Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IAEA Peringatkan Peningkatan Kemampuan Senjata Nuklir Korut
misil Korea Utara pada parade militer 2013. (Stefan Krasowski, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • IAEA memperingatkan peningkatan signifikan kemampuan nuklir Korut setelah mendeteksi lonjakan aktivitas di kompleks Yongbyon dan pembangunan fasilitas pengayaan uranium baru yang belum dideklarasikan.
  • Korea Utara diperkirakan mampu memproduksi hingga 20 hulu ledak nuklir per tahun, meski IAEA belum menemukan bukti keterlibatan teknologi Rusia dalam pengembangan program tersebut.
  • Korsel berencana membangun kapal selam bertenaga nuklir dengan persetujuan AS, namun diwajibkan menyepakati perjanjian pengamanan transparan dengan IAEA untuk mencegah perlombaan senjata di Asia Timur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperingatkan adanya peningkatan yang sangat serius dalam kemampuan produksi senjata nuklir milik Korea Utara (Korut). Peringatan ini disampaikan oleh Kepala IAEA Rafael Grossi saat berkunjung ke Seoul untuk bertemu para pejabat tinggi Korea Selatan (Korsel) pada Rabu (15/4/2026).

Pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut mendeteksi lonjakan aktivitas di kompleks nuklir utama Yongbyon. Selain itu, IAEA juga menemukan adanya tanda-tanda penyelesaian bangunan fasilitas nuklir baru.

1. IAEA deteksi peningkatan aktivitas di kompleks Yongbyon

Dierektur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi. (wikimedia.org/IAEA Imagebank)

IAEA mencatat adanya lonjakan aktivitas yang signifikan pada operasional reaktor lima megawatt serta unit pemrosesan ulang bahan bakar di kompleks Yongbyon. Tak hanya itu, fasilitas reaktor air ringan yang berada di kawasan yang sama juga mulai menunjukkan tanda-tanda pengoperasian kembali setelah sempat ditutup.

Badan tersebut turut menyoroti penyelesaian sebuah fasilitas pengayaan uranium baru yang sampai saat ini belum dideklarasikan oleh Pyongyang. Temuan terbaru dari IAEA sejalan dengan hasil analisis citra satelit yang dirilis oleh lembaga riset Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Gedung baru yang teridentifikasi tersebut diyakini mampu memproduksi material nuklir tingkat senjata dengan jauh lebih efektif dan masif. Pengamat juga mendeteksi adanya fasilitas dengan struktur bangunan yang serupa di kompleks Kangson yang berlokasi tidak jauh dari Pyongyang.

"Semua ini mengarah pada peningkatan yang sangat serius pada kemampuan produksi senjata nuklir Korea Utara, yang diperkirakan mencapai beberapa lusin hulu ledak," ungkap Grossi, dilansir Al Jazeera.

2. Korut akan bisa produksi hingga 20 hulu ledak nuklir per tahun

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Korut diperkirakan telah berhasil memproduksi dan merakit sekitar 50 unit hulu ledak nuklir hingga awal tahun ini. Beroperasinya deretan fasilitas pengayaan uranium yang baru dikhawatirkan akan semakin meningkatkan laju produksi.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menilai, dengan kapasitas terbaru, negara tetangganya kini mampu membuat 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun. Ekspansi ini dilakukan untuk memastikan kelangsungan rezim yang berkuasa sekaligus mencegah risiko intervensi pasukan asing.

Meskipun aktivitas nuklir Korut terus memicu kekhawatiran, IAEA hingga kini belum menemukan bukti kuat mengenai keterlibatan bantuan teknologi dari Rusia. Kesepakatan kerja sama teknis yang ditandatangani antara Moskow dan Pyongyang baru-baru ini diyakini masih sebatas pada pengembangan proyek nuklir sipil.

Korut sendiri kerap menantang dan mengabaikan rentetan sanksi ekonomi dari Dewan Keamanan PBB. Mereka juga bersikeras mempertahankan program senjatanya dengan cara menutup total seluruh akses pemantauan bagi para inspektur IAEA sejak 2009.

3. Korsel akan bangun kapal selam nuklir

ilustrasi kapal selam. (unsplash.com/Ан Нет)

Selain menyoroti Korut, IAEA turut membahas rencana Korsel yang ingin membangun armada kapal selam bertenaga nuklir. Pemerintah Amerika Serikat (AS) diketahui telah menyetujui program tersebut pada pertemuan bilateral akhir 2025.

Pengembangan reaktor untuk kapal selam selalu memunculkan tantangan dan dilema khusus bagi lembaga pengawas non-proliferasi internasional. Bahan bakar nuklir yang tertanam di dalam mesin kapal selam sering kali tidak dapat dijangkau atau diinspeksi dalam jangka waktu yang lama.

Berlandaskan kekhawatiran tersebut, pemerintah Korsel diwajibkan untuk segera menyepakati perjanjian pengamanan teknis yang transparan dengan IAEA sebelum memulai tahap konstruksi. Prosedur ini diperlukan untuk mencegah pecahnya perlombaan senjata nuklir di kawasan Asia Timur.

"Penting untuk memiliki kesepakatan teknis yang kuat dengan IAEA... sehingga inspektur kami dapat memastikan materi nuklir tersebut hanya digunakan sebagai mesin kapal selam," tutur Grossi, dilansir The Korea Times.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team