SELAT HORMUZ (2 Desember 2020) Kapal patroli pantai USS Tempest (PC 2) melintasi Selat Hormuz, 2 Desember 2020. Tempest dikerahkan ke wilayah operasi Armada ke-5 AS untuk mendukung operasi angkatan laut guna memastikan stabilitas dan keamanan maritim di Wilayah Tengah, yang menghubungkan Mediterania dan Pasifik melalui Samudra Hindia bagian barat dan tiga titik penting yang menghambat arus perdagangan global. (Foto Angkatan Laut AS oleh Spesialis Komunikasi Massa Kelas 2 Indra Beaufort)
Blokade Selat Hormuz bukan hanya masalah militer, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi global. Gangguan pada jalur minyak ini telah menyebabkan harga energi melonjak drastis dan mengganggu rute penerbangan serta logistik internasional secara masif.
Armada laut IRGC dilaporkan telah menempati posisi tempur di titik-titik sempit Selat Hormuz, sementara pasukan AS dan sekutunya di kawasan tersebut berada dalam status siaga tertinggi (Defcon).
Krisis minyak mentah bukan cuma masalah harga bensin, melainkan karena minyak adalah bahan baku utama untuk hampir semua hal mulai dari plastik, deterjen, pupuk, sampai serat baju sintetis. Efek dominonya bakal merembet ke segala arah, bikin harga sabun, makanan kemasan, baju, ongkos kirim, sampai biaya medis ikutan naik karena biaya produksi dan logistiknya otomatis membengkak.
Singkatnya, krisis ini jadi semacam "pajak tersembunyi" bagi ekonomi global yang bikin hampir semua barang kebutuhan hidup sehari-hari jadi lebih mahal karena semuanya punya unsur minyak di dalamnya.