Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ini Perusahaan yang Diuntungkan dari Perang AS - Iran

Ini Perusahaan yang Diuntungkan dari Perang AS - Iran
ilustrasi konflik geopolitik (pixabay.com/saifee_art)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Lonjakan konflik AS-Israel dan Iran memicu gejolak harga energi global, membuat perusahaan minyak besar seperti BP, Shell, dan TotalEnergies mencatat lonjakan laba signifikan pada kuartal pertama 2026.
  • Bank-bank besar dunia seperti JP Morgan dan Goldman Sachs meraup keuntungan tinggi dari volatilitas pasar keuangan akibat perang, dengan total laba enam bank utama AS mencapai 47,7 miliar dolar AS.
  • Industri pertahanan dan energi terbarukan sama-sama terdorong; permintaan senjata meningkat di Eropa-AS sementara minat terhadap energi bersih serta kendaraan listrik melonjak sebagai respons atas krisis energi.
  • Konflik AS-Israel versus Iran memicu lonjakan harga energi global akibat terganggunya distribusi di Selat Hormuz, membuat perusahaan minyak besar seperti BP, Shell, dan TotalEnergies mencatat laba tinggi.
  • Volatilitas pasar keuangan selama perang meningkatkan aktivitas perdagangan dan keuntungan bank besar dunia seperti JP Morgan, Goldman Sachs, serta Bank of America yang membukukan laba kuartalan rekor.
  • Permintaan terhadap industri pertahanan dan energi terbarukan melonjak; perusahaan seperti BAE Systems hingga NextEra Energy menikmati peningkatan pesanan dan minat investasi di tengah ketegangan geopolitik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran bukan hanya memicu lonjakan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global, tetapi juga mendatangkan keuntungan besar bagi sejumlah sektor usaha.

Gangguan distribusi energi akibat penutupan efektif Selat Hormuz membuat harga minyak dan gas bergejolak. Kondisi itu berdampak pada anggaran rumah tangga, perusahaan, hingga pemerintah di berbagai negara.

Namun di sisi lain, sejumlah perusahaan justru mencatat kenaikan pendapatan selama konflik berlangsung. Beberapa sektor yang mendapat keuntungan besar antara lain minyak dan gas, perbankan, industri pertahanan, hingga energi terbarukan.

1. Perusahaan minyak dan gas menikmati lonjakan laba

Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)
Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

Dilansir BBC, sektor energi menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari konflik Timur Tengah. Sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, sehingga terganggunya jalur tersebut langsung memicu kenaikan harga energi global.

Perusahaan minyak besar Eropa tercatat memperoleh keuntungan dari volatilitas harga tersebut, terutama karena memiliki divisi perdagangan energi.

BP membukukan laba 3,2 miliar dolar AS pada kuartal I-2026 atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Shell juga melaporkan laba kuartal pertama sebesar 6,92 miliar dolar AS.

Sementara itu, TotalEnergies mencatat kenaikan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dolar AS pada tiga bulan pertama 2026.

Di AS, ExxonMobil dan Chevron memang mengalami penurunan laba akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah. Meski begitu, kedua perusahaan tetap melampaui proyeksi analis dan memperkirakan keuntungan akan terus meningkat seiring harga minyak yang masih tinggi.

2. Bank besar kecipratan untung dari volatilitas pasar

ilustrasi Citi Bank
ilustrasi Citi Bank (unsplash.com/Declan Sun)

Lonjakan aktivitas perdagangan di pasar keuangan juga mendorong keuntungan bank-bank besar dunia.

JP Morgan mencatat pendapatan divisi perdagangan sebesar 11,6 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut turut membawa perusahaan mencetak salah satu laba kuartalan terbesar dalam sejarahnya.

Kenaikan laba juga terjadi pada kelompok bank besar lain seperti Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo. Secara total, enam bank besar AS tersebut membukukan laba 47,7 miliar dolar AS selama tiga bulan pertama 2026.

Peningkatan aktivitas perdagangan terjadi karena investor memindahkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman. Fluktuasi pasar selama perang juga mendorong investor memanfaatkan pergerakan harga untuk mencari keuntungan.

3. Industri pertahanan kebanjiran permintaan

Ilustrasi alutsista (tank). (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi alutsista (tank). (IDN Times/Aditya Pratama)

Sektor pertahanan turut menjadi salah satu pihak yang paling cepat memperoleh dampak positif dari konflik. Perang di Timur Tengah dinilai mendorong peningkatan investasi pada sistem pertahanan udara, rudal, teknologi anti-drone, hingga perangkat militer lain di Eropa dan AS.

Selain itu, banyak pemerintah juga mulai meningkatkan pengadaan untuk mengisi kembali stok senjata mereka.

BAE Systems memperkirakan penjualan dan laba perusahaan akan tumbuh kuat tahun ini seiring meningkatnya belanja pertahanan global. Sementara itu, Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman melaporkan antrean pesanan tertinggi pada akhir kuartal pertama 2026.

Meski demikian, saham perusahaan pertahanan mulai mengalami tekanan sejak pertengahan Maret karena muncul kekhawatiran valuasi sektor tersebut sudah terlalu tinggi.

4. Energi terbarukan ikut terdorong

WhatsApp Image 2026-05-01 at 1.18.33 PM.jpeg
Ilustrasi salah satu pembangkit energi baru terbarukan (EBT), PLTS Oelpuah di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi bagian dari upaya percepatan pengembangan energi bersih di Indonesia.

Konflik Iran juga memicu peningkatan minat terhadap energi terbarukan sebagai alternatif ketergantungan pada bahan bakar fosil. Perusahaan energi bersih seperti NextEra Energy mencatat kenaikan harga saham hingga 17 persen sepanjang tahun ini.

Perusahaan energi angin asal Denmark, Vestas dan Orsted, juga melaporkan kenaikan laba di tengah meningkatnya perhatian terhadap sektor energi terbarukan.

Di Inggris, Octopus Energy menyebut penjualan panel surya dan pompa panas meningkat tajam sejak akhir Februari. Penjualan panel surya bahkan dilaporkan naik hingga 50 persen.

Kenaikan harga bensin selama konflik juga turut meningkatkan permintaan kendaraan listrik, terutama yang diproduksi perusahaan asal China.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Related Articles

See More