Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hubungan Trump dan Netanyahu Disebut Memburuk, Kenapa?
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri) (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu memburuk setelah perang Iran, yang dipicu oleh bujukan Netanyahu agar AS menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
  • Iran berhasil melawan balik dengan serangan ke markas dan kedubes AS di Timur Tengah serta menutup Selat Hormuz, menyebabkan krisis minyak dan protes warga AS terhadap Trump.
  • Kekecewaan Trump terhadap Netanyahu meningkat karena perang justru merugikan AS, membuatnya berupaya segera mengakhiri konflik sebelum pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hubungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu disebut sedang memburuk. Kabar tersebut termuat dalam laporan The Guardian yang mengutip keterangan seorang mantan diplomat Israel, Alon Pinkas, pada Sabtu (9/5/2026).

Menurut Pinkas, hubungan Trump dan Netanyahu memburuk akibat perang Iran. Ini terjadi karena Netanyahulah telah membujuk Trump agar AS melakukan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Menurutnya, Iran tidak akan bisa melakukan serangan balasan secara efektif ke AS. Hal ini membuat AS bisa dengan mudah memenangi perang melawan negara Islam Syiah tersebut.

1. Iran bisa membuat AS kewalahan

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Padahal, kenyataannya sangat jauh dari apa yang dipikirkan Netanyahu. Dalam praktiknya, Iran justru bisa membuat Negeri Paman Sam kewalahan melawan mereka. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan Iran meluncurkan serangan ke sejumlah markas militer AS yang ada di negara-negara Timur Tengah, seperti di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. 

Tidak hanya itu. Iran juga kerap melakukan serangan ke gedung-gedung kedutaan besar (kedubes) dan konsulat AS yang ada di negara Timur Tengah. Beberapa di antaranya, seperti di Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA). 

Serangan Iran ke kantor kedubes AS di Arab Saudi dan kantor konsulat AS di UEA sama-sama terjadi pada 3 Maret. Sekitar empat hari setelahnya, yakni pada 7 Maret, Iran menyerang kantor kedubes AS yang ada di Irak. 

2. Blokade Selat Hormuz makin membuat AS kewalahan dengan Iran

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Hal yang membuat AS makin kewalahan melawan Iran adalah penutupan Selat Hormuz. Iran sendiri mulai menutup Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu. Blokade ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel di Ibu Kota Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.  

Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, sehari setelahnya, Iran memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata. 

Blokade Selat Hormuz ini membuat AS kekurangan pasokan minyak. Hal ini lantas membuat harga minyak di sana meroket tajam. Banyak warga AS yang kini sudah melontarkan protes terhadap Trump karena tingginya harga minyak di negaranya. Menurut survei Reuters dan Ipsos yang dirilis pada April lalu, sebanyak 77 persen warga AS menyalahkan Trump atas naiknya harga minyak dan gas di AS karena ia telah memulai perang dengan Iran.

3. Trump kecewa berat dengan Netanyahu

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Menurut mantan diplomat AS untuk Israel, Daniel Shapiro, semua hal tadi membuat Trump kecewa berat dengan Netanyahu. Trump menganggap Netanyahu telah mendorongnya ke dalam lembah kesengsaraan. Sebab, alih-alih memberi keuntungan, perang melawan Iran malah membuat AS kewalahan.

Oleh karena itu, Shapiro mengatakan, Trump sangat “ngebet“ mengakhiri perang dengan Iran. Ini bertujuan agar AS tidak makin kewalahan melawan mereka. Bahkan, menurutnya, Trump menargetkan perang dengan Iran bisa berakhir sebelum dirinya bertolak ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada Rabu (13/5/2026) sampai Jumat (15/5/2026) mendatang.

“Jika tidak, dia (Donald Trump) akan berada dalam posisi sebagai pemohon yang meminta bantuan Xi Jinping untuk membujuk Iran agar menerima persyaratannya atau membuat konsesi yang belum mereka berikan,” kata Shapiro kepada The Guardian

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team