Jakarta, IDN Times - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengancam akan menyerang kepentingan AS di Timur Tengah apabila kapal tanker Iran kembali menjadi sasaran serangan.
Ancaman itu muncul sehari setelah jet tempur Amerika menembaki dua kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman. Washington menuduh kedua kapal tersebut menentang blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Setiap serangan terhadap kapal tanker dan kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan besar terhadap salah satu pusat Amerika di kawasan dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, dikutip dari Hurriyet Daily, Minggu (10/5/2026).
Situasi itu terjadi ketika Washington masih menunggu jawaban resmi Teheran atas proposal terbaru terkait perundingan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperkirakan Iran akan memberikan jawaban terhadap proposal tersebut “malam ini”. Namun hingga Sabtu, belum ada tanda-tanda publik bahwa respons itu telah disampaikan melalui mediator Pakistan.
Di tengah ketidakpastian diplomasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru mempertanyakan keseriusan Amerika Serikat dalam proses negosiasi.
“Peningkatan ketegangan terbaru oleh pasukan Amerika di Teluk Persia dan berbagai tindakan mereka yang melanggar gencatan senjata telah menambah kecurigaan terhadap motivasi dan keseriusan pihak Amerika dalam jalur diplomasi,” kata Araghchi dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Turki, menurut kantor berita ISNA.
