Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Kasih Iran Deadline Sepekan buat Teken Proposal AS

Trump Kasih Iran Deadline Sepekan buat Teken Proposal AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Gedung Putih. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump memberi Iran tenggat satu pekan untuk menyetujui proposal perdamaian AS yang menuntut penghentian program nuklir dan penyerahan uranium.
  • Iran menolak keras tuntutan tersebut, menegaskan bahwa program nuklir dan kepemilikan uranium adalah hak kedaulatan yang tidak bisa diserahkan kepada negara lain.
  • Meski Iran menolak, Trump sering mengklaim di media sosial bahwa Iran telah setuju dengan tuntutannya, meskipun klaim itu tidak terbukti benar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi Iran waktu satu pekan untuk segera menyetujui proposal perdamaian yang diusulkannya. Kabar tersebut disampaikan dalam laporan Jerusalem Post pada Kamis (7/5/2026).

Jerusalem Post menjelaskan, proposal baru yang diberikan Trump tadi berisi tuntutan yang harus disepakati Iran jika ingin berdamai dengan AS. Beberapa di antaranya, seperti penghentian program senjata nuklir dan pemberian uranium kepada AS.       

1. Trump mengancam akan menyerang Iran jika tidak menyetujui proposal

Serangan rudal.
ilustrasi serangan (unsplash.com/Vony Razom)

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan Iran harus segera menyetujui semua tuntutan yang ada di dalam proposalnya. Jika tidak, Trump mengancam akan menyerang Iran dengan kekuatan yang lebih besar daripada yang mereka rasakan sebelumnya. Namun, jika Iran menyetujuinya, maka AS akan segera mengakhiri perang. Selain itu, AS juga akan segera membuka blokade Selat Hormuz agar selat tersebut bebas dilalui siapa pun. 

“Jika itu terjadi, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Oman akan dihentikan. Ini juga akan memungkinkan Selat Hormuz terbuka untuk semua, termasuk Iran. Namun, jika mereka tidak mencapai kesepakatan, pemboman akan dimulai dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” ujar Trump pada Rabu (6/5/2026), seperti dilansir CNBC.

2. Iran sebelumnya sudah menolak proposal yang sama dari Trump

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Sebetulnya, tuntutan Trump dalam proposal perdamaian yang diberikan ke Iran sama dengan proposal-proposal sebelumnya. Sebab, dalam proposal sebelumnya, Trump juga menuntut Iran untuk menghentikan program senjata nuklir dan memberikan uranium mereka jika ingin berdamai dengan AS.

Alih-alih setuju, Iran tetap teguh pendirian. Negara mayoritas Islam syiah tersebut menolak keras penghentian program senjata nuklir dan pemberian uranium mereka kepada AS. Pada April lalu, Pemerintah Iran dengan tegas mengatakan bahwa uranium milik mereka tidak bisa dikuasai oleh negara mana pun, termasuk Negeri Paman Sam. 

3. Trump kerap mengklaim Iran setuju dengan tuntutannya

Presiden AS, Donald Trump, sedang berpidato di atas mimbar.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/The Trump White House)

Namun, Trump kerap mengklaim bahwa Iran menyetujui semua tuntutan yang diberikan oleh dirinya. Semua klaim itu biasanya disampaikan melalui cuitan di laman Truth Social pribadinya. Klaim-klaim inilah yang membuat Trump kerap kali merasa optimistis bahwa kesepakatan perdamaian dengan Iran akan segera diraih.   

Pada April lalu, misalnya, Trump mengklaim Iran akan segera menyepakati perdamaian dengan AS. Sebab, menurutnya, Iran telah bersedia menuruti tuntutannya untuk menyerahkan semua uraniumnya ke AS. Namun, itu semua hanyalah klaim belaka. Sebab, Iran sendiri sudah menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan uraniumnya kepada siapa pun. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More