asing. Korban dilaporkan 6 orang di Uni Emirat Arab (UEA), 6 orang di Kuwait, serta masing-masing dua orang di Oman, Arab Saudi, dan Bahrain.

3. Konflik Gaza berlangsung di tengah gencatan senjata

ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)

Pernyataan Hamas tersebut muncul saat gencatan senjata di Gaza yang didukung AS masih berlaku sejak Oktober 2025. Kesepakatan itu mengakhiri pertempuran lebih dari dua tahun yang dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Operasi militer Israel di Gaza menewaskan lebih dari 72 ribu orang dan melukai lebih dari 171 ribu lainnya menurut data Palestina, sekaligus merusak sebagian besar wilayah Gaza.

Meski gencatan senjata telah berjalan, kedua pihak terus saling menuduh melakukan pelanggaran hampir setiap hari. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza mencatat 649 orang tewas sejak kesepakatan itu diberlakukan, sebagian besar akibat tembakan artileri dan senjata api dari pihak Israel.

Dalam konflik Gaza, negara-negara Teluk terutama Qatar berperan penting dalam proses mediasi bersama AS dan Mesir, sekaligus menyalurkan bantuan diplomatik dan kemanusiaan. Bulan lalu negara-negara Teluk menyatakan komitmen lebih dari 4 miliar dolar AS (setara Rp67,7 triliun) untuk Dewan Perdamaian yang dibentuk Presiden AS Donald Trump guna menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Komitmen itu mencakup 1 miliar dolar AS dari Qatar (sekitar Rp16,9 triliun), 1 miliar dolar AS dari Arab Saudi, 1 miliar dolar AS dari Kuwait yang akan dicairkan bertahap dalam beberapa tahun ke depan, serta tambahan 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp20,3 triliun) dari UEA khusus untuk Gaza melalui dewan tersebut. Sejak perang Iran dimulai, aktivitas Dewan Perdamaian itu hampir terhenti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team