Ketegangan diplomatik antara Jepang dan Selandia Baru mencapai titik krusial. Kedutaan Besar Jepang di Wellington memperingatkan bahwa pemasangan patung perunggu yang menggambarkan comfort women di Barrys Point Reserve, Takapuna, dapat memberikan dampak buruk yang signifikan terhadap hubungan kerja sama ekonomi, sosial, dan politik kedua negara.
Pihak kedutaan secara tegas menyoroti potensi rusaknya hubungan sister city. Mereka merujuk pada peristiwa pahit ketika kota Osaka di Jepang secara sepihak memutuskan hubungan persaudaraan dengan San Francisco sebagai reaksi atas pendirian monumen serupa. Langkah itu dinilai sangat mungkin terulang jika aspirasi komunitas tertentu di Auckland tetap dipaksakan di ruang publik yang seharusnya netral.
"Pemasangan patung itu bisa berdampak besar, tidak hanya pada hubungan antarwarga, sektor swasta, dan pemerintah daerah di kedua negara, tetapi juga pada hubungan diplomatik antara Jepang dan Selandia Baru," kata Duta Besar Jepang untuk Selandia Baru, Makoto Osawa, dalam pernyataan resminya, dilansir The New Zealand Herald.
Penolakan keras ini juga didasari oleh kekhawatiran bahwa keberadaan monumen itu akan menciptakan perpecahan sosial yang tajam di dalam masyarakat multikultural Selandia Baru, terutama antara warga keturunan Jepang dan Korea yang tinggal berdampingan di wilayah Auckland Utara.
Jepang bahkan menyatakan bahwa penggunaan dana pemerintah Selandia Baru sebesar 75 ribu dolar Selandia Baru (Rp750,37 juta) dari Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (MFAT) pada tahun 2015 untuk pengembangan taman tersebut dapat disalahartikan. Dana itu bisa dianggap sebagai bentuk dukungan politik resmi negara terhadap narasi sejarah yang dinilai sepihak oleh Tokyo.
"Patung ini justru membawa perpecahan dan konflik ke dalam komunitas di negara-negara lain, bukannya mendorong perdamaian antara rakyat Jepang dan rakyat Korea," kata juru bicara resmi dari Kedutaan Besar Jepang.