Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Israel Klaim Bunuh Komandan Angkatan Laut Iran Alireza Tangsiri
Alireza Tangsiri (Fars Media Corporation, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Israel mengklaim membunuh Komandan Angkatan Laut IRGC Iran, Alireza Tangsiri, lewat serangan udara di Bandar Abbas yang juga menewaskan kepala intelijen angkatan laut Behnam Rezaei.
  • Tangsiri dikenal sebagai veteran perang Iran-Irak dan pengembang teknologi drone serta kapal cepat, yang memimpin blokade Selat Hormuz hingga menurunkan lalu lintas kapal secara drastis.
  • AS menyambut kematian Tangsiri dan menyebut kekuatan laut IRGC melemah setelah 92 persen kapal besar Iran hancur, sementara konflik sejak Februari 2026 telah menewaskan hampir dua ribu orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times- Pemerintah Israel mengklaim telah membunuh komandan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Alireza Tangsiri. Serangan udara tersebut dilaporkan terjadi di kota pelabuhan Bandar Abbas pada Rabu malam (25/3/2026).

Hingga saat ini, pihak Teheran belum memberikan komentar resmi terkait kabar kematian komandannya tersebut. Operasi ini menjadi bagian dari rangkaian serangan besar-besaran Israel terhadap petinggi militer Iran dalam sebulan terakhir.

1. Israel tuding Tangsiri bertanggung jawab atas blokade Selat Hormuz

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa pasukannya telah membunuh Tangsiri dalam sebuah operasi udara presisi. Selain sang komandan, kepala intelijen angkatan laut IRGC bernama Behnam Rezaei juga diklaim tewas dalam serangan yang sama.

Katz menegaskan bahwa Tangsiri adalah orang yang paling bertanggung jawab atas aksi penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute vital distribusi energi dunia.

"Pria yang bertanggung jawab langsung atas operasi teroris pemasangan ranjau dan pemblokiran pelayaran di Selat Hormuz telah diledakkan dan dieliminasi," tutur Katz, dilansir Al Jazeera.

Pemerintah Israel menyatakan tidak akan berhenti untuk memburu para pemimpin militer Iran lainnya.

2. Kontribusi Tangsiri pada angkatan laut Iran

kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran ( Ivan Mlinaric, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Alireza Tangsiri merupakan seorang veteran yang sudah mengabdi sejak perang Iran-Irak pada tahun 1980-an. Ia kemudian ditunjuk secara langsung oleh mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei untuk memimpin angkatan laut pada 2018.

Selama memimpin, Tangsiri dikenal sangat gencar mengembangkan teknologi drone untuk keperluan tempur di laut. Ia juga memopulerkan penggunaan kapal cepat yang sulit dideteksi oleh radar kapal perang modern.

Aksi blokade yang dipimpinnya telah membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok hingga 95 persen dari kondisi normal. Hal ini memicu kekhawatiran global karena 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati jalur tersebut.

Selain strategi militer, Tangsiri juga sering menggunakan media sosial X untuk melontarkan ancaman terkait fasilitas minyak milik Amerika Serikat (AS). Ia sering menegaskan bahwa tidak ada kapal musuh yang diizinkan melintas di wilayah perairan Iran.

3. AS-Israel gempur tokoh dan aset angkatan laut Iran

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Pihak AS menyambut baik kabar tewasnya Tangsiri dan menyebut hal itu akan membuat kawasan menjadi lebih aman. Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa kekuatan angkatan laut IRGC kini mengalami penurunan drastis.

Cooper mengklaim pasukan AS telah berhasil menghancurkan sekitar 92 persen kapal perang berukuran besar milik Iran. Pekan lalu, serangan udara Israel juga telah menyerang sejumlah kapal rudal Iran di wilayah Laut Kaspia.

"Setiap anggota IRGC yang masih bertugas harus meninggalkan posnya dan pulang untuk menghindari risiko cedera atau kematian yang sia-sia," kata Brad Cooper, dilansir France24.

Perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini telah menewaskan hingga mencapai 1.937 orang di Iran. Selain itu, ada sekitar 24.800 warga yang mengalami luka-luka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team