Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Siap Balas jika Tanker Diserang, AS Tunggu Respons Damai
Peluncuran rudal balistik Shahab-3 milik Iran. Foto ini secara spesifik diambil saat latihan militer "Great Prophet 7" (Nabi Mulia 7) oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Juli 2012. (commons.wikimedia.org/Hossein Velayati)
  • Iran mengancam akan membalas serangan terhadap kapal tankernya setelah dua kapal berbendera Iran ditembaki jet tempur Amerika di Teluk Oman, memperburuk ketegangan kawasan.
  • Qatar dan Pakistan berperan sebagai mediator utama antara Washington dan Teheran, sementara citra satelit menunjukkan tumpahan minyak besar di sekitar Pulau Kharg, Iran.
  • Ketegangan turut meluas ke Lebanon setelah serangan udara Israel menewaskan sembilan orang, memicu respons drone dari Hizbullah menjelang rencana perundingan di Washington.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang kepentingan AS di Timur Tengah apabila kapal tanker Iran kembali menjadi sasaran serangan.

Ancaman itu muncul sehari setelah jet tempur Amerika menembaki dua kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman. Washington menuduh kedua kapal tersebut menentang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Setiap serangan terhadap kapal tanker dan kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan besar terhadap salah satu pusat Amerika di kawasan dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, dikutip dari Hurriyet Daily, Minggu (10/5/2026).

Situasi itu terjadi ketika Washington masih menunggu jawaban resmi Teheran atas proposal terbaru terkait perundingan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperkirakan Iran akan memberikan jawaban terhadap proposal tersebut “malam ini”. Namun hingga Sabtu, belum ada tanda-tanda publik bahwa respons itu telah disampaikan melalui mediator Pakistan.

Di tengah ketidakpastian diplomasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru mempertanyakan keseriusan Amerika Serikat dalam proses negosiasi.

“Peningkatan ketegangan terbaru oleh pasukan Amerika di Teluk Persia dan berbagai tindakan mereka yang melanggar gencatan senjata telah menambah kecurigaan terhadap motivasi dan keseriusan pihak Amerika dalam jalur diplomasi,” kata Araghchi dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Turki, menurut kantor berita ISNA.

1. Serangan tanker menambah ketegangan di Selat Hormuz

peta Selat Hormuz di Timur Tengah (commons.wikimedia.org/Wikideas1)

Pada Jumat, jet tempur Amerika menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker Iran di Teluk Oman. Pemerintah AS menuduh kapal tersebut mencoba menerobos blokade maritim terhadap Iran. Seorang pejabat militer Iran mengatakan, angkatan laut Iran telah membalas insiden itu dengan serangan terhadap target tertentu, meski rincian lebih lanjut tidak disampaikan.

Insiden tersebut terjadi hanya sehari setelah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia yang kini menjadi pusat perebutan pengaruh antara Iran dan Amerika Serikat. Iran disebut berupaya memperkuat kendalinya atas selat tersebut untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan tekanan politik terhadap Amerika Serikat serta sekutunya. Washington menilai langkah itu tidak dapat diterima.

Amerika Serikat melalui mediator Pakistan telah mengirim proposal kepada Iran untuk memperpanjang gencatan senjata di kawasan Teluk agar perundingan menuju penyelesaian permanen dapat berlangsung.

Jurnalis stasiun televisi Prancis LCI, Margot Haddad, mengatakan, Trump dalam wawancara singkat masih berharap mendapat jawaban Iran dalam waktu sangat dekat. Namun hingga kini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran hanya menyatakan proposal tersebut masih dalam peninjauan.

2. Qatar dan Pakistan jadi penghubung diplomasi

Perundingan damai Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang ditengahi Pakistan (Pakistan Prime Minister Office / AFP)

Di tengah memanasnya situasi, Qatar kembali memainkan peran penting sebagai penghubung komunikasi antara Washington dan Teheran. Diplomat tertinggi Amerika Serikat Marco Rubio pada Sabtu bertemu dengan pemimpin Qatar untuk membahas koordinasi dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan kedua pihak membahas koordinasi erat yang berkelanjutan untuk mencegah ancaman dan mempromosikan stabilitas serta keamanan di seluruh Timur Tengah.

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani juga bertemu Wakil Presiden AS JD Vance guna membahas upaya mediasi yang dipimpin Pakistan. Qatar sendiri sempat menjadi target serangan Iran selama perang berlangsung karena negara itu menjadi lokasi pangkalan udara utama milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Sementara itu, citra satelit memperlihatkan adanya dugaan tumpahan minyak di dekat Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran. Pemantau global Orbital EOS menyebut area tumpahan tampak mencakup lebih dari 52 kilometer persegi di lepas pantai barat pulau tersebut.

Meski belum diketahui penyebab pastinya, organisasi lingkungan berbasis di Inggris, Conflict and Environment Observatory menyatakan, tumpahan itu kemungkinan berasal dari kebocoran infrastruktur minyak.

3. Front Lebanon ikut memanas

Senjata Hizbullah yang sudah disita oleh pasukan militer Israel (IDF) (commons.wikimedia.org/IDF Spokesperson's Unit)

Di saat ketegangan di Teluk Persia meningkat, situasi di Lebanon juga kembali memburuk meski gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah baru berjalan tiga pekan. Otoritas Lebanon menyatakan, sedikitnya sembilan orang tewas akibat serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Sabtu.

Media pemerintah Lebanon juga melaporkan adanya serangan udara yang menyasar jalan raya di selatan Beirut, wilayah di luar basis tradisional Hizbullah. Serangan terbaru disebut menjadi salah satu yang paling intens sejak gencatan senjata diberlakukan.

Hizbullah mengaku meluncurkan drone ke arah pasukan Israel di wilayah utara sebagai respons atas serangan yang terus berlangsung. Militer Israel mengatakan, beberapa drone bermuatan bahan peledak memasuki wilayahnya. Satu tentara cadangan dilaporkan mengalami luka berat dan dua lainnya luka sedang.

Ketegangan ini muncul menjelang rencana perundingan langsung antara Lebanon dan Israel di Washington pekan depan. Hizbullah secara tegas menolak rencana negosiasi tersebut. Lebanon dan Israel secara resmi masih berada dalam status perang sejak 1948.

Editorial Team