Sekelompok mahasiswa China di Merton Street, Oxford, Inggris. (Ввласенко, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Kementerian Dalam Negeri menyatakan penghentian visa kerja bagi warga Afghanistan juga dipicu oleh tingginya jumlah pemegang visa yang tetap mengajukan suaka setelah izin tinggal mereka berakhir. Kondisi tersebut dinilai membebani sistem dan disebut sebagai tekanan yang tak lagi berkelanjutan bagi mekanisme suaka Inggris.
Kebijakan ini hadir di tengah keputusan pemerintah mengedepankan pendekatan diplomatik yang lebih tegas, menyusul desakan dari kelompok politik kanan seperti Partai Konservatif dan Reform UK agar arus imigrasi ditekan. Pekan lalu, masa perlindungan bagi pengungsi dipangkas menjadi 30 bulan sebagai bagian dari upaya menekan penyeberangan perahu kecil.
Sebelumnya pada November, Kementerian Dalam Negeri juga mengancam akan menghentikan seluruh penerbitan visa untuk Angola, Namibia, dan Republik Demokratik Kongo apabila ketiga negara tersebut menolak menerima deportasi warganya, langkah yang akhirnya diikuti dengan dimulainya kembali penerbangan pemulangan.
Meski demikian, Inggris tercatat sebagai negara dengan jumlah pemukiman kembali pengungsi rujukan UNHCR terbesar keenam di dunia, yang menurut pemerintah mencerminkan komitmen membantu mereka yang benar-benar membutuhkan. Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood dijadwalkan mengajukan perubahan Peraturan Imigrasi pada Kamis, 5 Maret, guna menghentikan penerbitan visa tersebut.