Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jepang Lepas 80 Juta Barel Cadangan Minyak, Dampak Krisis Hormuz
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)
  • Pemerintah Jepang melepas 80 juta barel cadangan minyak strategis untuk menjaga pasokan energi nasional di tengah gangguan jalur Selat Hormuz akibat konflik AS, Israel, dan Iran.
  • Jepang memiliki tiga jenis cadangan minyak—nasional, swasta, dan bersama negara produsen—dengan ketahanan berbeda; langkah ini penting karena ketergantungan impor dari Timur Tengah mencapai lebih dari 90 persen.
  • Pemerintah memprioritaskan stabilitas energi domestik sebelum memberi bantuan ke luar negeri serta memperluas kerja sama dengan produsen minyak sambil menolak keterlibatan militer di kawasan konflik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Jepang mengambil langkah melepas cadangan minyak strategis dalam skala terbesar sepanjang sejarah untuk merespons ancaman terganggunya pasokan global. Tekanan ini muncul akibat tersendatnya jalur Selat Hormuz di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi menyampaikan pelepasan cadangan dimulai pada Kamis (26/3/2026) dengan total sekitar 80 juta barel yang akan dialirkan ke kilang domestik. Volume tersebut setara kebutuhan energi nasional selama 45 hari.

1. Jepang menghadapi kerentanan impor energi dari Timur Tengah

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Ketergantungan Jepang terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah tercatat melampaui 90 persen. Situasi ini membuat negara tersebut sangat rentan terhadap gangguan distribusi, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Pemerintah tetap menjaga subsidi bahan bakar agar harga bensin bertahan di kisaran 170 yen Jepang per liter (sekitar Rp18,1 ribu), setelah sebelumnya sempat mencapai 190,8 yen per liter (sekitar Rp20,3 ribu). Kebijakan ini akan ditinjau secara berkala menyesuaikan pergerakan harga minyak global.

Penjelasan mengenai distribusi cadangan disampaikan oleh Menteri Perdagangan Ryosei Akazawa yang menekankan fokus ke sektor industri dalam negeri.

“Namun, situasinya mungkin agak berbeda untuk cadangan bersama dengan negara-negara penghasil minyak. Kami bermaksud untuk terus memantau perkembangan dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan kasus per kasus,” kata Akazawa, dikutip Financial Post.

2. Jepang mengelola tiga jenis cadangan minyak nasional

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

Jepang mengoperasikan tiga kategori stok minyak yang terdiri dari cadangan nasional, cadangan milik sektor swasta, serta cadangan bersama dengan negara produsen. Porsi cadangan bersama menjadi yang paling kecil dengan daya tahan sekitar delapan hari konsumsi, sementara cadangan nasional mencapai 144 hari dan sektor swasta 99 hari.

Dilansir Nation Thailand, sejumlah negara di Asia Tenggara mulai merasakan dampak keterbatasan pasokan energi. Filipina menetapkan status darurat energi nasional karena stok bahan bakar hanya cukup sekitar 45 hari, sedangkan Vietnam mengalami kelangkaan yang membuat beberapa stasiun pengisian bahan bakar menghentikan layanan.

Permintaan bantuan energi pun diarahkan ke Tokyo, termasuk melalui jalur komunikasi resmi dari pemerintah Vietnam. Jepang berada dalam posisi dilematis antara menjaga kebutuhan dalam negeri dan merespons tekanan dari kawasan.

3. Pemerintah Jepang memprioritaskan stabilitas energi domestik

ilustrasi bendera Jepang (unsplah.com/Colton Jones)

Pemerintah Jepang menegaskan bahwa kestabilan pasokan energi di dalam negeri menjadi prioritas sebelum mempertimbangkan bantuan ke negara lain. Keputusan penyaluran bantuan akan ditentukan berdasarkan tingkat kebutuhan mendesak serta ketersediaan alternatif pasokan.

Jepang juga memperluas kerja sama energi dengan negara produsen melalui skema penyimpanan bersama. Dalam mekanisme tersebut, minyak milik negara produsen disimpan di Jepang sehingga dapat diakses lebih cepat saat kondisi darurat.

Perusahaan energi seperti Inpex Corp. berupaya mengalihkan sumber pasokan dari Asia Tengah guna memenuhi kebutuhan domestik. Setelah pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump pada 19 Maret 2026, Takaichi menyatakan peluang peningkatan impor minyak dari AS terbuka, termasuk opsi pembentukan cadangan minyak AS di wilayah Jepang.

Di sisi lain, Jepang menolak permintaan pengiriman pasukan ke kawasan konflik. Pemerintah menilai langkah tersebut bertentangan dengan konstitusi pascaperang sekaligus menegaskan pendekatan diplomatik tetap diutamakan untuk menjaga stabilitas Timur Tengah.

Kekhawatiran publik di dalam negeri sempat meningkat hingga memicu potensi pembelian berlebihan barang kebutuhan seperti tisu toilet. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan.

Sebagian besar pasokan tisu toilet di Jepang berasal dari produksi domestik berbasis bahan daur ulang.

“Harap beli hanya jumlah biasa yang dibutuhkan,” kata Kepala asosiasi Morio Ishizuka, dikutip The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team