Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Kerahkan Sejuta Pejuang Hadapi Ancaman Invasi AS-Israel
ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)
  • Iran mengerahkan lebih dari satu juta pejuang, termasuk militer aktif dan relawan, untuk menghadapi potensi invasi darat oleh AS dan Israel.
  • Pendaftaran relawan meningkat di berbagai wilayah, sementara Iran memperkuat pertahanan strategis seperti di Pulau Kharg guna melindungi infrastruktur vitalnya.
  • AS menyiapkan opsi militer sambil menekan Iran terkait Selat Hormuz, meski kedua pihak saling menolak klaim adanya upaya menuju gencatan senjata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Iran disebut telah mengerahkan lebih dari satu juta pejuang untuk merespons kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel, berdasarkan laporan sejumlah sumber domestik. Kekuatan tersebut terdiri dari gabungan personel militer aktif serta relawan yang disiapkan untuk menghadapi beragam skenario tempur.

Sumber militer yang dikutip Tasnim News Agency menyampaikan bahwa potensi operasi darat justru memicu peningkatan moral tempur. Mereka memandang kesiapan tersebut sebagai indikasi bahwa Iran telah bersiap memberikan perlawanan penuh jika konflik pecah.

1. Pendaftaran relawan Iran meningkat di sejumlah wilayah

ilustrasi tanda tangan (pexels.com/Pixabay)

Dilansir dari India Today, lonjakan mobilisasi turut tercermin dari padatnya pusat perekrutan yang terhubung dengan Basij, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), serta angkatan darat reguler. Warga sipil, khususnya kelompok usia muda, dilaporkan ramai mendaftarkan diri dan meminta ditempatkan di garis depan.

Sementara itu, laporan CNN mengungkap adanya penguatan pertahanan Iran di Pulau Kharg melalui penambahan personel, sistem pertahanan udara, dan fasilitas perlindungan. Pulau tersebut dinilai analis sebagai titik penting dalam industri minyak Iran yang berpotensi menjadi sasaran utama dalam skenario operasi darat.

2. Pejabat Iran ancam respons keras terhadap lawan

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa setiap upaya perebutan wilayah akan dibalas dengan tindakan tegas. Ia juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas pihak lawan telah berada dalam pemantauan angkatan bersenjata Iran.

Dilansir dari Times of India, Ghalibaf menambahkan bahwa pelanggaran terhadap wilayah kedaulatan Iran akan memicu serangan terhadap infrastruktur vital di kawasan tanpa batasan. Pandangan tersebut diperkuat oleh Komandan Pasukan Darat Iran, Ali Jahanshahi, yang menilai perang darat akan membawa dampak jauh lebih berat bagi pihak lawan.

“Semua gerakan musuh di perbatasan dipantau, dan kami siap untuk skenario apa pun,” kata Jahanshahi, menurut kantor berita ISNA Iran, dikutip dari The New Arab.

3. AS siapkan opsi militer sambil tekan Iran

Kapal induk Angkatan Laut USS Gerald R. Ford (CVN-78) mengukus Samudra Atlantik selama simulasi transit selat dengan Gerald R. Ford Carrier Strike Group (GRFCSG) di Samudra Atlantik, 9 Oktober 2022. (S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Jackson Adkins, Public domain, via Wikimedia Commona)

Dari pihak AS, Presiden Donald Trump dilaporkan berupaya menghindari konflik berkepanjangan dan menginginkan penyelesaian cepat. Meski demikian, Pentagon disebut telah menyiapkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat di luar operasi udara dan laut.

Trump juga terus menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus mengaitkannya dengan opsi serangan terhadap infrastruktur energi dan operasi darat. Ia menyatakan bahwa pembicaraan masih berjalan, namun tetap menetapkan batas waktu sebelum langkah berikutnya diputuskan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengajak negara-negara NATO serta sekutu lainnya untuk turut menjaga jalur pelayaran tersebut. Ketika muncul klaim adanya komunikasi menuju gencatan senjata, Iran justru membantahnya dan menilai usulan dari Washington lebih menguntungkan kepentingan AS dan Israel.

Ketegangan meningkat setelah pernyataan Trump di Truth Social yang mengkritik sikap negosiator Iran. Sumber militer Iran menilai dorongan pembukaan Selat Hormuz sebagai langkah berisiko tinggi, sementara otoritas Iran menuding wacana dialog hanya menjadi cara untuk memberi ruang bagi persiapan invasi darat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team