Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Campak di Jepang Tembus 360, Taiwan Keluarkan Travel Alert
Ilustrasi virus. (pexels.com/CDC)
  • Kasus campak di Jepang melonjak hingga 362 per April 2026, tertinggi sejak 2020, dengan mayoritas penularan kini terjadi di dalam negeri dan banyak pasien belum divaksinasi lengkap.
  • Otoritas kesehatan Jepang menyerukan vaksinasi dua dosis bagi anak-anak dan verifikasi imunisasi bagi orang dewasa untuk mencegah penyebaran, terutama melindungi bayi serta kelompok rentan.
  • Taiwan mencatat kasus impor campak pertama dari Jepang sejak 2019, menaikkan travel alert ke Level 1 (Waspada), sambil memantau ratusan kontak dan mengimbau kewaspadaan wisatawan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Institut Keamanan Kesehatan Jepang (JIHS) melaporkan lonjakan tajam kasus campak yang mencapai 362 kasus per 19 April 2026. Angka tersebut telah melampaui total tahun lalu yang tercatat 265 kasus dan menunjukkan peningkatan infeksi tercepat sejak 2020, dengan 57 kasus baru dilaporkan dalam satu pekan terakhir, dilansir Yomiuri Shimbun.

Sebelumnya, penyakit campak telah dinyatakan hilang di Jepang. Oleh karena itu, diduga tren saat ini dipicu oleh virus yang dibawa dari luar negeri, dengan 70 persen penularan kini terjadi di dalam negeri.

Campak merupakan penyakit virus yang sangat menular, menyebar melalui udara, percikan droplet, dan kontak fisik. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan ruam. Penyakit ini juga dapat berujung fatal dalam kasus berat.

1. Otoritas kesehatan Jepang serukan vaksinasi

Ilustrasi vaksinasi. (unsplash.com/Ed Us)

Wilayah metropolitan Tokyo mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 153 pasien, diikuti Kanagawa dengan 36 pasien, Kagoshima dengan 34 pasien, dan Chiba dengan 24 pasien. Menurut JIHS, sekitar 71 persen kasus tahun ini terjadi pada individu yang belum divaksinasi lengkap, hanya menerima satu dosis, atau tidak diketahui status vaksinasinya.

Okabe Nobuhiko dari Institut Kesehatan Masyarakat Kota Kawasaki menegaskan pentingnya vaksinasi. Sebab, vaksin dapat mencegah infeksi, mengurangi gejala pada mereka yang terinfeksi, dan mengurangi risiko penyebaran penyakit.

"Anak-anak wajib menerima dua dosis vaksin, pada usia satu tahun dan sebelum masuk sekolah dasar. Orang dewasa juga harus segera memverifikasi status imunisasi mereka untuk melindungi kelompok rentan, seperti bayi yang belum divaksinasi," ujarnya pada Selasa (28/4/2026), dikutip dari NHK News.

Nobuhiko menambahkan bahwa bayi dan anak kecil yang belum divaksinasi, dapat mengalami komplikasi atau menderita efek samping jika terinfeksi.

2. Taiwan keluarkan peringatan perjalanan ke Jepang ke tingkat waspada

Potret maskapai All Nippon Airways (ANA) di Bandara Internasional Haneda di Tokyo, Jepang (unsplash.com/Ryuno)

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Taiwan pada 28 April 2026 melaporkan kasus campak impor pertama dari Jepang dalam tujuh tahun terakhir. Pihaknya juga menaikkan travel alert atau peringatan perjalanan ke Jepang, ke Level 1 (Waspada).

"Kasus ini melibatkan laki-laki berusia 30-an dari Taiwan tengah, yang mengunjungi Nagoya pada April. Ia mengalami demam dan batuk setelah kembali, sebelum akhirnya didiagnosis campak setelah ruam muncul pada 20 April," kata Lin Yung-ching, ahli epidemiologi CDC dalam konferensi pers, dikutip dari Focus Taiwan.

Otoritas kesehatan telah melacak 274 kontak yang akan dipantau hingga 12 Mei 2026. Kasus impor terakhir dari Jepang sebelumnya tercatat pada 2019. Meski aktivitas campak di Jepang meningkat, CDC menyebut wabah masih terbatas pada kasus sporadis dan klaster kecil tanpa penyebaran komunitas skala besar.

3. Ada 9 kasus campak tercatat di Taiwan sepanjang tahun ini

Panorama kota Taipei, Taiwan. (Unsplash.com/Lisanto 李奕良)

Taiwan mencatat 9 kasus campak sepanjang tahun ini, termasuk 2 penularan lokal dan 7 kasus impor dari beberapa negara. CDC mengimbau wisatawan internasional untuk tetap waspada, mengingat wabah campak yang masih fluktuatif di berbagai belahan dunia. Saat ini, Taiwan masih memiliki stok sekitar 150 ribu dosis vaksin MMR mandiri.

Berdasarkan penilaian risiko global, CDC Taiwan menetapkan klasifikasi peringatan, yakni:

Peringatan Level 2 (Siaga)

Pada tingkat ini, pengawasan menyarankan tindakan pencegahan ekstra. Ditujukan untuk sejumlah negara, seperti Indonesia, Vietnam, India, Bangladesh, Guatemala, dan Meksiko.

Peringatan Level 1 (Waspada)

Tingkat ini merekomendasikan tindakan pencegahan standar. Ditujukan untuk Jepang, Malaysia, Amerika Serikat, dan Inggris.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team