Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pengeboman Kota Gaza
pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Intinya sih...

  • Serangan udara Israel menewaskan 11 warga Palestina, termasuk pengungsi dan komandan Jihad Islam.

  • IDF dan Hamas saling tuduh pelanggaran gencatan senjata, sementara korban jiwa terus bertambah sejak Oktober 2023.

  • Lonjakan kekerasan di Gaza terjadi menjelang pertemuan Board of Peace di AS, dengan rencana bantuan finansial masif untuk rekonstruksi Gaza.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Serangan udara militer Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada Minggu pagi (15/2/2026), hingga menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina. Insiden mematikan tersebut menghantam tenda pengungsi di wilayah utara serta permukiman di Khan Younis, bagian selatan Gaza yang terkepung.

Eskalasi kekerasan terbaru terjadi di tengah gencatan senjata rapuh yang telah berjalan sejak Oktober tahun lalu. Gempuran bom ini juga berlangsung hanya beberapa hari sebelum pertemuan perdana Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, digelar di Washington DC.

1. Menewaskan warga sipil dan komandan Jihad Islam

tenda pengungsi Gaza (Hla.bashbash, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Laporan medis dari lapangan mengonfirmasi bahwa pesawat tempur Israel menargetkan sebuah kamp tenda yang menampung keluarga pengungsi di Jabalia, Gaza utara. Serangan brutal di zona padat penduduk tersebut merenggut nyawa sedikitnya empat hingga enam warga sipil yang sedang berlindung.

Di waktu yang hampir bersamaan, gempuran lain menghantam wilayah Khan Younis di selatan Gaza. Otoritas kesehatan setempat melaporkan lima orang tewas dalam insiden terpisah tersebut.

Selain menyasar pengungsi, operasi militer Israel juga menargetkan tokoh kelompok perlawanan di lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza. Sumber keamanan mengonfirmasi kematian Sami al-Dahdouh, seorang komandan lapangan Jihad Islam Palestina (PIJ), dalam serangan itu.

Kelompok Hamas bereaksi keras atas jatuhnya korban jiwa di pihak sipil dan menuduh Israel sengaja merusak upaya damai. Juru bicara mereka menilai tindakan Tel Aviv sebagai upaya memaksakan realitas berdarah di lapangan.

"Israel melakukan pembantaian baru terhadap pengungsi dan ini adalah eskalasi kriminal yang jelas," ujar juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dilansir Al Jazeera.

2. Saling tuduh pelanggaran gencatan senjata

pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim serangan udara mereka bersifat presisi dan sesuai hukum internasional. Pihak militer berdalih operasi tersebut merupakan respons terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas, serta adanya aktivitas militan yang muncul dari terowongan bawah tanah.

Namun, data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan realitas berbeda mengenai efektivitas kesepakatan damai. Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, tercatat lebih dari 570 hingga 600 warga Palestina tewas akibat berbagai insiden keamanan.

Secara akumulatif, total korban jiwa sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 telah mencapai angka yang sangat tinggi. Otoritas kesehatan setempat mencatat lebih dari 71.820 warga Gaza meninggal dunia akibat gempuran udara maupun operasi darat Israel.

Situasi kemanusiaan semakin pelik dengan mundurnya organisasi medis internasional dari fasilitas kesehatan vital. Doctors Without Borders (MSF) terpaksa menghentikan operasi di Rumah Sakit Nasser karena adanya ancaman keamanan akibat kehadiran pria bersenjata di area medis.

3. Bayang-bayang pertemuan Board of Peace

Konferensi Gaza di Mesir pada 13 Oktober 2025 yang dihadiri berbagai pemimpin dunia (President.az, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Lonjakan kekerasan di Gaza terjadi menjelang agenda diplomatik tingkat tinggi di AS. Delegasi dari 20 negara dijadwalkan menghadiri pertemuan perdana Board of Peace pada Kamis (19/2) waktu setempat untuk membahas resolusi konflik jangka panjang.

Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa negara-negara anggota dewan tersebut telah berkomitmen memberikan bantuan finansial masif. Dana sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp84 triliun siap digelontorkan untuk proyek rekonstruksi Gaza yang hancur lebur.

Indonesia, sebagai salah satu anggota Board of Peace, turut mengambil peran strategis dalam fase stabilisasi. Jakarta berencana mengirimkan 8 ribu tentara untuk membantu memfasilitasi fase kedua perjanjian gencatan senjata dan menjaga keamanan di wilayah tersebut.

Meski demikian, Washington tetap memberikan tekanan berat kepada faksi-faksi di Gaza. Trump mendesak Hamas untuk segera melakukan demiliterisasi penuh, sebuah syarat yang selama ini ditolak oleh kelompok perlawanan itu sebelum negara Palestina berdaulat terbentuk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team