Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Inggris Larang Rokok untuk Warga yang Lahir Setelah Tahun 2008
ilustrasi tanda dilarang merokok (pexels.com/Markus Winkler)
  • Parlemen Inggris menyetujui Undang-Undang Tembakau dan Vape yang melarang pembelian produk tembakau bagi warga lahir setelah 2008, menunggu persetujuan Raja Charles III untuk diberlakukan resmi.
  • Aturan baru menaikkan usia minimum pembelian tembakau tiap tahun mulai 2027, memperluas zona bebas rokok dan vape, serta melarang promosi dan vaping di mobil dengan penumpang di bawah 18 tahun.
  • Kebijakan ini menuai dukungan luas dari tokoh kesehatan dan parlemen sebagai langkah bersejarah, meski sebagian pihak industri ritel dan vape khawatir terhadap dampak ekonomi serta pembatasan ketatnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Parlemen Inggris merampungkan pembahasan Undang-Undang Tembakau dan Vape yang dirancang untuk melarang pembelian produk tembakau secara legal bagi mereka yang lahir setelah 2008. Kebijakan ini menargetkan terbentuknya generasi yang sepenuhnya terlepas dari akses rokok di masa depan.

Rancangan tersebut telah lolos tahap akhir di House of Lords pada Selasa (21/4/2026), serta tinggal menunggu persetujuan formal dari Raja Charles III sebelum berlaku resmi.

“Anak-anak di Inggris akan menjadi bagian dari generasi pertama yang bebas asap rokok, dilindungi dari kecanduan dan bahaya seumur hidup,” kata Menteri Kesehatan Wes Streeting, dikutip The Guardian.

Streeting juga menyampaikan bahwa langkah pencegahan dinilai lebih efektif dibanding pengobatan. Ia meyakini kebijakan ini dapat menyelamatkan banyak nyawa, sekaligus mengurangi beban Layanan Kesehatan Nasional (NHS) dan mendorong kondisi kesehatan masyarakat yang lebih baik.

1. Pemerintah Inggris terapkan kenaikan usia beli tembakau bertahap

ilustrasi rokok (pexels.com/Kseniya Korotkaya)

Aturan baru menetapkan peningkatan usia minimum pembelian produk tembakau secara bertahap mulai 1 Januari 2027. Batas usia untuk membeli rokok, cerutu, dan produk sejenis akan bertambah satu tahun setiap tahun.

Ketentuan tersebut membuat individu yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2009 tak akan pernah memiliki akses legal untuk membeli tembakau di seluruh wilayah Inggris. Penerapan undang-undang ini mencakup empat negara bagian, yaitu Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Perumusan kebijakan dilakukan bersama parlemen devolusi di Belfast, Cardiff, dan Edinburgh. Pedagang yang tetap menjual tembakau kepada pihak yang tak memenuhi syarat, termasuk melalui perantara, akan dikenai sanksi berupa denda 200 pound sterling Inggris (sekitar Rp4,63 juta).

2. Pemerintah Inggris perluas larangan rokok dan vape

ilustrasi vape (pexels.com/Nikita Korchagin)

Undang-undang ini turut menghadirkan sistem registrasi baru untuk produk tembakau dan vape yang masuk ke Inggris guna memperketat pengawasan. Selain itu, area bebas asap rokok yang sebelumnya terbatas di dalam ruangan diperluas ke sejumlah ruang publik terbuka seperti taman bermain anak, lingkungan sekolah, serta area sekitar rumah sakit.

Sejumlah ruang tertutup yang telah bebas rokok juga akan diberlakukan sebagai zona bebas vape. Di sisi lain, aktivitas merokok masih diperbolehkan di beberapa area luar ruangan seperti pub, bar, dan tempat hiburan, serta tetap legal dilakukan di dalam hunian pribadi.

Aturan tambahan melarang vaping di dalam mobil jika terdapat penumpang berusia di bawah 18 tahun, mengikuti ketentuan yang berlaku pada rokok. Seluruh bentuk promosi produk tembakau dan vape juga akan dilarang, sementara orang dewasa tetap diizinkan membeli vape, meski produk sekali pakai yang menyasar anak muda sudah lebih dulu dilarang.

3. Berbagai pihak tanggapi kebijakan tembakau Inggris

ilustrasi bendera Inggris (pexels.com/James Frid)

Dilansir DW, dalam pembahasan akhir di House of Lords, Baroness Gillian Merron dari Partai Buruh menyatakan dukungan penuh terhadap undang-undang ini dan menyebutnya sebagai langkah bersejarah. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai intervensi kesehatan masyarakat terbesar dalam satu generasi yang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.

Baron Naseby dari Partai Konservatif menyampaikan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap pelaku usaha ritel. Ia menilai pemerintah belum sepenuhnya mempertimbangkan masukan dari perwakilan industri tembakau.

Hazel Cheeseman dari Action on Smoking and Health (ASH) menyambut positif kebijakan ini.

“Ini adalah titik balik yang menentukan bagi kesehatan masyarakat,” katanya.

Cheeseman menilai berakhirnya kebiasaan merokok kini menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Ia menambahkan bahwa undang-undang ini memberikan “hadiah abadi” bagi generasi mendatang.

Sarah Sleet dari Asthma and Lung UK juga menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut. Ia menilai masa depan tanpa asap rokok akan menghentikan dampak buruk industri tembakau terhadap kesehatan paru-paru generasi berikutnya.

Richard Begg dari VPZ The Vaping Specialist memperingatkan potensi dampak pembatasan ketat terhadap vape. Mark Oates dari We Vape menekankan pentingnya variasi rasa sebagai faktor yang membantu perokok dewasa beralih ke alternatif yang dinilai lebih rendah risiko.

Dilansir The Guardian, data menunjukkan kebiasaan merokok menyebabkan sekitar 400 ribu rawat inap dan 64 ribu kematian setiap tahun di Inggris. Beban terhadap NHS mencapai 3 miliar pound sterling (sekitar Rp69,4 triliun) per tahun, sementara total kerugian ekonomi diperkirakan berada di kisaran 21,3-27,6 miliar pound (sekitar Rp493-638 triliun.)

Dengan pengesahan aturan ini, Inggris menjadi salah satu dari dua negara yang menerapkan larangan tembakau berbasis generasi bersama Maladewa. Kebijakan serupa sebelumnya sempat diperkenalkan di Selandia Baru, namun kemudian dibatalkan setelah pergantian pemerintahan pada 2023.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team