Kapal barang yang melintas di Sungai Parana. (instagram.com/rosarioarg_)
Di samping terjadinya kebakaran di kawasan Delta Sungai Parana, beberapa bulan belakangan ini sungai terpanjang kedua di Amerika Selatan itu mengalami penurunan level permukaan air terendah sejak tahun 1944. Padahal sungai itu menjadi kunci utama transportasi komersial dan perikanan serta sumber utama air minum bagi 40 juta penduduk di Argentina, Brasil dan Paraguay.
Kekeringan di Brasil disebut berdampak pada ketinggian permukaan air sungai ini dan dikhawatirkan akan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati endemik di Sungai Parana. Bahkan fenomena ini sudah mengakibatkan turunnya produksi energi hidroelektrik di Argentina dan Paraguay hingga 50 persen.
Sungai sepanjang 4.880 km itu mengalir dari wilayah selatan hingga tenggara Brasil dan berlanjut ke Paraguay, Argentina hingga bermuara di Rio de la Plata, Uruguay. Namun kekeringan telah membuat rerata debit di Sungai Parana turun dari 17.000 meter kubik per detik menjadi hanya 6.200 meter kubik per detik.
Sementara pihak aktivis lingkungan menyebut fenomena kekeringan di Amerika Seleatan kali ini semakin memburuk akibat adanya deforestasi dan perubahan iklim global, dilaporkan dari laman BBC.