Jerman Sebut Rusia Bantu Iran Identifikasi Target Serangan

- Menlu Jerman Johann Wadephul menuduh Rusia memberi informasi intelijen kepada Iran untuk merencanakan target serangan, yang disebut bagian dari agenda politik Vladimir Putin.
- Wadephul menyatakan Jerman siap bantu amankan Selat Hormuz setelah perang di Iran berakhir, sambil mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump soal konflik Ukraina.
- Rusia dituding kirim drone Geran-2 ke Iran dan tolak kirim S-400, namun Menlu Sergey Lavrov membantah tuduhan dukungan intelijen serta menegaskan hubungan militer hanya bersifat teknis.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman, Johann Wadephul mengungkapkan bahwa Rusia menyediakan informasi intelijen kepada Iran. Informasi tersebut digunakan untuk merencanakan target serangan.
“Kerja sama intelijen antara Rusia dan Iran ini tujuan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk mempengaruhi agenda politik yang lebih luas,” tuturnya, dikutip dari United24, Sabtu (28/3/2026).
Sebelumnya, terdapat kabar bahwa Rusia sudah memberikan informasi intelijen kepada Iran untuk menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS). Namun, Rusia membantah tuduhan tersebut.
1. Jerman mau bantu amankan Selat Hormuz

Pada saat yang sama, Wadephul mengaku berhasil meredam tensi dengan Menlu AS, Marco Rubio. Ia memastikan bahwa Jerman mau membantu mengamankan Selat Hormuz, tapi setelah perang di Iran berakhir.
“Jerman tentu mau membantu, tapi setelah perang berakhir. Kami juga ingin berperan penting untuk memastikan keamanan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz,” katanya, dikutip dari DPA International.
Menlu Jerman itu mengkritik pernyataan Presiden AS, Donald Trump sangat tidak pantas. Sebab, Trump menyebut bahwa perang di Ukraina bukanlah perang dari AS.
2. Rusia kirimkan pasokan drone ke Iran

Berdasarkan keterangan dari intelijen Barat, Rusia sudah mengirimkan drone Geran-2 ke Iran. Drone tersebut adalah versi lokal drone Shahed di Rusia yang didesain oleh Iran.
Selain itu, Iran juga sudah meminta sistem pertahanan udara dari Rusia untuk melawan serangan udara AS dan Israel. Namun, Moskow menolak pengiriman sistem pertahanan udara S-400 karena khawatir akan meningkatkan eskalasi dengan AS.
Keterlibatan Rusia di Iran ini sebagai bentuk penguatan kapabilitas militer Iran dalam menghadapi serangan AS dan Israel. Moskow juga berniat untuk menstabilkan posisi politiknya di kancah global.
3. Rusia bantah menyediakan dukungan intelijen ke Iran

Menlu Rusia, Sergey Lavrov menolak tuduhan bahwa Rusia menyediakan informasi intelijen ke Iran. Menurutnya, tuduhan dari Jerman itu tidak ada buktinya dan lokasi dari pangkalan militer AS di Timur Tengah sudah diketahui secara umum.
“Kami memang memiliki hubungan teknis militer yang dekat dengan Iran. Moskow juga sudah menyuplai Teheran sejumlah produk militer. Namun, kami tidak dapat menerima tuduhan bahwa kami membantu Iran dengan intelijen,” ungkapnya, dilansir dari Africa News.


















