Inggris Larang Jual Rokok Seumur Hidup untuk Kelahiran 2009 ke Atas

- Parlemen Inggris mengesahkan RUU Tembakau dan Rokok Elektrik yang melarang penjualan rokok seumur hidup bagi warga kelahiran 2009 ke atas untuk menciptakan generasi bebas asap rokok.
- Pemerintah diberi kewenangan membatasi penjualan vape, mengatur kemasan dan pemasaran, serta memperluas larangan merokok di ruang publik seperti sekolah, taman bermain, dan kendaraan berisi anak-anak.
- Kebijakan ini diproyeksikan menekan angka perokok muda, menghemat miliaran poundsterling biaya kesehatan tiap tahun, serta mendukung program berhenti merokok dengan dana edukasi sebesar 70 juta poundsterling.
Jakarta, IDN Times - Parlemen Inggris menyepakati Rancangan Undang-Undang (RUU) Tembakau dan Rokok Elektrik pada Senin (20/4/2026). Kesepakatan antara Majelis Rendah dan Majelis Tinggi ini memungkinkan pemerintah untuk melarang penjualan rokok seumur hidup bagi anak-anak yang saat ini berusia 17 tahun ke bawah.
Aturan ini khusus menyasar individu yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2009 untuk menciptakan generasi yang bebas dari asap rokok. Melalui kebijakan ini, Inggris berupaya mengurangi penggunaan tembakau secara bertahap demi melindungi warga dari risiko kecanduan nikotin dan penyakit kronis.
1. Batas usia legal pembelian rokok akan dinaikkan satu tahun setiap tahunnya

Proses perumusan kebijakan ini dimulai saat RUU Tembakau dan Rokok Elektrik diajukan pada 5 November 2024, hingga akhirnya disetujui pada akhir April 2026. Aturan ini tidak langsung melarang penjualan rokok untuk semua orang, melainkan menggunakan sistem peningkatan batas usia secara bertahap.
Batas usia legal untuk membeli rokok akan dinaikkan satu tahun pada setiap tahunnya. Dengan sistem ini, mereka yang lahir setelah tahun 2008 tidak akan memiliki akses legal untuk membeli produk tembakau.
"Pengesahan RUU Tembakau dan Rokok Elektrik ini penting bagi kesehatan masyarakat karena akan menjadikan anak-anak di Inggris sebagai generasi bebas asap rokok pertama yang terlindungi dari risiko kecanduan," kata Menteri Kesehatan Inggris, Wes Streeting, dilansir The Independent.
Penerapan aturan ini mendapat dukungan dari berbagai partai politik. Pemerintah juga mendapat kewenangan baru untuk mengawasi rantai pasokan tembakau dan menerapkan sistem izin penjualan yang ketat agar aturan ini ditaati oleh pengecer.
2. Pemerintah batasi penjualan vape dan larang merokok di fasilitas umum

Selain rokok konvensional, undang-undang ini memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk mengatur industri rokok elektrik atau vape secara lebih ketat. Pemerintah dapat membatasi varian rasa, desain kemasan, dan strategi pemasaran yang kerap menargetkan anak-anak dan remaja.
"Aturan ini akan memperbaiki kesehatan masyarakat. Masa depan tanpa asap rokok berarti kita dapat melindungi paru-paru generasi mendatang dari paparan produk tembakau. Selain itu, pembatasan penggunaan vape dan tembakau yang dipanaskan di sekitar sekolah dan rumah sakit juga sangat diperlukan," kata Kepala Eksekutif Asthma and Lung UK, Sarah Sleet, dilansir The Guardian.
Larangan merokok juga akan diperluas ke berbagai ruang publik, seperti taman bermain anak, area luar gedung sekolah, dan lingkungan sekitar rumah sakit. Aturan ini juga mencakup larangan merokok di dalam kendaraan yang membawa anak-anak. Petugas berwenang dapat memberikan denda di tempat bagi pelanggar, baik penjual yang melayani anak di bawah umur maupun orang dewasa yang membelikan rokok untuk mereka.
"Penurunan angka perokok dan pencegahan dampak buruknya kini memiliki target yang lebih jelas. Fokus kita saat ini adalah mempercepat proses tersebut demi kebaikan generasi mendatang," kata Kepala Eksekutif Action on Smoking and Health (ASH), Hazel Cheeseman.
3. Penurunan jumlah perokok diproyeksikan akan menghemat anggaran kesehatan

Konsumsi tembakau menyebabkan sekitar 64 ribu hingga 75 ribu kematian setiap tahun di Inggris dan menjadi faktor utama bagi sekitar 400 ribu pasien yang dirawat di Layanan Kesehatan Nasional (NHS). Dengan adanya larangan ini, pemerintah memperkirakan penghematan biaya perawatan kesehatan hingga miliaran poundsterling setiap tahun.
Biaya pengobatan penyakit akibat rokok saat ini mencapai 3 miliar poundsterling (Rp69,69 triliun) per tahun, belum termasuk kerugian ekonomi dari hilangnya produktivitas kerja yang diperkirakan mencapai 21,3 miliar hingga 27,6 miliar poundsterling (Rp494,82 triliun-Rp641,17 triliun).
"Mencegah lebih baik daripada mengobati. Aturan ini diharapkan menekan angka kematian, mengurangi beban perawatan rumah sakit, dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat, karena masalah kesehatan publik dapat membebani perekonomian negara," kata Menteri Kesehatan Wes Streeting.
Analisis dari University of Nottingham memperkirakan kebijakan ini akan menurunkan jumlah perokok pada usia 12 hingga 30 tahun menjadi di bawah 5 persen pada tahun 2040-an. Meski ada kekhawatiran tentang munculnya pasar gelap dan potensi penurunan pendapatan bagi penjual kecil, pemerintah berkomitmen mengalokasikan dana sebesar 70 juta poundsterling (Rp1,62 triliun) untuk program edukasi dan pendampingan bagi perokok dewasa yang ingin berhenti merokok.


















