Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022. (S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commona)
Dari pihak AS, Presiden Donald Trump dilaporkan berupaya menghindari konflik berkepanjangan dan menginginkan penyelesaian cepat. Meski demikian, Pentagon disebut telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat di luar operasi udara dan laut.
Trump juga terus menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus mengaitkannya dengan opsi serangan terhadap infrastruktur energi dan operasi darat. Ia menyatakan bahwa pembicaraan masih berjalan, namun tetap menetapkan batas waktu sebelum langkah berikutnya diputuskan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengajak negara-negara NATO serta sekutu lainnya untuk turut menjaga jalur pelayaran tersebut. Ketika muncul klaim adanya komunikasi menuju gencatan senjata, Iran justru membantahnya dan menilai usulan dari Washington lebih menguntungkan kepentingan AS dan Israel.
Ketegangan meningkat setelah pernyataan Trump di Truth Social yang mengkritik sikap negosiator Iran. Sumber militer Iran menilai dorongan pembukaan Selat Hormuz sebagai langkah berisiko tinggi, sementara otoritas Iran menuding wacana dialog hanya menjadi cara untuk memberi ruang bagi persiapan invasi darat.