Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Eks PM Selandia Baru Ikut Exodus Kiwi ke Australia, Kenapa?

Eks PM Selandia Baru Ikut Exodus Kiwi ke Australia, Kenapa?
Potret PM Selandia Baru, Jacinda Ardern (Instagram.com/Jacinda Ardern)
Intinya Sih
  • Jacinda Ardern, mantan PM Selandia Baru, resmi pindah ke Australia bersama keluarganya dan menjadi figur paling terkenal dalam gelombang “exodus kiwi” yang meningkat sejak 2025.
  • Lebih dari 60.000 warga Selandia Baru meninggalkan negaranya menuju Australia demi upah lebih tinggi dan kualitas hidup lebih baik, menimbulkan tekanan bagi pemerintah Wellington.
  • Setelah mundur pada 2023, Ardern fokus pada kegiatan akademik di Harvard dan proyek global sebelum memulai babak baru kehidupannya di Australia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Mantan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Australia. Kepindahan ini menjadikannya figur paling terkenal dalam gelombang hijrah warga Selandia Baru dalam beberapa waktu terakhir ke negeri seberang Laut Tasman tersebut.

Setelah menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri sejak mengundurkan diri pada 2023, Ardern kini berencana menjadikan Australia sebagai basis tempat tinggal bersama keluarganya. Hal itu dikonfirmasi oleh juru bicara dalam pernyataan pada Kamis (26/2/2026).

Media Australia sebelumnya melaporkan, Ardern (45) bersama suaminya Clarke Gayford, dan putri mereka Neve terlihat mencari rumah di kawasan Northern Beaches, Sydney.

“Mereka memiliki pekerjaan di sana, dan hal itu memberikan keuntungan tambahan berupa lebih banyak waktu untuk pulang ke Selandia Baru,” ujar juru bicara tersebut, dilansir Straits Times.

1. Apa itu Exodus Kiwi?

PM Selandia Baru, Jacinda Ardern (instagram.com/jacindaardern)
PM Selandia Baru, Jacinda Ardern (instagram.com/jacindaardern)

Ardern menjadi bagian dari puluhan ribu warga Selandia Baru yang pindah ke Australia, yang disebut dengan ‘exodus kiwi’, dalam beberapa bulan terakhir. Data resmi yang dirilis awal Februari menunjukkan lebih dari 60.000 warga Selandia Baru meninggalkan negaranya pada 2025.

Sebanyak 61 persen dari mereka diketahui menuju Australia. Perpindahan massal ini menjadi sorotan menjelang pemilihan umum Selandia Baru pada November mendatang.

Banyak warga disebut pindah untuk mencari upah yang lebih tinggi dan standar hidup yang lebih baik. Situasi ini meningkatkan tekanan terhadap para pembuat kebijakan di Wellington agar membuat Selandia Baru lebih kompetitif dan menarik.

Kepindahan Ardern, sebagai mantan kepala pemerintahan, otomatis menarik perhatian lebih besar dalam konteks arus migrasi tersebut.

2. Sempat menghabiskan waktu di Amerika Serikat

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. (Instagram.com/jacindaardern)
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. (Instagram.com/jacindaardern)

Sejak pengunduran dirinya yang mengejutkan pada 2023, Ardern menghabiskan sebagian besar waktunya di Amerika Serikat. Ia menerima dua posisi fellowship di Harvard Kennedy School.

Selain itu, ia juga bergabung dalam dewan Earthshot Prize yang digagas Pangeran William. Pada 2025, ia merilis memoarnya berjudul A Different Kind of Power.

Ardern pertama kali naik ke kursi kekuasaan pada 2017 dalam gelombang dukungan yang dijuluki ‘Jacinda-mania’. Popularitas itu kembali terlihat pada 2020 ketika ia memimpin Partai Buruh meraih 50 persen suara pada puncak pandemi Covid-19, kemenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sistem pemilu yang berlaku saat ini.

Pada 2018, ia menjadi pemimpin dunia kedua yang melahirkan saat menjabat, setelah mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto.

3. Kepemimpinan Ardern: Dipuji dan diperdebatkan

PM Selandia Baru Jacinda Ardern (instagram.com/jacindaardern)
PM Selandia Baru Jacinda Ardern (instagram.com/jacindaardern)

Citra kepemimpinan Ardern mendapat sorotan global setelah serangan ekstremis di dua masjid di Christchurch pada Maret 2019 yang menewaskan 51 orang dan melukai puluhan lainnya. Gambar dirinya mengenakan kerudung saat berduka bersama keluarga korban tersebar luas dan membantu meredakan kemarahan di negara-negara Muslim.

Namun, di dalam negeri, gaya kepemimpinannya juga memicu perdebatan. Sejumlah kebijakan pemerintahannya terkait vaksinasi dan penguncian wilayah selama pandemi Covid-19 menuai kritik dari sebagian warga.

Tekanan biaya hidup yang meningkat selama masa jabatan keduanya juga berkontribusi pada menurunnya popularitasnya di kalangan tertentu.

Saat mengumumkan pengunduran dirinya dari politik pada 2023, Ardern mengatakan, keputusan itu diambil karena ia tidak lagi memiliki energi dan inspirasi untuk mencalonkan diri kembali.

“Saya telah memberikan seluruh kemampuan saya untuk menjadi perdana menteri, tetapi jabatan itu juga menguras banyak hal dari diri saya,” katanya saat itu.

“Saya tahu apa yang dituntut oleh pekerjaan ini, dan saya tahu bahwa saya tidak lagi memiliki cukup energi untuk melaksanakannya dengan baik. Sesederhana itu,” imbuh dia.

Dengan kepindahannya ke Australia, Ardern memulai babak baru kehidupannya, di saat negaranya tengah menghadapi perdebatan besar mengenai masa depan ekonomi dan daya saing nasional.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More