Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Serangan terhadap Hamas di Gaza direncanakan pada Maret

  • Israel telah melanggar gencatan senjata, membunuh 442 warga Palestina

  • Kondisi cuaca ekstrem memperparah situasi kemanusiaan di Gaza

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Israel dilaporkan telah menyusun rencana untuk melancarkan serangan baru di Jalur Gaza, meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) hampir memasuki tahap kedua.

Dilansir dari The Times of Israel, pejabat Israel mengatakan serangan tersebut direncanakan berlangsung pada Maret mendatang, dan akan difokuskan di Kota Gaza. Operasi ini bertujuan memperluas wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel.

Namun, seorang diplomat Arab menilai operasi tersebut tidak akan dapat berjalan tanpa dukungan dari AS. Meskipun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelumnya telah menyetujui kerja sama untuk mendorong upaya gencatan senjata, ia disebut tidak yakin langkah tersebut akan berhasil melucuti senjata Hamas. Oleh sebab itu, Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk menyiapkan rencana darurat.

1. Serangan terhadap Hamas kali ini dinilai lebih mudah

Berdasarkan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, pasukan Israel diharuskan mundur ke Garis Kuning, membuat mereka menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza. Adapun operasi terbaru pada Maret akan meningkatkan persentase wilayah yang berada di bawah kendali Israel.

Erez Winner, peneliti di Israel Center for Grand Strategy, mengatakan bahwa serangan terhadap Hamas kini akan lebih mudah dilakukan karena Israel tidak perlu lagi khawatir membahayakan sandera, mengingat semuanya telah dipulangkan, kecuali satu jenazah yang belum ditemukan. Selain itu, Israel juga akan lebih mudah mengevakuasi warga Palestina karena sebagian besar dari mereka saat ini tinggal di tenda-tenda pengungsian.

"(Putaran baru pertempuran di Gaza) akan jauh lebih cepat dan mudah dari apa yang diyakini orang-orang. Ini adalah penyesuaian rencana yang sudah kita miliki dengan situasi saat ini," tuturnya kepada The Wall Street Journal.

2. 442 warga Palestina terbunuh sejak gencatan senjata pada Oktober 2025

Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata, dengan membunuh sedikitnya 442 warga Palestina dalam 3 bulan terakhir. Menurut laporan Al Jazeera pada Minggu (11/1/2026), sedikitnya tiga warga Palestina tewas dan sembilan lainnya terluka akibat serangan Israel di berbagai wilayah Gaza dalam 24 jam terakhir.

Dalam salah satu serangan, sebuah quadcopter Israel membunuh seorang pria Palestina yang sedang dibawa ke rumah sakit di Khan Younis, Gaza selatan.

“Kami menyerukan kepada para mediator dan negara-negara penjamin perjanjian gencatan senjata untuk mengecam pelanggaran serius ini, yang diawasi oleh penjahat perang (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu dengan dalih palsu dan dibuat-buat,” kata Hamas dalam pernyataan pada Jumat (9/1/2026).

3. Kondisi cuaca ekstrem semakin perparah situasi di Gaza

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 71.400 warga Palestina di Jalur Gaza, termasuk 20 ribu anak-anak. Jumlah ini belum termasuk ribuan jenazah yang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Kondisi cuaca ekstrem juga semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan di Gaza. Hujan lebat dan angin kencang menyebabkan tempat-tempat penampungan terendam banjir atau runtuh, menempatkan para pengungsi dalam kondisi yang sangat rentan.

Menurut laporan Shelter Cluster pada Desember, Badai Byron berdampak pada sekitar 65 ribu keluarga di Gaza, dengan lebih dari 1 juta orang membutuhkan bantuan tempat tinggal darurat. Namun, pasukan Israel terus memberlakukan blokade di wilayah tersebut, menutup perlintasan perbatasan dan membatasi masuknya bantuan kemanusiaan.

“Apa yang terjadi bukanlah krisis cuaca, melainkan akibat langsung dari terhambatnya masuk bahan-bahan bangunan dan terganggunya proses rekonstruksi, sehingga orang-orang terpaksa tinggal di tenda-tenda yang robek dan rumah-rumah yang retak tanpa keamanan dan martabat,” kata juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team