Pada tanggal 2 Desember 2020, Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang terpasang pada satelit Terra milik NASA memperoleh citra warna asli Selat Hormuz. ( MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam global biasanya melewati jalur tersebut.
Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap negara tersebut pada 28 Februari.
Penutupan tersebut telah mengganggu aktivitas pelayaran internasional dan memicu kenaikan harga minyak dunia. Sejak saat itu, beberapa kapal dilaporkan terkena serangan di kawasan tersebut, sebagian di antaranya diklaim sebagai operasi Iran.
Meski demikian, Iran membantah tuduhan mereka menebar ranjau di Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi menolak klaim tersebut.
Sementara itu, pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei dalam pernyataan perdananya sejak konflik dimulai menegaskan, penutupan Selat Hormuz akan terus digunakan sebagai alat tekanan terhadap musuh Iran.
“Penutupan dilakukan untuk memblokir Selat Hormuz harus terus digunakan,” kata Mojtaba.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat dilaporkan telah menargetkan sedikitnya 16 kapal Iran yang diduga digunakan untuk operasi penebaran ranjau. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika benar-benar menghalangi aliran minyak global melalui jalur tersebut.
Aktivitas ranjau laut di kawasan itu menjadi perhatian besar bagi militer dan badan intelijen AS, mengingat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia serta perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz.